askep hipospadia

Posted: Juni 2, 2011 in Keperawatan Anak

 

BAB I

KONSEP DASAR

HIPOSPADIA

 

 

A.      PENGERTIAN

1. Hipospadia adalah suatu kelainan bawaan congenital dimana meatus uretra externa terletak di permukaan ventral penis dan lebih ke proksimal dari tempatnya yang normal (ujung glans penis). (Arif Mansjoer, 2000 : 374).

2. Hipospadia adalah suatu keadaan dimana terjadi hambatan penutupan uretra penis pada kehamilan miggu ke 10 sampai ke 14 yang mengakibatkan orifisium uretra tertinggal disuatu tempat dibagian ventral penis antara skrotum dan glans penis. (A.H Markum, 1991 : 257).

3. Hipospadia adalah suatu kelainan bawaan berupa lubang uretra yang terletak di bagian bawah dekat pangkal penis. (Ngastiyah, 2005 : 288).

4. Hipospadia adalah keadaan dimana uretra bermuara pada suatu tempat lain pada bagian belakang batang penis atau bahkan pada perineum ( daerah antara kemaluan dan anus ). (Davis Hull, 1994 )

5.  Hipospadia adalah salah satu kelainan bawaan pada anak-anak yang sering ditemukan dan mudah untuk mendiagnosanya, hanya pengelolaannya harus dilakukan oleh mereka yang betul-betul ahli supaya mendapatkan hasil yang memuaskan.  (http://photos1.blogger.com/blogger/4603/1833/1600/op.jpg).

 

 

 

 

B. ETIOLOGI

  1. Embriologi.
  2. Maskulinisasi inkomplit dari genetalia karena involusi yang prematur dari sel intersitisial testis.

 

C. KLASIFIKASI

Hipospadia dibagi menjadi beberapa tipe menurut letak orifisium uretra eksternum yaitu :

  1. Tipe sederhana adalah tipe grandular, disini meatus terletak pada  pangkal glands penis. Pada kelainan ini secara klinis umumnya bersifat asimtomatik.
  2. Tipe penil, meatus terletak antara glands penis dan skortum.
  3. Tipe penoskrotal dan tipe perineal, kelainan cukup besar, umumnya pertumbuhan penis akan terganggu.

 

  1. D.     MANIFESTASI KLINIS
    1. Pancaran air kencing pada saat BAK tidak lurus, biasanya kebawah, menyebar, mengalir melalui batang penis, sehingga anak akan jongkok pada saat BAK.
    2.  Pada Hipospadia grandular/ koronal anak dapat BAK dengan berdiri dengan mengangkat penis keatas.
    3.  Pada Hipospadia peniscrotal/ perineal anak berkemih dengan jongkok.
    4.  Penis akan melengkung kebawah pada saat ereksi.

 

E.  PATOFISIOLOGI

Fusi dari garis tengah dari lipatan uretra tidak lengkap terjadi sehingga meatus uretra terbuka pada sisi ventral dari penis. Ada berbagai derajat kelainan letak meatus ini, dari yang ringan yaitu sedikit pergeseran pada glans, kemudian disepanjang batang penis, hingga akhirnya di perineum. Prepusium tidak ada pada sisi ventral dan menyerupai topi yang menutup sisi dorsal dari glans. Pita jaringan fibrosa yang dikenal sebagai chordee, pada sisi ventral menyebabkan kurvatura (lengkungan) ventral dari penis.

 

 

F.  PATHWAY

Maskulinasi inkomplit                                    Embriologi

dari genetalia

 

 

 

 

Fusi digaris tengah uretra tidak lengkap

 

Meatus uretra terbuka

 

 

 

Cemas

Managemen regimen terapeutik tidak efektif

Lubang Keluar di bagian              Operasi

Perubahan eliminasi urin (Retensi urin)

Kesiapan dalam penigkatan manajemen regien terapeutik

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

( Sumber : Price Sylvia Anderson; 1995, NANDA; 2005-2006 )

G. DERAJAT KEPARAHAN

  1.  Ditentukan oleh satu posisi meatus uretra : glands, korona, batang penis sambungan dari batang penis dan skrotum dan perineum.
  2.  Lokasinya.
  3.  Derajat chordee.

 

H. KOMPLIKASI

  1. Pseudohermatroditisme (keadaan yang ditandai dengan alat-alat kelamin dalam 1 jenis kelamin tetapi dengan satu beberapa ciri sexsual tertentu )
  2. Psikis ( malu ) karena perubahan posisi BAK.
  3. Kesukaran saat berhubungan sexsual, bila tidak segera dioperasi saat dewasa.

Komplikasi paska operasi yang terjadi :

  1. Edema / pembengkakan yang terjadi akibat reaksi jaringan besarnya dapat bervariasi, juga terbentuknya hematom / kumpulan darah dibawah kulit, yang biasanya dicegah dengan balut tekan selama 2 sampai 3 hari paska operasi.
  2. Striktur, pada proksimal anastomosis yang kemungkinan disebabkan oleh angulasi dari anastomosis.
  3. Rambut dalam uretra, yang dapat mengakibatkan infeksi saluran kencing berulang atau pembentukan batu saat pubertas.
  4. Fitula uretrokutan, merupakan komplikasi yang sering dan digunakan sebagai parameter untuyk menilai keberhasilan operasi. Pada prosedur satu tahap saat ini angka kejadian yang dapat diterima adalah 5-10 %.
  5. Residual chordee/rekuren chordee, akibat dari rilis korde yang tidak sempurna, dimana tidak melakukan ereksi artifisial saat operasi atau pembentukan skar yang berlebihan di ventral penis walaupun sangat jarang.
  6. Divertikulum, terjadi pada pembentukan neouretra yang terlalu lebar, atau adanya stenosis meatal yang mengakibatkan dilatasi yang lanjut.

I. PEMERIKSAAN PENUNJANG

  1. Rontgen
  2. USG sistem kemih kelamin.
  3. BNO-IVP

Karena biasanya pada hipospadia juga disertai dengan kelainan

kongenital ginjal.

 

J. PENATALAKSANAAN

  1. Tujuan utama dari penatalaksanaan bedah hipospadia adalah merekomendasikan penis menjadi lurus dengan meatus uretra ditempat yang normal atau dekat normal sehingga aliran kencing arahnya ke depan dan dapat melakukan coitus dengan normal.
  2. Operasi harus dilakukan sejak dini, dan sebelum operasi dilakukan bayi atau anak tidak boleh disirkumsisi karena kulit depan penis digunakan untuk pembedahan nanti.
  3. Dikenal banyak teknik operasi hipospadia yang umumnya terdiri dari beberapa tahap yaitu :
    1. a.      Operasi Hipospadia satu tahap ( ONE STAGE URETHROPLASTY )

“Adalah tekhnik operasi sederhana yang sering digunakan, terutama untuk hipospadia tipe distal. Tipe distal ini meatusnya letak anterior atau yang middle. Meskipun sering hasilnya kurang begitu bagus untuk kelainan yang berat. Sehingga banyak dokter lebih memilih untuk melakukan 2 tahap. Untuk tipe hipospadia proksimal yang disertai dengan kelainan yang jauh lebih berat, maka one stage urethroplasty nyaris dapat dilakukan. Tipe hipospadia proksimal seringkali di ikuti dengan kelainan-kelainan yang berat seperti korda yang berat, globuler glans yan bengkok kearah ventral ( bawah ) dengan dorsal; skin hood dan propenil bifid scrotum. Intinya tipe hipospadia yang letak lubang air seninya lebih kearah proksimal ( jauh dari tempat semestinya ) biasanya diikuti dengan penis yang bengkok dan kelainan lain di scrotum atau sisa kulit yang sulit di tarik pada saat dilakukan operasi pembuatan uretra ( saluran kencing ). Kelainan yang seperti ini biasanya harus dilakukan 2 tahap.

 

 

  1. b.      Operasi Hipospadia 2 tahap

“Tahap pertama operasi pelepasan chordee dan tunelling dilakukan untuk meluruskan penis supaya posisi meatus ( lubang tempat keluar kencing ) nantinya letaknya lebih proksimal ( lebih mendekati letak yang normal ), memobilisasi kulit dan preputium untuk menutup bagian ventral/bawah penis. Tahap selanjutnya ( tahap kedua ) dilakukan uretroplasty ( pembuatan saluran kencing buatan/uretra ) sesudah 6 bulan. Dokter akan menentukan tekhnik operasi yang terbaik. Satu tahap maupun dua tahap dapat dilakukan sesuai dengan kelainan yang dialami oleh pasien.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK

HIPOSPADIA

 

  1. A.    PENGKAJIAN
    1. Kaji biodata pasien
    2. Kaji riwayat masa lalu: Antenatal, natal,
    3. Kaji riwayat pengobatan ibu waktu hamil
    4. Kaji keluhan utama
    5. Kaji skala nyeri (post operasi)

 

  1. B.     PEMERIKSAAN FISIK
    1. Inspeksi kelainan letak meatus uretra
    2. Palpasi adanya distensi kandung kemih.

 

  1. C.    DIAGNOSA KEPERAWATAN

Pasien pre operasi

  1. Manajemen regimen terapeutik tidak efektif berhubungan dengan pola perawatan keluarga.
  2. Perubahan eliminasi (retensi urin) berhubungan dengan obstruksi mekanik
  3. Kecemasan berhubungan dengan akan dilakukan tindakan operasi baik keluarga dan klien.

 

Pasien post operasi

  1. Kesiapan dalam peningkatan manajemen regimen terapeutik berhubungan dengan petunjuk aktivitas adekuat.
  2. Nyeri berhubungan dengan post prosedur operasi
  3. Resiko tingggi infeksi berhubungan dengan invasi kateter
  4. Perubahan eliminasi urine berhibingan dengan trauma operasi

 

  1. D.    INTERVENSI

Diagnosa pre operasi

1. Diagnosa : Manajemen regimen terapeutik tidak efektif berhubungan dengan pola perawatan keluarga.

Tujuan  : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam diharapkan manajemen regimen terapeutik kembali efektif.

NOC   : Family health status

Indikator         :

  1. Status imunisasi anggota kelurga
  2. Kesehatan fisik anggota keluarga
  3. Asupan makanan yang adekuat
  4. Tidak adanya kekerasan anggota kelurga
  5. Penggunaan perawatan kesehatan

 

Keterangan skala :

1 = Tidak pernah dilakukan

2 = Jarang dilakukan

3 = Kadang dilakukan

4 = Sering dilakukan

5 = Selalu dilakukan

 

NIC    : Family mobilization

Intervensi        :

  1. Jadilah pendengar yang baik untuk anggota keluarga
  2. Diskusikan kekuatan kelurga sebagai pendukung
  3. Kaji pengaruh budaya keluarga
  4. Monitor situasi kelurga
  5. Ajarkan perawatan di rumah tentang terapi pasien
  6. Kaji efek kebiasaan pasien untuk keluarga
  7. Dukung kelurga dalam merencanakan dan melakukan terapi pasien dan perubahan gaya hidup
  8. Identifikasi perlindungan yang dapat digunakan kelurga dalam menjaga status kesehatan.

2. Diagnosa : Perubahan eliminasi (retensi urin) berhubungan dengan        obstruksi mekanik

Tujuan   : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam diharapkan retensi urin berkurang.

NOC   : Pengawasan urin

Indikator         :

  1. Mengatakan keinginan untuk BAK
  2. Menentukan pola BAK
  3. Mengatakan dapat BAK dengan teratur
  4. Waktu yang adekuat antara keinginan BAK dan mengeluarkan BAK ke toilet
  5. Bebas dari kebocoran urin sebelum BAK
  6. Mampu memulai dan mengakhiri aliran BAK
  7. Mengesankan kandung kemih secara komplet

 

Keterangan skala :

1 = Tidak pernah menunjukan

2 = Jarang menunjukan

3 = Kadang menunjukan

4 = Sering menunjukan

5 = Selalu menunjukan

 

NIC    : Perawatan retensi urin

Intervensi        :

  1. Melakukan pencapaian secara komperhensif jalan urin berfokus kepada inkontinensia (ex: urin output, keinginan BAK yang paten, fungsi kognitif dan masalah urin)
  2. Menjaga privasi untuk eliminasi
  3. Menggunakan kekuatan dari keinginan untuk BAK di toilet
  4. Menyediakan waktu yang cukup untuk mengosongkan blader (10 menit)
  5. Menyediakan perlak di kasur
  6. Menggunakan manuver crede, jika dibutuhkan
  7. Menganjurkan untuk mencegah konstipasi
  8. Monitor intake dan output
  9. Monitor distensi kandung kemih dengan papilasi dan perkusi
  10. Berikan waktu berkemih dengan interval reguler, jika diperlukan.

 

3. Diagnosa : Kecemasan berhubungan dengan akan dilakukan tindakan operasi baik keluarga dan klien.

Tujuan   : Setelah dilakukan tindkan keperawatan selama 3×24 jam diharapkan kecemasan pasien berkurang.

NOC   : Kontrol ansietas

Indikator         :

  1. Tingkat kecemasan di batas normal
  2. Mengetahui penyebab cemas
  3. Mengetahui stimulus yang menyebabkan cemas
  4. Informasi untuk mengurangi kecemasan
  5. Strategi koping untuk situasi penuh stress
  6. Hubungan sosial
  7. Tidur adekuat
  8. Respon cemas

 

Keterangan skala :

1 = Tidak pernah menunjukan

2 = Jarang menunjukan

3 = Kadang menunjukan

4 = Sering menunjukan

5 = Selalu menunjukan

 

 

 

NIC    : Pengurangan cemas

Intervensi        :

  1. Ciptakan suasana yang tenang
  2. Sediakan informasi dengan memperhatikan diagnosa, tindakan dan prognosa, dampingi pasien untuk meciptakan suasana aman dan mengurangi ketakutan
  3. Dengarkan dengan penuh perhatian
  4. Kuatkan kebiasaan yang mendukung
  5. Ciptakan hubungan saling percaya
  6. Identifikasi perubahan tingkatan kecemasan
  7. Bantu pasien mengidentifikasi situasi yang menimbulkan kecemasan.

 

Diagnosa post operasi

1.  Diagnosa : Kesiapan dalam peningkatan manajemen regimen terapeutik berhubungan dengan petunjuk aktivitas adekuat.

Tujuan   : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam diharapkan kesiapan peningkatan regimen terapeutik baik.

NOC   : Family participation in profesioal care

Indikator         :

  1. Ikut serta dalam perencanaan perawatan
  2. Ikut serta dalam menyediakan perawatan
  3. Menyediakan informasi yang relefan
  4. Kolaborasi dalam melakukan latihan
  5. Evaluasi keefektifan perawatan

 

Keterangan skala :

1 = Tidak pernah menunjukan

2 = Jarang menunjukan

3 = Kadang menunjukan

4 = Sering menunjukan

5 = Selalu menunjukan

 

NIC    : Family process maintenance

Intervensi        :

  1. Anjurkan kunjungan anggota keluarga jika perlu
  2. Bantu keluarga dalam melakukan strategi menormalkan situasi
  3. Bantu keluarga menemukan perawatan anak yang tepat
  4. Identifikasi kebutuhan perawatan pasien di rumah dan bagaimana pengaruh pada keluarga
  5. Buat jadwal aktivitas perawatan pasien di rumah sesuai kondisi
  6. Ajarkan keluarga untuk menjaga dan selalu menngawsi perkembangan status kesehatan keluarga.

 

2.   Diagnosa : Nyeri akut berhubungan dengan post prosedur operasi

Tujuan  : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam diharapkan nyeri berkurang.

NOC 1            : Level nyeri

Indikator         :

  1. Melaporkan nyeri (frekuensi & lama)
  2. Perubahan vital sign dalam batas normal
  3. Memposisikan tubuh untuk melindungi nyeri

 

NOC 2            : Tingkat kenyamanan

Indikator         :

  1. Melaporkan kondisi fisik yang nyeman
  2. Menunjukan ekspresi puas terhadap manajemen nyeri

 

NOC 3            : Kontrol nyeri

Indikator         :

  1. Mengungkap faktor pencetus nyeri
  2. Menggunakan tetapi non farmakologi
  3. Dapat menggunakan berbagai sumber untuk mengontrol nyeri
  4. Melaporkan nyeri terkontrol

 

Keterangan skala :

1 = Tidak pernah menunjukan

2 = Jarang menunjukan

3 = Kadang menunjukan

4 = Sering menunjukan

5 = Selalu menunjukan

 

NIC 1 : Manajemen nyeri

Intervensi        :

  1. Kaji secara komperhensif mengenai lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas, dan faktor pencetus nyeri
  2. Observasi keluhan nonverbal dari ketidaknyamanan
  3. Ajarkan teknik nonfarmakologi (ralaksasi)
  4. Bantu pasien & keluarga untuk mengontrol nyeri
  5. Beri informasi tentang nyeri (penyebab, durasi, prosedur antisipasi nyeri)

 

NIC 2 : Monitor tanda vital

Intervensi        :

  1. Monitor TD, RR, nadi, suhu pasien
  2. Monitor keabnormalan pola napas pasien
  3. Identifikasi kemungkinan perubahan TTV
  4. Monitor toleransi aktivitas pasien
  5. Anjurkan untuk menurunkan stress dan banyak istirahat

 

 

 

NIC 3 : Manajemen lingkungan

Intervensi        :

  1. Cegah tindakan yang tidak dibutuhkan
  2. Posisikan pasien dalam posisi yang nyaman

 

3.   Diagnosa : Resiko tingggi infeksi berhubungan dengan invasi kateter

Tujuan  : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam diharapkan tidak terjadi infeksi.

NOC 1            : Deteksi resiko

Indikator         :

  1. Mengidentifikasi faktor yang dapat menimbulkan resiko
  2. Menjelaskan kembali tanda & gejala yang mengidentifikasi faktor resiko
  3. Menggunakan sumber & pelayanan kesehatan untuk mendapat sumber informasi

 

NOC 2            : Kontrol resiko

Indikator         :

  1. Membenarkan faktor resiko
  2. Memonitor faktor resiko dari lingkungan
  3. Memonitor perilaku yang dapat meningkatkan faktor resiko
  4. Memonitor & mengungkapkan status kesehatan

 

NOC 3            : Status imun

Indikator         :

  1. Tidak menunjukan infeksi berulang
  2. Suhu tubuh dalam batas normal
  3. Sel darah putih tidak meningkat

 

 

 

Keterangan skala :

1 = Tidak pernah menunjukan

2 = Jarang menunjukan

3 = Kadang menunjukan

4 = Sering menunjukan

5 = Selalu menunjukan

 

NIC 1 : Kontrol infeksi

Intervensi        :

  1. Ajarkan pasien & kelurga cara mencucitangan yang benar
  2. Ajarkan pada pasien & keluarga tanda gejala infeksi & kapan harus melaporkan kepada petugas
  3. Batasi pengunjung
  4. Bersihkan lingkungan dengan benar setelah digunakan pasien

 

NIC 2 : Perawatan luka

Intervensi        :

  1. Catat karakteristik luka, drainase
  2. Bersihkan luka dan ganti balutan dengan teknik steril
  3. Cuci tangan dengan benar sebelum dan sesudah tindakan
  4. Ajarkan pada pasien dan kelurga cara prosedur perawatan luka

 

NIC 3 : Perlindungan infeksi

Intervensi        :

  1. Monitor peningkatan granulossi, sel darah putih
  2. Kaji faktor yang dapat meningkatkan infeksi.

 

4.  Diagnosa : Perubahan eliminasi urine (retensi urin) berhubungan dengan trauma operasi

Tujuan  : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam diharapkan retensi urin berkurang.

 

NOC   : Pengawasan urin

Indikator         :

  1. Mengatakan keinginan untuk BAK
  2. Menentukan pola BAK
  3. Mengatakan dapat BAK dengan teratur
  4. Waktu yang adekuat antara keinginan BAK dan mengeluarkan BAK ke toilet
  5. Bebas dari kebocoran urin sebelum BAK
  6. Mampu memulai dan mengakhiri aliran BAK
  7. Mengosongkan kandung kemih secara komplet

 

Keterangan skala :

1 = Tidak pernah menunjukan

2 = Jarang menunjukan

3 = Kadang menunjukan

4 = Sering menunjukan

5 = Selalu menunjukan

 

NIC    : Perawatan retensi urin

Intervensi        :

  1. Melakukan pencapaian secara komperhensif jalan urin berfokus kepada inkontinensia (ex: urin output, keinginan BAK yang paten, fungsi kognitif dan masalah urin)
  2. Menjaga privasi untuk eliminasi
  3. Menggunakan kekuatan dari keinginan untuk BAK di toilet
  4. Menyediakan waktu yang cukup untuk mengosongkan blader (10 menit)
  5. Menyediakan perlak di kasur
  6. Menggunakan manuver crede, jika dibutuhkan
  7. Menganjurkan untuk mencegah konstipasi
  8. Monitor intake dan output
  9. Monitor distensi kandung kemih dengan papilasi dan perkusi
  10. Berikan waktu berkemih dengan interval reguler, jika diperlukan.

 

  1. E.     EVALUASI

Pre operasi                                                                                                                       skala

1. Diagnosa : Manajemen regimen terapeutik tidak efektif berhubungan   dengan pola perawatan keluarga.

Indikator :

  1. Status imunisasi anggota kelurga                                                                             5
  2. Kesehatan fisik anggota keluarga                                                                            4
  3. Asupan makanan yang adekuat                                                                               5
  4. Tidak adanya kekerasan anggota kelurga                                                                5
  5. Penggunaan perawatan kesehatan                                                                            4

 

  1. Diagnosa : Perubahan eliminasi (retensi urin) berhubungan dengan obstruksi mekanik

Indikator :

  1. Mengatakan keinginan untuk BAK                                                                         4
  2. Menentukan pola BAK                                                                                            4
  3. Mengatakan dapat BAK dengan teratur                                                                  4
  4. Waktu yang adekuat antara keinginan BAK dan mengeluarkan BAK ke toilet     4
  5. Bebas dari kebocoran urin sebelum BAK                                                                4
  6. Mampu memulai dan mengakhiri aliran BAK                                                         4
  7. Mengesankan kandung kemih secara komplet                                                         4

 

3. Diagnosa : Kecemasan berhubungan dengan akan dilakukan tindakan   operasi baik keluarga dan klien.

Indikator :

  1. Tingkat kecemasan di batas normal                                                                         4
  2. Mengetahui penyebab cemas                                                                                   4
  3. Mengetahui stimulus yang menyebabkan cemas                                                      4
  4. Informasi untuk mengurangi kecemasan                                                                  4
  5. Strategi koping untuk situasi penuh stress                                                               4
  6. Hubungan sosial                                                                                                       4
  7. Tidur adekuat                                                                                                           4
  8. Respon cemas                                                                                                           4

 

 

Post operasi

1. Diagnosa : Kesiapan dalam peningkatan manajemen regimen terapeutik berhubungan dengan petunjuk aktivitas adekuat.

Indikator :

  1. Ikut serta dalam perencanaan perawatan                                                                 5
  2. Ikut serta dalam menyediakan perawatan                                                                5
  3. Menyediakan informasi yang relefan                                                                       5
  4. Kolaborasi dalam melakukan latihan                                                                       5
  5. Evaluasi keefektifan perawatan                                                                               5

 

2.  Diagnosa : Nyeri berhubungan dengan post prosedur operasi

Indikator :

  1. Melaporkan nyeri (frekuensi & lama)                                                                       5
  2. Perubahan vital sign dalam batas normal                                                                 5

(TD 120/80 mmHg; RR 22 x/mt; N 75x/mt; S 36,8ºC)

  1. Memposisikan tubuh untuk melindungi nyeri                                                          5
  2. Melaporkan kondisi fisik yang nyeman                                                                   4
  3. Menunjukan ekspresi puas terhadap manajemen nyeri                                            4
  4. Mengungkap faktor pencetus nyeri                                                                          4
  5. Menggunakan tetapi non farmakologi                                                                     4
  6. Dapat menggunakan berbagai sumber untuk mengontrol nyeri                               4
  7. Melaporkan nyeri terkontrol                                                                                     4

 

3.  Diagnosa : Resiko tingggi infeksi berhubungan dengan invasi kateter

Indikator :

  1. Mengidentifikasi faktor yang dapat menimbulkan resiko                                        4
  2. Menjelaskan kembali tanda & gejala yang mengidentifikasi faktor resiko              4
  3. Menggunakan sumber & pelayanan kesehatan untuk mendapat sumber informasi 4
  4. Membenarkan faktor resiko                                                                                     4
  5. Memonitor faktor resiko dari lingkungan                                                                4
  6. Memonitor perilaku yang dapat meningkatkan faktor resiko                                  4
  7. Memonitor & mengungkapkan status kesehatan                                                     4
  8. Tidak menunjukan infeksi berulang                                                                         4
  9. Suhu tubuh dalam batas normal                                                                               4
  10. Sel darah putih tidak meningkat                                                                              4

 

4.  Diagnosa : Perubahan eliminasi urine berhibingan dengan trauma operasi

Indikator :

  1. Mengatakan keinginan untuk BAK                                                                         4
  2. Menentukan pola BAK                                                                                            4
  3. Mengatakan dapat BAK dengan teratur                                                                  4
  4. Waktu yang adekuat antara keinginan BAK dan mengeluarkan BAK ke toilet     4
  5. Bebas dari kebocoran urin sebelum BAK                                                                4
  6. Mampu memulai dan mengakhiri aliran BAK                                                         4
  7. Mengosongkan kandung kemih secara komplet                                                      4

 

 

 

 

BAB IV

PENUTUP

 

Hipospadia adalah suatu keadaan dimana lubang uretra terdapat di penis bagian bawah, bukan di ujung penis.
Hipospadia merupakan kelainan bawaan yang terjadi pada 3 diantara 1.000 bayi baru lahir.
Beratnya hipospadia bervariasi, kebanyakan lubang uretra terletak di dekat ujung penis, yaitu pada glans penis.
Bentuk hipospadia yang lebih berat terjadi jika lubang uretra terdapat di tengah batang penis atau pada pangkal penis, dan kadang pada skrotum (kantung zakar) atau di bawah skrotum. Kelainan ini seringkali berhubungan dengan kordi, yaitu suatu jaringan fibrosa yang kencang, yang menyebabkan penis melengkung ke bawah pada saat ereksi.
Gejalanya adalah:

1.  Lubang penis tidak terdapat di ujung penis, tetapi berada                                 di bawah atau di dasar penis

2.  Penis melengkung ke bawah

3.  Penis tampak seperti berkerudung karena adanya kelainan   pada kulit depan penis

4.  Jika berkemih, anak harus duduk.
Diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan fisik.
Jika hipospadia terdapat di pangkal penis, mungkin perlu dilakukan pemeriksaan radiologis untuk memeriksa kelainan bawaan lainnya.
Bayi yang menderita hipospadia sebaiknya tidak disunat. Kulit depan penis dibiarkan untuk digunakan pada pembedahan nanti.
Rangkaian pembedahan biasanya telah selesai dilakukan sebelum anak mulai sekolah. Pada saat ini, perbaikan hipospadia dianjurkan dilakukan sebelum anak berumur 18 bulan.
Jika tidak diobati, mungkin akan terjadi kesulitan dalam pelatihan buang air pada anak dan pada saat dewasa nanti, mungkin akan terjadi gangguan dalam melakukan hubungan seksual.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

http://photos1.blogger.com/blogger/4603/1833/1600/op.jpg

 

http://www.medicastore.com

 

Johnson, Marion dkk. (2000). Nursing outcomes classification (NOC). Mosby

 

Suriadi SKp, dkk. (2001). Asuhan keperawatan pada anak. Jakarta : Fajar Interpratama

 

Mansjoer, Arif, dkk. (2000).Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2, Jakarta : Media  Aesculapius.

 

McCloskey, Joanne C. (1996). Nursing interventions classification (NIC). Mosby

 

Price, Sylvia Anderson. (1995). Pathofisiologi. Jakarta: EGC

 

Purnomo, B Basuki. (2000). Dasar – dasar urologi. Jakarta : Infomedika

 

Santosa, Budi. (2005-2006). NANDA. Prima Medika

 

Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. (1985). Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta :EGC.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

askep hiperbilirubin

Posted: Juni 2, 2011 in Uncategorized

LAPORAN PENDAHULUAN

 

  1. A.    PENGERTIAN  

š Hiperbilirubinemia adalah kadar bilirubin yang dapat menimbulkan efek patologi yang mana pada setiap bayi berbeda-beda, bila bilirubin tidak dikendalikan maka akan menjurus terjadinya kernicterus.

š Hiperbilirubin adalah suatu keadaan dimana kadar bilirubin dalam darah melebihi batas atas nilai normal bilirubin serum yaitu ≥ 13 mg/dL2

š Peningkatan kadar bilirubin serum bisa berupa peningkatan kadar bilirubin :

-      bilirubin tidak terkonjugasi (unconjugated bilirubin) disebut juga bilirubin indirect disebabkan oleh peningkatan produksi bilirubin, penurunan ambilan bilirubin oleh sel hati dan gangguan konjugasi.

-      Bilirubin terkonjugasi (conjugated bilirubin) disebut juga bilirubin direct disebabkan oleh gangguan sekresi intrahepatik dan gangguan ekskresi ekstrahepatik.

š Hiperbilirubin adalah suatu keadaan dimana konsentrasi bilirubin dalam darah berlebihan sehingga menimbulkan joundice pada neonatus (Dorothy R. Marlon, 1988)

š Hiperbilirubin adalah kondisi dimana terjadi akumulasi bilirubin dalam darah yang mencapai kadar tertentu dan dapat menimbulkan efek patologis pada neonatus ditandai joundice pada sklera mata, kulit, membran mukosa dan cairan tubuh (Adi Smith, G. 1988)

š Ikterus adalah gambaran klinis gambaran klinis berupa perwarnaan kuning pada kulit, mukosa, sklera, selaput lendir dan organ lain akibat penunmpukan bilirubin, secara klinis ikterus pada neonatus akan tampak bila konsentrasi bilirubin serum lebih dari 5 mg/dL2

 

 

 

 

  1. B.     ETIOLOGI DAN KLASIFIKASI
    1. A.                            ETIOLOGI

Peningkatan kadar bilirubin umum terjadi pada setiap bayi yang baru lahir karena :

  • Hemolosis yang disebabkan oleh jumlah  sel darah merah lebih banyak dan berumur lebih pendek.
  • Fungsi hepar yang belum sempurna ( jumlah dan fungsi enzim glukuronil transferase, UDPG/T dan ligand dalam protein belum adekuat) → penurunan ambilan bilirubin oleh hepatosit dan konjugasi.
  • Sirkulus enterohepatikus meningkat karena masih berfungsinya enzim β Glukoronidase di usus dan belum ada nutrien.

Penyebab Hiperbilirubin pada neonatal :

  1. 1.  Overproduksi

a)      Kelainan hemolitik

  • Inkompatibilitas darah fetomaternal; ABO, Rh, dan lain-lain.
  • Hemolisis karena genetik

-          Sferositosis herediter,

-          Defek enzim- G6PD, Piruvat kinase, dll.

-          Hemoglobinopati – α- thalasemia, β-δ- thalasemia , dll

-          Galaktosemia

  • Hemolisis karena induksi obat- vitamin K.

b)      Darah ekstravaskular-petekie, hematoma, perdarahan pulmonal dan cerebral, menelan darah.

c)      Polisitemia

  • Hipoksia fetal kronik
  • Tranfusi maternal- fetal atau fetofetal
  • Tranffusi plasenta ( cord stipping)

d)     Sirkulasi enterohepatik yang berlebihan

  • Obstruksi mekanik → Atresia dan stenosis, penyakit hischsprung, ileus mekonium, sindrom sumbatan mekonium
  • Penurunan peristaltis → Puasa atau kurang makan, obat-obatan (hexamethoniums, atropin), stenosis pilorus
  1. 2.  Sekresi Subnormal

a)      Penurunan ambilan bilirubin hepatik

  • Pirai duktus venosus persisten
  • Protein reseptor sitosol (y) dihambat oleh → obat-obatan, penghambat susu manusia abnormal

b)      Penurunan konjugasi  bilirubin

  • Reduksi kongenital aktivitas glukuronil transferase → Ikterus familial non hemolitik ( tipe 1 dan 2), sindrom gilbert
  • Inhibitor enzim → obat dan hormon – novobiocin, pregnanediol, galaktosemia (awal), sindromm lucey-drisscoll, susu manusia abnormal

c)      Gangguan transport bilirubin terkonjugasi keluar hepatosit

  • Defek transpor konginetal-sindrom dubin johnson dan rotor
  • Kerusakan hepatoseluler karena kelainan metabolik  → galaktosemia (terlambat), defisiensi α-1 antritypsin, tirosinemia, hipermetioninemia, intoleransi fruktosa herediter
  • Obstruksi toksik(alimentasi IV)

d)     Obstruksi aliran empedu

  • Atresia bilier, kista koledokal, fibrosis kistik, obstruksi ekstrinsik ( tumor atau perekatan)
  1. 3.  Campuran

a)      Infeksi prenatal → toksoplasmosis, rubela, Cytomegalovirus (CMV), herpes virus hominis, sifilis, hepatitis. Dll.

b)      Infeksi post natal (sepsis)

c)      Kelainan multisistem → prematuritas ± sindrom distress respirasi (SDR), bayi ibu diabetes, eritroblastosis berat.

  1. B.     FAKTOR RESIKO

Faktor resiko untuk timbulnya  ikterus nenonatarum :

  1. Faktor Maternal

-          Ras atau kelompok etnik tertentu (asia, Native American, Yunani)

-          Komplikasi kehamilan (DABO dan Rh)

Penggunaan infus oksitosin dalm larutan hipotonik

-          Asi

  1. Faktor perinatal

-  lahir(sefalhematom,ekimosis)

-          Trauma Infeksi(bakteri,virus,protozoa)

  1. Faktor Neonatus

-          Premturitas

-                                  Faktor genetik

-                                  Polisitemia

-          Obat(streptomycin,kloramfenikol,benzyl-alkohol,sulfixoazol)

-          Rendahnya asupan ASI

-     Hipoglikemia

-          Hipoalbuminemia

  1. 3.      KLASIFIKASI

-      Ikterus prehepatik disebabkan oleh produksi bilirubin yang berlebihan akibat hemolisis sel darah merah. Kemampuan hati untuk melaksanakan konjugasi terbatas terutama pada disfungsi hati sehingga menyebabkan kenaikan bilirubin yang tidak terkonjugasi.

-      Ikterus hepatic disebabkan karena adanya kerusakan sel parenkim hati. Akibat kerusakan hati maka terjadi gangguan bilirubin tidak terkonjugasi masuk ke dalam hati serta gangguan akibat konjugasi bilirubin yang tidak sempurna dikeluarkan ke dalam doktus hepatikus karena terjadi retensi dan regurgitasi.

-      Ikterus kolestatik disebabkan oleh bendungan dalam saluran empedu sehinga empedu dan bilirubin terkonjugasi tidak dapat dialirkan ke dalam usus halus. Akibatnya adalah peningkatan bilirubin terkonjugasi  dalam serum dan bilirubin dalam urin, tetapi tidak didapatkan urobilinogen dalam tinja dan urin.

-      Ikterus Neonatus Fisiologis terjadi pada 2 – 4 hari setelah bayi lahir dan akan sembuh pada hari ke 7. penyebabnya organ hati yang belum matang dalam memproses bilirubin.

-      Ikterus Neonatus Patologis karena faktor penyakit atau infeksi. Biasanya disertai suhu badan yang tinggi dan berat badan tak bertambah.

Menurut HTA Indonesia (2004) Klasifikasi Ikterus adalah sebagai berikut :

  1. 1.      Ikterus Fisiologis

Secara umum setiap neonatus mengalami peningkatan konsentrasi bilirubin serum,namun kurang12 mg/dl pada hari ketiga hidupnya dipertimbangkan sebagai ikterus fisiologis. Pola ikterus fisiologis pada bayi baru lahir sebagai berikut: Kadar bilirubin serum total biasanya mencapai puncakpada hari ketiga sampai kelima kehidupan dengan kadar 5-6 mg/dL kemudian menurun kembali dalam minggu pertama setelah lahir.Kadang dapat muncul peningkatan kadar billirubin sampai 12 mg/dL dengan billirubin terkonjugasi < 2 mg/dL.

  1. 2.      Ikterus pada bayi mendapat ASI(Breast milk jaundice)

Pada sebagian bayi yang mandapat ASI eksklusif,dapat terjadi ikterus yang berkepanjangan.Hal ini dapat terjadi karena  adanya faktor tertentu  dalam ASI yang diduga meningkatkan absorbsi bilirubin diusus halus.Bila tidak ditemukan faktor resiko lain ASI tidak perlu dihentikan dan frekuensi ditambah.Apabila keadaan umum bayi baik ,aktif,minum kuat,tidak ada tatalaksana khusus meskipun ada peningkatan kadar billirubin.

 

-

  1. C.                PATOFISIOLOGI

Bertambahnya beban hepar mengakibatkan pengahancuran yang meningkat sehingga menimbulkan ketidakcocokan pada Rh dan golongan A,B,O. Gangguan konjugasi, juga akan menurunkan glucoronil trasaferasi, hepatitis neonatus dan obstruksi bilier. Dengan demikian mengakibatkan bilirubin tak terkonjugasi, kadar bilirubin dalam plasma meningkat sehingga terjadi difusi pada jaringan dan terlihat kuning.

Billirubin pada neonatus meningkat akibat terjabinya pemecahan eritrosit. Billirubin mulai meningkat secara normal setelah 24 jam,dan puncaknya pada hari ke 3-5. Setelah itu perlahan-lahan akan turun mendekati nilai normal dalam beberapa minggu.

Peningkatan kadar bilirubin tubuh dapat terjadi pada beberapa keadaan. Kejadian yang sering ditemukan adalah apabila terdapat penambahan beban bilirubin pada sel hepar yang berlebihan. Hal ini dapat ditemukan bila terdapat peningkatan, penghancuran eritrosit, polisitemia.

Gangguan pemecahan bilirubin plasma juga dapat menimbulkan peningkatan kadar bilirubin tubuh. Hal ini dapat terjadi apabila kadar protein Y dan Z berkurang, atau pada bayi hipoksia, asidosis. Keadaan lain yang memperlihatkan peningkatan kadar bilirubin adalah apabila ditemukan gangguan konjugasi hepar atau neonatus yang mengalami gangguan ekskresi misalnya sumbatan saluran empedu.

Pada derajat tertentu bilirubin ini akan bersifat toksik dan merusak jaringan tubuh. Toksisitas terutama ditemukan pada bilirubin indirek yang bersifat sukar larut dalam air tapi mudah larut dalam lemak. Sifat ini memungkinkan terjadinya efek patologis pada sel otak apabila bilirubin tadi dapat menembus sawar darah otak. Mudah tidaknya kadar bilirubin melewati sawar darah otak tidak hanya tergantung pada keadaan neonatus. Bilirubin indirek akan mudah melewati sawar darah otak apabila bayi terdapat keadaan Berat Badan Lahir Rendah, Hipoksia, Hipoglikemia.

 

  1. D.    MANIFESTASI KLINIS
  • Kulit berwarna kuning sampai dengan jingga
  • Pasien tampak lemah
  • Nafsu makan berkurang
  • Reflek hisap kurang
  • Urine pekat
  • Perut buncit
  • Pembesaran lien dan hati
  • Gangguan neurologik
  • Feses seperti dempul
  • Kadar bilirubin total mencapai 29 mg/dl

Gejala klinis Ensefalopati Billirubin:

1)  Gejala Akut

-          Letargi

-          Tidak mau minum

-          Hipotermi

2)  Gejala Kronik

-          Hipertonus

-          Epistotonus

Bayi yang selamat biasanya menderita gejala sisa berupa paralise serebral dengan atetosis ,gangguan pendengaran,paralisis sebagian otot mata dan displasia dentalis.

 

  1. E.     PEMERIKSAAN PENUNJANG

Penegakan diagnosis untuk hiper billirubinemia adalah sebagai berikut:

  • Visual

-          Pemeriksaan dilakukan dengan pencahayaan yang cukup (di siang hari dengan cahaya matahari) karena ikterus  bias terlihat lebih parah bila dilihat dengan pencahayaan yang kurang.

-          Tekan kulit bayi dengan lembut dengan jari untuk mengetahui warna dibawah kulit dan jaringan subkutan.

-          Tentukan keparahan ikterus berdasarkan umur bayi dan bagian tubuh yang tampak kuning.Bila kuning terlihat pada bagian tubuh manapun pada hari pertama dan terlihat pada lengan , tungkai, tangan dan kaki pada hari kedua, maka digoongkan sebagai ikterus sangat berat dan memerlukan terapi sinar secepatnya. Tidak perlu menunggu hasil pemeriksaan kadar bilirubin serum untuk memulai terapi sinar.

  • Bilirubin serum

Beberapa hal yang perlu dipertimbangan dalam pelaksanaan pemeriksaan serum bilirubin adalah tindakan ini merupakan tindakan invasif yang dianggap dapat meningkatakn morbiditas neonatus.Umumnya yang diperiksa adalah bilirubin total. Beberapa senter menyarankan pemeriksaan bilirubin direk bila kadar bilirubin total >20 mg/dL atau usia bayi >2 minggu.

  • Bilirubinometer transkutan

Umumnya pemeriksaan bilirubin transkutan dilakukan sebelum bayi pulang untuk tujuan skrining. Pada penelitian ini hiperbilirubinemia dibatasi pada konsentrasi  bilirubin serum > 14,4 mg/dL (249 umol/l).

  • Pemeriksaan bilirubin bebas dan CO

Bilirubin bebas secara difusi dapat melewati sawar darah otak . Hal ini dapat menerangkan mengapa ensefalopati bilirubin dapat terjadi pada konsentrsi bilirubin yang rendah .

©  Pemeriksaan radiology

Diperlukan untuk melihat adanya metastasis di paru atau peningkatan diafragma kanan pada pembesaran hati, seperti abses hati atau hepatoma.

©  Ultrasonografi

Digunakan untuk membedakan antara kolestasis intra hepatic dengan ekstra hepatik.

©  Biopsi hati

Digunakan untuk memastikan diagnosa teutama pada kasus yang sukar seperti untuk membedakan obstruksi ekstra hepatic dengan intra hepatic selain itu juga untuk memastikan keadaan seperti hepatitis, sirosis hati, hepatoma.

©  Peritoneoskopi

Dilakukan untuk memastikan diagnosis dan dapat dibuat foto dokumentasi untuk perbandingan pada pemeriksaan ulangan pada penderita penyakit ini.

©  Laparatomi

Dilakukan untuk memastikan diagnosis dan dapat dibuat foto dokumentasi untuk perbandingan pada pemeriksaan ulangan pada penderita penyakit ini.

 

  1. F.     KOMPLIKASI

v Retardasi mental

v Gangguan pendengaran dan penglihatan

v Kematian

 

  1. G.    PENATALAKSANAAN

Tindakan umum

-      Memeriksa golongan darah ibu, (Rh, ABO) dll pada waktu hamil

-      Mencegah trauma lahir, pemberian obat pada ibu hamil, atau bayi baru lahir yang dapat menimbulkan ikterus, infeksi dan dehidrasi.

-      Pemberian makanan dini dengan jumlah cairan dan kalori yang sesuai dengan kebutuhan bayi baru lahir.

-      Imunisasi yang cukup baik di tempat bayi dirawa.

Tindakan khusus

-      Pemberian fenobarbital ® mempercepat konjugasi dan mempermudah ekskresi. Namun pemberian ini tidak efektif karena dapat menyebabakan gangguan metabolik dan pernafasan baik pada ibu dan bayi.

-      Memberi substrat yang kurang untuk transportasi / konjugasi ® misalnya pemberian albumin karena akan mempercepat keluarnya bilirubin dari ekstravaskuler ke vaskuler sehingga bilirubin lebih mudah dikeluarkan dengan tranfusi tukar.

-      Melakukan dekomposisi bilirubin dengan fototerapi ® untuk mencegah efek cahaya berlebihan dari sinar yang ditimbulkan dan dikhawatirkan akan merusak retina. Terapi ini juga digunakan untuk menurunkan kadar bilirubin serum pada neonatus dengan hiperbilirubinemia jinak hingga moderat.

-      Terapi tranfusi tukar® digunakan untuk menurunkan kadar bilirubin yang tinggi, bila kadar haemoglobin  < 13 g/dL (hemaktokrit < 40 %) dan tes coombs positif segera rujuk bayi. Bila belerubin serum tidak bisa diperiksa dan tidak memungkinkan untuk dilakukan tes coombs segera rujuk bayi bila ikterus telah terlihat sejak hari 1 dan hemoglobin <13 g/dL(HT <40%)

-      Terapi obat – obatan ® misalnya obat phenobarbital/luminal untuk meningkatkan peningkatan bilirubin di sel hati yang menyebabkan sifat indirect menjadi direct, selain itu juga berguna untuk mengurangi timbulnya bilirubin dan mengangkut bilirubin bebas ke organ hati.

-      Menyusui bayi dengan ASI

-      Terapi sinar matahari

-      Berikan tranfusi darah bila hemoglobin < 10 g/dL (memaktokrit  , 30 %)

-      Bila ikterus menetap selama 2 minggu Tu lebih pada bayi cukup bulan atau 3 minggu  lebih lama pada bayi kecil (berat lahir , 2,5 kg atau lahir sebelum kehamilan 37 minggu), terapi sebagai ikterus berkepanjangan (prolonged jaundice)

-      Foolow up setelah kepulangan, periksa kadar hemoglobin setiap minggu selama 4 minggu. Bila hemoglobin < 8 g/dL (Hemaktokit  <24 %), berikan transfusi darah.

Tindak lanjut

Tindak lanjut terhadap semua bayi yang menderita hiperbilirubin dengan evaluasi berkala terhadap pertumbuhan, perkembangan dan pendengaran serta fisioterapi dengan rehabilitasi terhadap gejala sisa.

  1. H.    PENCEGAHAN

Ikterus dapat dicegah dan dihentikan peningkatannya dengan :

-      Nasehati Ibu :

  1. Bila penyebab ikterus adalah inkompatibilitas Rhesus, pastikan ibu mendapatkan informasi yang cukup mengenai hal inin karena berhubungan dengan kehamilan berikutnya.
  2. Bila bayi memiliki defisiensi G6PD, informasikan kepada ibu untuk menghindari zzat-zat tertentu untuk mencegah terjadinya hemolisis pada bayi(contoh : obat anti malaria, obat-obatan golongan sulfa, aspirin,dll)

-      pengawasan antenatal yang baik

-      menghindari obat yang dapat meningkatkan ikterus pada bayi dan masa kehamilan dan kelahiran, contoh : Sulfaforazol, Novobiosin, oksitosin.

-      Pencegahan dan mengobati hipoksia pada janin dan neonatus.

-      Penggunaan fenobarbital pada ibu 1 – 2 hari sebelum partus.

-      Imunisasi yang baik pada bayi baru lahir.

-      Pemberian makanan yang dini.

-      Pencegahan infeksi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PATHWAY KEPERAWATAN

 

Peningkatan destruksi eritrosit ( Gangguan konjugasi bilirubin / gangguan transport bilirubin / peningkatan siklus entero hepatik )

 

Suplay bilirubin melebihi kemampuan hepar

Hepar tidak dapat melakukan konjugasi

 

Peningkatan bilirubin unconjugned dalam darah         pengeluaran meconium terlambat/ obstruksi usus         tinja berwarna pucat

Gangguan integritas kulit

 

Ikhterus pada schlera leher dan badan,

 peningkatan bilirubin indirek > 12 mg/dl

 

Indikasi fototerapi

Resiko tinggi injury

Hipertermi

 

Sinar dengan intensitas tinggi

 

Pemecahan bilirubin meningkatkan pengeluaran cairan empedu ke organ usus

Gerakan peristaltik usus meningkat

Diare

 

 

 

 

ASUHAN KEPERAWATAN PADA

BAYI HIPERBILIRUBIN

 

  1. A.    PENGKAJIAN

š Wawancara

  1. a.      Riwayat Penyakit

Terdapat riwayat gangguan hemolisis darah (ketidaksesuaian golongan Rh atau golongan darah A,B,O). Polisistemia,infeksi,hematoma,gangguan metabolisme hepar obstruksi saluran pencernaan ibu menderita DM.

  1. b.      Riwayat Kehamilan

Kurangnya antenatal care yang baik. Penggunaan obat – obat yang

meningkatkan ikterus. Contoh: salisilat sulkaturosic oxitosin yang dap at

mempercepat proses kon jungasi sebelum ibu partus.

  1. c.       Riwayat Persalinan

Lahir prematur / kurang bulan, riwayat trauma persalinan.

  1. d.      Riwayat Postnatal

Adanya kelainan darah tapi kadar bilirubin meningkat, sehingga kulit bayi tampak kuning.

  1. e.       Riwayat Kesehatan Keluarga

Seperti ketidak cocokan darah  ibu dan anak Polycythenia, gangguan saluran cerna dan hati ( hepatitis )

  1. f.        Riwayat  Pikososial

Kurangnya kasih sayang karena perpisahan, perubahan peran orang tua

  1. g.      Pengetahuan Keluarga

Penyebab perawatan pengobatan  dan pemahaman orang tua pada bayi yang ikterus

 

 

 

š Pemeriksaan Fisik

Ikterus terlihat pada sklera selaput lendir,urin pekat seperti teh, letargi, hipotonus, refleks menghisap kurang, peka rangsang, tremor, kejang, tangisan melengking. Selain itu, keadaan umum lemah, TTV tidak stabil terutama suhu tubuh ( hipo / hipertemi ). Reflek hisap pada bayi menurun, BB turun, pemeriksaan tonus otot ( kejang /tremor ). Hidrasi bayi mengalami penurunan. Kulit tampak kuning dan mengelupas, sclera mata kuning ( kadang – kadang  terjadi kerusakan pada retina ) perubahan warna urine dan feses.

š Laboratorium

Rh darah ibu dan janin berlainan. Kadar bilirubin bayi aterm lebih dari 12,5 mg\dl,prematur lebih dari 15 mg\dl.

 

  1. B.     DIAGNOSA KEPERAWATAN
    1. Resiko tinggi injury berhubungan dengan efek fototerapi.
    2. Potensial ketidakseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan tranfusi tukar
    3. Kerusakan intregitas kulit berhubungan dengan ikterus dan diare
    4. Diare berhubungan dengan efek fototerapi
    5. Hipertermi berhubungan dengan paparan lingkungan panas (efek fototerapi), dehidrasi

 

  1. C.    INTERVENSI

Dx 1

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pasien tidak mengalami komplikasi atau cedera karena fototerapi.

NOC :  Safety Status : Physical Injury.

KH :

  1. Tidak ada iritasi mata.
  2. Tidak ada tanda – tanda dehidrasi.
  3. Suhu stabil
  4. Tidak terjadi kerusakan kulit

NIC : Phototerapi : Neonatus.

  1. Letakkan bayi dekat sumber cahaya.
  2. Tutup mata dengan kain yang dapat menyerap cahaya dan dapat memproteksi mata dari sumber cahaya.
  3. Matikan lampu dan buka penutup mata bayi setiap 8 jam, lakukan inspeksi warna sklera.
  4. Pada waktu menutup mata bayi, pastikan bahwa penutup tidak menutupi hidung.
    1. Buka penutup mata waktu memberi makan bayi.
    2. Ajak bicara bayi selama perawatan.

 

Dx2

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan keseimbangan cairan dan elektrolit bayi terpelihara dalam batas normal

NOC : Fluid balance

KH: 1. Mempertahankan urine output sesuai dengan usia dan BB, BJ urine normal, HT normal

2.   Tekanan darah, nadi, suhu tubuh dalam batas normal

3.   Tidak ada tanda-tanda dehidrasi, elastisitas, turgor kulit, membran mukosa lembab, tidak ada tasa haus yang berlebihan

NIC : fluid Management

1.   Pertahankan catatan intake dan output yang akurat

2.   Monitor vitall sign dan status hidrasi

3.   Monitor status nutrisi  dan dorong masukan oral, berikan minum dengan frekuensi sering, pantau asupan, bila perlu tingkatkan 25% dari kebutuhan normal, pantau haluaran dan turgor kulit.

4.   Kolaborasikan pemberian cairan intravena

5.   Atur kemungkinan transfusi

6.   Kolaborasi dengan Dokter jika tanda cairan berlebih muncul memburuk.

Dx 3

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan integritas kulit baik/utuh

NOC : Pressure Management

KH :

  1. Suhu dalam rentang yang diharapkan ( 36 – 37 C )
  2. Hidrasi dalam batas normal.
  3. Elastisitas dalam batas normal.
  4. Keutuhan kulit.
  5. Pigmentasi dalam batas normal

NIC : Pengawasan Kulit

  1. Anjurkan pasien untuk menggunkan pakaian yang longgar
    1. Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering,catat warna kondisi kulit tiap 8 jam dan pada saat perawatan
    2. Monitor kulit adanya kemerahan
    3. Oleskan lotion atau minyak atau baby oil pada daerah yang tertekan
    4. Memandikan pasien dengan sabun dan air hangat
    5. Pantau area bokong dan feses

Dx  4

Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan diare berhenti atau sembuh.

NOC   :Bowel elimination

  1. Feses berbentuk BAB sehari sekali sampai tiga kali
  2. Menjaga daerah sekitar rectal dari  iritasi
  3. Tidak mengalami diare
  4. Menjelaskan penyebab diare dan rasional tindakan
  5. Mempertahankan turgor kulit

NIC     : Diarhea Management

  1. Identifikasi faktor penyebab diare, ukur diare atau keluaran BAB
  2. Evaluasi intake makanan yang masuk
  3. Observasi turgor kulit secara rutin
  4. Berikan minum dengan frekuensi sering
  5. Instruksikan pada keluarga agar pasien  makan rendah serat,tinggi protein dan tinngi kalori jika memungkinkan
  6. Monitor persiapan makanan yang aman

 

Dx  5

Tujuan  :Setelah dilakukan tindakan keperawatn selama proses keperawatan diharapkan suhu badan pasien turun(normal)

NOC : Thermolegulation

  1. Suhu tubuh dalam rentang normal
  2. Tak ada perubahan warna kulit dan tidak ada pusing
  3. Nadi dan RR dalam rentang normal

NIC ; Fever treatment

  1. Monitur suhu sesering mungkin minimal 2 jam sekali
  2. Monitor warna dan suhu kulit
  3. Monitor TD, nadi, dan RR
  4. Tingkatkan intake cairan dan nutrisi
  5. Kompres pasien dengan air hangat pada daerah lipat paha, dan aksila.
  6. Selimuti pasien untuk mencegah hilangnya kehangatan tubuh, usahakan jangan terlalu tebal.
  7. Berikan antipiretik jika perlu.

 

  1. D.    EVALUASI
    1. Resiko tinggi injury berhubungan dengan efek fototerapi.

Skala penilaian:

  1. Ekstrem
  2. Berat
  3. Sedang
  4. Ringan
  5. Tidak ada gangguan

II.    Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan tranfusi tukar.

Skala Penilaian :

  1. Tidak pernah menunjukkan
  2. Jarang menunjukkan
  3. Kadang menunjukkan
  4. Sering menunjukkan
  5. Selalu menunjukkan

III.    Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan ikterus dan diare.

Skala penilaian:

  1. Ekstrem
  2. Berat
  3. Sedang
  4. Ringan
  5. Tidak ada gangguan

IV.    Diare berhubungan dengan efek fototerapi.

Skala penilaian:

  1. Ekstrem
  2. Berat
  3. Sedang
  4. Ringan
  5. Tidak ada gangguan

V.    Hipertermi berhubungan dengan paparan lingkungan panas (efek fototerapi), dehidrasi.

Skala Penilaian :

  1. Tidak pernah menunjukkan
  2. Jarang menunjukkan
  3. Kadang menunjukkan
  4. Sering menunjukkan
  5. Selalu menunjukkan

DAFTAR PUSTAKA

 

http://klinikku.com/pustaka/dasar/hati/hiperbilirubenia.html

 

Markum, H. 1991. Ilmu Kesehatan Anak, Buku I. FKUI : Jakarta.

 

Soeparman.1987.Ilmu Penyakit Dalam Jilid 1 Edisi Ke 2.Jakarta : FKUI.

 

Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak.1985.Buku Kuliah 3 Ilmu Kesehatan Anak.Jakarta : FKUI.

Surasmi, Asrining.2003.Perawatan Bayi Resiko Tinggi.Jakarta : EGC.

 

www. google.com

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

askep hiperaktif

Posted: Juni 2, 2011 in Keperawatan Anak

 

 

KONSEP DASAR

HIPERAKTIF

A. PENGERTIAN

  • Hiperaktif adalah suatu pola perilaku yang menetap pada seorang anak yang ditandai dengan sikap tidak mau diam, tidak bisa berkonsentrasi dan bertindak sekehendak hatinya atau impulsif.
  • Hiperaktif adalah suatu pola perilaku pada seseorang yang menunjukan sikap tidak mau diam, tidak terkendali, tidak menaruh perhatian dan impulsif (bertindak sekendak hatinya)
  • Gangguan hiperaktivitas atau kurang konsentrasi adalah perilaku yang ditandai dengan kurang konsentrasi, sifat impulsif dan hiperaktivitas.
  • Gangguan hiperaktivitas diistilahkan sebagai gangguan kakurangan perhatian yang menandakan gangguan-gangguan sentral yang terdapat pada anak-anak yang sampai saat ini dicap sebagai menderita hiperkinesis, kerusakan otak minimal atau disfungsi serebral minimal.

 

B. ETIOLOGI

Pandangan-pandangan serta pendapat-pendapat mengenai realitas daripada gangguan ini masih berbeda-beda serta saling dipertentangkan satu sama lainnya, beberapa pandangan mengenai penyebab hiperaktif adalah sebagai berikut :

  • Adanya kerusakan kecil di dalam neurokimia atau neurologi susunan sistem saraf pusat dan otak sehingga rentang konsentrasi menjadi sangat pendek dan sulit dikendalikan
  • Adanya temperamen bawaan, pengaruh lingkungan, malfungsi otak, epilepsi. Dapat juga gangguan dikepala seperti gegar otak, trauma kepala karena persalinan sulit atau kepala pernah terbentur, infeksi, keracunan, gizi buruk, dan alergi makanan.
  • Sindrom tersebut di duga disebabkan  oleh faktor genetic, pembuahan ataupun racun, bahaya-bahaya yang diakibatkan terjadinya prematuritas ataupun immaturitas, maupun ruda paksa, anoksia atau penyulit kelahiran lainnya.
  • Anak hiperaktif biasanya disebabkan dari sikap orang tua yang membesarkan mereka, jika orang tua memakai teknik pengurusan yang tidak efektif, tidak konsisten atau dirumah kurang ada disiplin yang semestinya, seringkali anak berperilaku berlebihan.

 

C. MANIFESTASI KLINIS

Manifestasi klinik yang dapat dilihat pada anak hiperaktif adalah sebagai berikut :

  • Identifikasi awal anak hiperaktif umumnya terjadi pada anak usia taman kanak-kanak atau sekolah dasar. Para guru mereka akan melaporkan bahwa anak tersebut tidak dapat dikendalikan, tidak dapat duduk diam, memasuki ruangan-ruangan serta mengganggu kegiatan anak-anak yang lain, suka ribut dan tidak mempunyai perhatian, tidak bersedia mengikuti petunjuk atau perintah yang diberikan, seolah-olah tidak mendengar, tidak mau belajar dari kesalahan-kesalahan yang diperbuat dimasa lalu serta tidak memberikan tanggapan terhadap peraturan yang ada.
  • Ukuran obyektif tidak memperlihatkan bahwa anak yang terkena gangguan ini memperlihatkan aktivitas fisik yang lebih banyak, jika dibandingkan dengan anak-anak control yang normal, tetapi gerakan-gerakan yang mereka lakukan kelihatan lebih kurang bertujuan serta mereka selalu resah dan gelisah.
  • Mereka mempunyai rentang perhatian yang pendek, mudah dialihkan serta bersifat impulsif dan mereka cenderung untuk bertindak tanpa mempertimbangkan atau merenungkan akibat tindakan mereka tersebut.
  • Mereka mempunyai toleransi yang rendah terhadap perasaan frustasi dan secara emosional suasana hatinya sangat labil, beberapa menit terlihat gembira, mendadak marah-marah dan ngambek serta  mudah terangsang, perhatiannya gampang teralihkan, tidak tahan fustasi, dan kurang dapat mengontrol diri
  • Suasana perasaan hati mereka cenderung untuk bersifat netral atau bertentangan, mereka kerap kali berkelompok, tetapi secara sosial mereka bersikap kaku, bersifat permusuhan dan negatif..
  • Mempunyai gambaran mengenai diri mereka sendiri yang buruk serta mempunyai rasa harga diri yang rendah dan kerap kali mengalami depresi.
  • Mengalami kegagalan dalam akademik dan kadang perkembangan motorik dan bahasanya juga terlambat.seperti : ketidakmampuan belajar membaca, matematika, mengeja serta tulis tangan. Prestasi akademik mereka dapat tertinggal 1-2 tahun dan lebih sedikit daripada yang sesungguhnya diharapkan dari kecerdasan mereka yang diukur.
  • Apa yang dilakukan tidak satu pun diselesaikan, anak cepat sekali beralih dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya.
  • Gejala lainnya, adalah tidak mampu mengontrol gerakan, tidak bisa duduk tenang, bergoyang-goyang, atau merosot hingga terjatuh dari tempat duduk dan sepertinya tidak kenal lelah, seakan energinya digerakan oleh  mesin, kalau anak lain diam karena capek sehabis berlarian, ia paling cuma minum lalu bergerak lagi.

 

Sedangkan menurut Betz, Cecily, 1996 dalam buku Ilmu Keperawatan Anak, terdapat dua macam gejala hiperaktif, yakni gejala kurang konsentrasi dan gejala hiperaktivitas impulsif, adalah sebagai berikut :

  1. Gejala kurang konsentrasi meliputi :
  • Gagal memberi perhatian secara penuh pada hal-hal yang mendetail atau membuat kesalahan sembrono dalam tugas-tugas sekolah, pekerjaan atau aktivitas lainnya.
  • Sering mengalami kesulitan dalam memfokuskan perhatian pada tugas atau aktivitas bermain.
  • Sering tampak tidak mendengarkan bila di ajak bicara langsung.
  • Sering tidak mentaati instruksi dan tidak dapat menyelesaikan pekerjaan rumah,tugas atau pekerkaan ditempat kerja (bukan karena sikap menentang atau karena tidak mengerti intruksi)
  • Sering mengalami kesulitan dalam mengatur tugas-tugas aktivitas
  • Sering menghindar, tidak menyukai atau enggan terlibat dalam tugas-tugas yang memerlukan usaha mental terus-menerus (seperti pekerjaan sekolah atau pekerjaan rumah).
  • Sering kehilangan barang-barang yang diperlukan untuk mengerjakan tugas atau aktivitas (misal : mainan, tugas sekolah, pensil,  buku, atau alat-alat sekolah )
  • Sering mudah terdistraksi oleh stimulus luar.
  • Pelupa dalam aktivitas sehari-hari.
  1. Gejala Hiperaktivitas impulsive, meliputi :
  • Tangan dan kaki sering tidak bisa diam karena gelisah atau menggeliat di tempat duduk.
  • Sering meninggalkan tempat duduk di kelas atau dalam situasi lain atau dalam situasi lain yang seharusnya tidak diperkenankan.
  •  Sering berlarian atau memanjat berlebihan pada situasi yang tidak semestinya.
  • Sering mengalami kesulitan dalam bermain atau terlibat dalam aktivitas dalam waktu senggang dengan tenang.
  • Seing tampak repot atau sering seperti diburu-buru.
  • Bicara sering berlebihan.
  • Sering menjawab pertanyaan tanpa pikir sebelum pertanyaan belum selesai,
  • Sering tidak sabar menunggu giliran.
  • Sering menginterupsi atau mengganggu orang lain (memotong percakapan atau permainan orang lain)

 

D. PATOFISIOLOGI

Tidak ada bukti yang meyakinkan tentang suatu mekanisme patofisiologi ataupun ganguan biokimiawi. Anak pria yang hiperaktif, yang berusia antara 6-9 tahun serta yang mempunyai IQ yang sedang, yang telah memberikan tanggapan yang baik terhadap pengobatan-pengobatan stimulan, memperlihatkan derajat perangsangan yang rendah di dalam susunan saraf pusat mereka, sebelum pengobatan tersebut dilaksanakan, sebagaimana yang berhasil diukur dengan mempergunakan elektroensefalografi, potensial-potensial yang dibangkitkan secara auditorik serta sifat penghantaran kulit. Anak pria ini mempunyai skor tinggi untuk kegelisahan, mudahnya perhatian mereka dialihkan, lingkup perhatian mereka yang buruk serta impulsivitas. Dengan 3 minggu pengobatan serta perawatan, maka angka-angka laoratorik menjadi lebih mendekati normal serta penilaian yang diberikan oleh para guru mereka memperlihatkan tingkah laku yang lebih baik.

 

D. INSIDEN

  1. Penelitian menunjukan insiden gangguan yang lebih tinggi pada anak dengan hubungan biologis derajat pertama dengan orang yang didiagnosis menderita gangguan.
  2. Angka insiden diantara anak usia sekolah adalah 3 % – 5 %.
  3. Insiden lebih tinggi pada individu laki-laki dari pada perempuan,dengan rasio 9:1.

 

E. KOMPLIKASI

  1. Diagnosis sekunder sampai gangguan konduksi, depresi dan penyakit ansietas.
  2. Pencapaian akademik kurang, gagal disekolah, sulit membaca dan mengejakan aritmatika (sering kali akibat abnormalitas konsentrasi)
  3. Hubungan dengan teman sebaya buruk (sering kali akibat perilaku agresif dan kata-kata yang diungkapkan)

 

 

F. PENATALAKSANAAN

  1. 1.      Keperawatan

ü  Pengobatan serta perawatan yang harus dilaksanakan pada anak yang mengalami gangguan hiperaktif ditujukan kepada keadaan sosial lingkungan rumah dan ruangan kelas penderita serta kepada kebutuhan-kebutuhan akademik dan psikososial anak yang bersangkutan, suatu penjelasan yang terang mengenai keadaan anak tersebut haruslah diberikan kepada kedua orang tuanya dan kepada anak itu sendiri.

ü  Anak tersebut hendaklah mempunyai aturan yang berjalan secara teratur menurut jadwal yang sudah ditetapkan dan mengikuti kegiatan rutinnya itu, dan sebaiknya selalu diberikan kata-kata pujian.

ü  Perangsangan yang berlebihan serta keletihan yang sangat hebat haruslah dihindarakan, anak tersebut akan mempunyai saat-saat santai setelah bermain  terutama sekali setelah ia melakukan kegiatan fisik yang kuat dan keras

ü  Periode sebelum pergi tidur haruslah merupakan masa tenang, dengan cara menghindarkan acara-acara televisi yang merangsang, permainan-permainan yang keras dan jungkir balik.

ü  Lingkungan di sekitar tempat tidur sebaiknya diatur sedemikian rupa, barang-barang yang membahayakan dan mudah pecah dihindarkan.

ü  Tehnik-tehnik perbaikan aktif yang lebih formal akan dapat membantu, dengan memberikan hadiah kepada anak tersebut berupa bintang atau tanda sehingga mereka dapat mencapai kemajuan dalam tingkah laku mereka.

  1. 2.      Medis

Terapi farmakologi :

Farmakoterapi kerap kali diberikan kepada anak-anak yang mengalami gangguan hiperaktif. Farmakologi yang sering digunakan adalah dekstroamfetamin, metilfenidat, magnesium pemolin serta fenotiazin. obat tersebut mempunyai pengaruh-pengaruh sampingan yang lebih sedikit. Cara bekerja obat tersebut mungkin sekali adalah dengan mengadakan modifikasi di dalam gangguan-gangguan fundamental pada rentang perhatian, konsentrasi serta impulsivitas. Oleh karena respon yang akan mereka berikan terhadap pengobatan tidak dapat diramalkan sebelumnya, maka biasanya diperlukan suatu masa percobaan klinik, mungkin akan dibutuhkan waktu 2-3 minggu dengan pemberian pengobatan setiap hari untuk menentukan apakah akan terdapat pengaruh obat itu atau tidak.

Dosis:

Obat tersebut diberikan setelah makan pagi dan makan siang, agar hanya memberikan pengaruh yang minimal kepada nafsu makan dan tidur penderita.

  • Metilfenidat : dosis yang diberikan berbeda-beda sesuai dengan usia masing-masing anak akan tetapi berat badan tidak berpengaruh terhadap dosis.pada awalnya mereka diberikan 5 mg pada saat makan pagi serta pada waktu makan siang. Jika tidak ada respon yang diberikan maka dosis di naikan dengan 2,5 mg dengan selang waktu 3-5 hari. Bagi anak-anak yang berusia 8-9 tahun dosis yang efektif adalah 15-20 mg/24 jam. Sementara itu anak yang berusia lebuh lanjut akan memerlukan dosis sampai 40 mg/jam. Pengaruh obat ini akan berlangsung selama 2-4 hari. Biasanya anak akan bersifat rewel dan menangis. Jika pemakaian obat ini sudah berlangsung lama dan dosis yang diberikan lebih dari 20 mg/jam rata-rata mereka akan mengalami pengurangan 5 cm dari tinggi yang diharapkan.
  • Dekstroamfetamin : dapat diberikan dalam bentuk yang dilepaskan (show released) secara sedikit demi sedikit. Dosis awalnya adalah 10 mg dengan masa kerja selama 8-18 jam sehingga penderita hanya membutuhkan satu dosis saja setiap hari, pada waktu sarapan pagi. Dosisnya dalah kira sebesar setengah dosis metilfenidat, berkisar antara 10-20 mg/jam
  • Magnesium pemolin : dianjurkan untuk memberikan dosis awal sebesar 18,75 mg, untuk selanjutnya dinaikan dengan setengah tablet/minggu. Akan dibutuhkan waktu selama 3-4 minggu untuk menetapkan keefektifan obat tersebut. Efek samping dari obat tersebut adalah berpengaruh terhadap fungsi hati, kegugupan serta kejutan otot yang meningkat.
  • Fenotiazin : dapat menurunkan tingkah laku motorik anak yang bersangkutan, efek samping : perasaan mengantuk, iritabilitas serta distonia.

Secara umum efek samping dari pemakaian obat-obatan tersebut diatas adalah anoreksia dan penurunan berat badan,  nyeri perut bagian atas serta sukar tidur, anak akan mudah menangis serta peka terhadap celaan ataupun hukuman, detak jantung yang meningkat serta penekanan pertumbuhan. Jika terjadi hal demikian maka pengurangan dosis atau penghentian pengguanaan obat-obatan perlu dihentikan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ASUHAN KEPERAWATAN

PADA ANAK DENGAN HIPERAKTIF

A. PENGKAJIAN

  1. Kaji riwayat keluarga melalui wawancara atau genogram
  • Tanyakan kepada orang tua mengenai riwayat kesehatan anak terdahulu, apakah anak pernah mengalami trauma ( cedera atau jatuh), bagaimana dengan proses kelahirannya, tanyakan tentang asupan nutrisi yang di berikan kepada anak.
  • Tanyakan kepada orang tua/keluarga apakah ada anggota keluarga lain yang menderita gangguan pusat perhatian atau gangguan mental yang lain.
  1. Kaji riwayat perilaku anak
  • Tanyakan kepada orang tua anak mengenai aktivitas anaknya ; apakah gesit, aktif, banyak menuntut, mempunyai tanggapan-tanggapan yang mendalam dan kuat, apakah mengalami kesulitan dalam hal makan dan tidur.
  • Tanyakan kepada orang tua apakah pertumbuhan dan perkembangan anaknya normal seperti : berdiri, berjalan, berbicara dan kemampuan kognitif lainnya  sesuai dengan tingkat usianya.
  • Kaji riwayat perkembangan anak serta laporan guru mereka tentang permasalahan-permasalahan akademis serta tingkah laku  didalam kelas.

 

B. PEMERIKSAAN FISIK

Pemeriksaan fisik yang biasanya ditemukan pada anak dengan gangguan hiperaktif mencakup :

  • Rambut yang halus
  • Telinga yang salah bentuk
  • Lipatan-lipatan epikantus
  • Langit-langit yang melengkung tinggi serta
  • Kerutan-kerutan telapak tangan yang hanya tunggal saja
  • Terdapat gangguan keseimbangan, astereognosis, disdiadokhokinesis serta permasalahan-permasalahan di dalam koordinasi motorik yang halus.

 

C. PEMERIKSAAN PENUNJANG

v  Tidak ada pemeriksaan laboratorium yang akan dapat menegakan diagnosis gangguan hiperaktif. Anak yang mengalami hiperaktivitas dilaporkan memperlihatkan jumlah gelombang lambat yang bertambah banyak pada elektroensefalogram (EEG). Suatu EEG yang dianalisis oleh komputer akan dapat membantu di dalam melakukan penilaian tentang ketidakmampuan belajar pada anak.

v  Alat-alat berikut ini dapat untuk mengidentifikasi anak-anak dengan gangguan ini.

  • Bebas dari distraksibilitas (aritmatika, rentang anka, dan pengkodean)
  • daftar periksa gangguan (ex: Copeland symptom checklist for attention. Defisit Disorders, attention Deficit Disorders Evaluation Scale)

v  Wechsler Intelligence Scale for Children, edisi 3 (WISC_III) juga sering digunakan, sering terlihat kesulitan meniru rancangan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

D. PATHWAY KEPERAWATAN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

E. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1.   Kerusakan interaksi sosial berhubungan dengan disabilitas perkembangan (hiperaktivitas).

2.   Perubahan proses pikir berhubungan dengan gangguan kepribadian.

3.   Resiko perubahan peran menjadi orang tua berhubungan dengan anak dengan gangguan pemusatan perhatian hiperaktivitas.

4.   Resiko cedera berhubungan dengan psikologis (orientasi tidak efektif)

5.   Resiko keterlambatan perkembangan berhubungan dengan. penyakit mental (hiperaktivitas), kurang konsentrasi.

F. INTERVENSI KEPERAWATAN

DX 1

NOC : Ketrampilan interaksi sosial

Tujuan : Pasien mampu menunjukan interaksi social yang baik.

Kriteria Hasil :

  1. Menunjukan perilaku yang dapat meningkatkan atau memperbaiki interaksi social
  2. Mendapatakan atau meningkatkan ketrampilan interaksi social (misalnya: kedekatan, kerja sama, sensitivitas dan sebagainya).
  3. Mengungkapkan keinginan untuk berhubungan dengan orang lain.

Indicator skala : 1. Tidak ada                               4. Banyak

2. Terbatas                                  5. Luas

3. Sedang

NIC : Peningkatan sosialisasi, aktivitas Keperawatan :

  1. Kaji pola interaksi antara pasien dan orang lain
  2. Anjurkan pasien untuk bersikap jujur dalam berinteraksi dengan orang lain dan menghargai hak orang lain.
  3. Identifikasi perubahan perilaku yang spesifik.
  4. Bantu pasien meningkatkan kesadaran akan kekuatan dan keterbatasan dalam berkomunikasi dengan orang lain.
  5. Berikan umpan balik yang positif jika pasien dapat berinteraksi dengan orang lain.

DX II

NOC : Konsentrasi

Tujuan : Pasien dapat berkonsentrasi secara penuh terhadap obyek atau benda- benda disekitarnya

Kriteria Hasil :

  1. Menunjukan proses pikir yang logis, terorganisasi.
  2. Tidak mudah terganggu / focus terhadap sesuatu
  3. Berespon dengan baik terhadap stimulus.

Indikator skala : 1. Tidak pernah                          4. Sering

2. Jarang                                     5. Konsisten

3. Kadang-kadang

NIC : Pengelolaan Konsentrasi, aktivitas keperawatan :

  1. Berikan pada anak yang membutuhkan ketrampilan dan perhatian
  2. Kurangi stimulus yang berlebihan terhadap orang-orang dan lingkungan dan orang/bebda-benda disekitarnya.
  3. Berikan umpan balik yang positif dan perilaku yang sesuai.
  4. Bantu anak untuk mengidentifikasikan benda-benda disekitarnya seperti, memberikan permainan-permainan yang dapat merangsang pusat konsentrasi.
  5. Kolaborasi medis dalam pemberian terapi obat stimulan untuk anak dengan gangguan pusat konsentrasi.

DX III

NOC : Menjadi orang tua

Tujuan : Orang tua mampu menghadapi kemungkinan resiko yang terjadi  terhadap anak dengan hiperaktivitas.

Kriteria Hasil :

  1. Mempunyai harapan peran orang tua yang realistis
  2. Mengidentifikasi factor-faktor resiko dirinya yang dapat mengarah menjadi orang tua yang tidak efektif.
  3. Mengungkapkan dengan kata-kata sifat positif dari anak.

Indikator skala : 1. Tidak sama sekali                   4. Kuat

2. sedikit                                    5. Adekuat total

3. Sedang

NIC : Peningkatan Perkembangan, aktivitas keperawatan :

  1. Berikan informasi kepada orang tua tentang bagaimana cara mengatasi perilaku anak yang hiperaktif.
  2. Ajarkan pada orang tua tentang tahapan penting perkembangan normal dan perilaku anak.
  3. Bantu orang tua dalam mengimplementasikan program perilaku anak yang positif.
  4. Bantu keluarga dalam membuat perubahan dalam lingkungan rumah yang dapat menurunkan perilaku negative anak.

DX IV

NOC : Pengendalian Resiko

Tujuan : Klien dapat terhindar dari resiko cedera

Kriteria Hasil :

  1. Mengubah gaya hidup untuk mengurangii resiko.
  2. Pasien / keluarga akan mengidentifikasikan resiko yang dapat meningkatkan kerentanan terhadap cedera.
  3. Orang tua akan memilih permainan, memberi perawatan dan kontak social lingkungannya dengan baik.

Indikator skala : 1. Tidak pernah                          4. Sering

2. Jarang                                     5. Konsisten

3. Kadang-kadang

NIC : Mencegah Jatuh, aktivitas keperawatan :

  1. Identifikasikan factor yang mempengaruhi kebutuhan keamanan, misalnya: perubahan status mental, keletihan setelah beraktivitas, dll.
  2. Berikan materi pendidikan yang berhubungan dengan strategi dan tindakan untuk mencegah cedera.
  3. Berikan informasi mengenai bahaya lingkungan dan karakteristiknya (misalnya : naik tangga, kolam renang jalan raya, dll )
  4. Hindarkan benda-benda disekitar pasien yang dapat membahayakan dan menyebabkan cidera.
  5. Ajarkan kepada pasien untuk berhati-hati dengan alat permainannya dan intruksikan kepada keluarga untuk memilih permainan yang sesuai dan tidak menimbulkan cedera.

 

 

DX V

NOC: Child Development

Tujuan: Pasien tidak mengalami keterlambatan perkembangan

Kriteria Hasil:

Anak akan mencapai tahapan dalam perkembangan yaitu tidak mengalami keterlambatan 25 % atau lebih area sosial/perilaku pengaturan diri atau kognitif , bahasa, keterampilan motorik halus dan motorik kasar.

Indikator skala : 1. Tidak pernah menunjukkan    4. Sering

2. Jarang                                     5. Konsisten

3. Kadang-kadang

NIC: Meningkatan Perkembangan

  1. Lakukan pengkajian kesehatan yang seksama (misalnya, riwayat anak, temperamen, budaya, lingkungan keluarga, skrining perkembangan) untuk menentukan tingkat fungsional.
  2. Berikan aktivitas bermain yang sesuai, dukung beraktivitas dengan anak lain.
  3. Kaji adanya faktor resiko pada saat prenatal dan pasca natal.
  4. Berkomunikasi dengan pasien sesuai dengan tingkat kognitif pada perkembangannya.
  5. Berikan penguatan yang positif/umpan balik terhadap usaha-usaha mengekspresikan diri.
  6. Ajarkan kepada orang tua tentang hal-hal penting dalam perkembangan anak.

 

G. EVALUASI

  • Kemampuan interaksi sosial
  • Proses pikir
  • Fokus terhadap sesuatu
  • Respon terhadap stimulus
  • Harapan peran orang tua
  • Mengungkapkan dengan kata sifat positif
  • Gaya hidup untuk mengurangi resiko

PENUTUP

 

 

  1. A.    KESIMPULAN
  • Hiperaktif adalah suatu pola perilaku pada seseorang yang menunjukan sikap tidak mau diam, tidak terkendali, tidak menaruh perhatian dan impulsif (bertindak sekendak hatinya)
  • Hiperaktif dapat disebabkan karena adanya kerusakan kecil di dalam neurokimia atau neurology SSP, factor bawaan, cedera kepala, sikap orang tua yang tidak tepat.
  • Tanda dan gejala anak hiperaktif antara lain anak tidak mau diam, pelupa, sulit mengatur tugas-tugasnya, bicara sering berlebihan, tidak sabar, gelisah, terburu-buru, mengganggu orang lain,dll.

 

  1. B.     SARAN
  • Pengobatan serta perawatan yang harus dilaksanakan pada anak yang mengalami gangguan hiperaktif ditujukan kepada keadaan sosial lingkungan rumah dan ruangan kelas penderita serta kepada kebutuhan-kebutuhan akademik dan psikososial anak yang bersangkutan, suatu penjelasan yang terang mengenai keadaan anak tersebut haruslah diberikan kepada kedua orang tuanya dan kepada anak itu sendiri.
  • Anak tersebut hendaklah mempunyai aturan yang berjalan secara teratur menurut jadwal yang sudah ditetapkan dan mengikuti kegiatan rutinnya itu, dan sebaiknya selalu diberikan kata-kata pujian.
  • Berikan obat yang tepat dengan dosis yang tepat pula sesuai anjuran dokter.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Behrman, Richard E. 1992. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : EGC

Betz, Cecily L. Buku saku Keperawatan Pediatri. Jakarta : EGC

Hidayat, Aziz Alimul. 2005. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak 1. Jakarta: Salemba Medika.

Jhonson, Marion, dkk. 2000. NOC. Jakarta: Morsby.

McCloskey, Cjoane, dkk. 1995.NIC. Jakarta: Morsby.

NANDA. 2006. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda 2005-2006: Definisi dan Klasifikasi. Jakarta: EGC.

Wilkinson, Judith M. 2006. Buku Saku Diagnosa Keperawatan dengan Intervensi NIC dan Kriteria Hasil NOC. Jakarta : EGC.

www. Google. Com. (Hiperaktivitas pada anak).

 

askep fimosis

Posted: Juni 2, 2011 in Keperawatan Anak

KONSEP DASAR FIMOSIS

 

  1. Pengertian
    1. Fimosis adalah tercerutnya kepala zakar oleh lubang kulup yang terlalu sempit.   ( Ramali, Ahmad; 2003 )
    2. Fimosis adalah kondisi dimana prepusium tidak dapat diretraksi dari glans penis. ( Mott, Sandra; 1990 )
    3. Fimosis adalah penyempitan pada prepusium. ( Ngastiyah; 2005 )
    4. Fimosis adalah prepusium penis yang tidak dapat di retraksi ( ditarik ke proksimal sampai ke korona glanis ). ( Purnomo, Basuki; 2000 )
    5. Fimosis adalah ketidakmampuan kulup zakar untuk diretraksi pada umur tertentu yang secara normal dapat diretraksi. ( Behram, Richard E;2000)
    6. Fimosis adalah penyempitan lubang prepusium sehingga tidak dapat ditarik ke atas glans penis. ( Catzel, Pincus; 1990 )
    7. Fimosis merupakan pengkerutan atau penciutan kulit depan penis.                         ( http://www.kompas.com/read/xml/penis.kok,sembunyi )

 

  1. Etiologi

Fimosis penyebabnya tidak dapat diidentifikasi, tetapi ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya fimosis diantaranya:

  1. Kongenital
  2. Inflamasi/peradangan
  3. Oedema

 

 

  1. Patofisiologi

Fimosis dialami oleh sebagian besar bayi baru lahir karena terdapat adesi alamiah antara prepusium dengan glans penis. Hingga usia 3-4 tahun penis tumbuh dan berkembang dan debris yang dihasilkan oleh epitel prepusium ( smegma ) mengumpul di dalam prepusium dan perlahan-lahan memisahkan prepusium dari glans penis. Pemisahan secara kehamilan 7 minggu. Selama proses pemisahan, prepusium harus diretraksi agar menjaga hygiene sehari-hari.smegma dihasilkan dari personal hygiene yang buruk yang dapat memberikan perkembangan inflamasi dan infeksi serta telah mengimplikasikan penyebab kanker penis.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Pathway

Kongenital, peradangan,oedema

Tidak terjadi pemisahan 2 lapisan kulit

Pre operasi

Post operasi

Kurang pengetahuan

Nyeri akut

luka

perdarahan

Gangguan aliran urine

Kekurangan volume cairan

Resiko infeksi

cemas

Kerusakan eliminasai urine

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber : NANDA Nursing Diagnosa

http://www.wahanakedokteran.blogspot.com

 

 

 

  1. Manifestasi klinis
    1. Fimosis menyebabkan gangguan aliran urin berupa sulit BAK, pancaran urin mengcil dan deras menggelumbungnya ujung prepusium penis pada saat miksi dan pada akhirnya dapat menimbulkan retensi uruin.
    2. Hygiene local yang kurang bersih menyebabkan terjadinya infeksi pada prepusium ( postitis ), infeksi pada galns penis ( balanitis ) atau infeksi pada glans penis dan prepusium penis.
    3. Kadang ada benjolan lunak di ujung penis karena adanya korpus smegma             ( timbunan smegma di dalam saku prepusium penis ).

 

  1. Komplikasi
    1. Retensi urin
    2. Karsinoma penis
    3. Perdarahan
    4. Stenosis ineatus
    5. Fimosis persisten
    6. Robekan pada prepusium

 

  1. Penatalaksanaan
  2. Penatalaksanaan medis
    1. Fimosis disertai balanitis xerotica obliterans dapat diberikan salep dexamethasone 0,1% yang dioleskan 3-4 kali sehari dan diharapkan setelah 6 minggu pemberian prepusium dapat diretraksi spontan.
    2. Dengan tindakan sirkumsisi, apabila fimosis sampai menimbulkan gangguan miksi pada klien. Dengan bertambahnya usia, fimosis akan hilang dengan sendirinya.
  3. Prinsip terapi dan manajemen keperawatan
    1. Perawatan rutin pra bedah.

1)      Menjaga kebersihan bagian alat kelamin untuk mencegah adanya kuman atau bakteri dengan air hangat dan sabn mandi.

2)      Penis harus dibersihkan secara seksama dan bayi tidak boleh ditinggalkan sendiri berbaring seperti popok yang basah dalam waktu yang lama.

 

 

  1. Perawatan pasca bedah

1)      Setelah dilakukan pembedahan, akan menimbulkan komplikasi salah satunya perdarahan. Untuk mengatasinya, dengan mengganti balutan apabila basah dan dibersihkan dengan kain/lap yang berguna untuk mendorong terjadinya penyembuhan.

2)      Mengganti popok apabila basah terkena air kencing.

3)      Mengajarkan orang tua tentang personal hygiene yang baik bagi anak.

4)      Membersihkan daerah luka setiap hari dengan sabun dan air serta menerpkan prinsip protektif.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Behirman, Richard E. 1992. Ilmu Kesehatan Anak. Edisi 15. Jakarata:EGC

Catzel, Picus. 1990. Kapita Selekta Pediatric. Edisi 11. Jakarta:EGC

Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak Sakit. Jakarta:EGC

Nur, M.F. 1993. Catatan Kuliah Bedah Anak. Jakarta:EGC

Purnomo, Basuki B. 2000. Dasar-Dasar Urologi. Jakarta:CV.Info Medika

Robbins, dkk. 1999. Buku Saku Dasar Patologi Penyakit. Edisi 5. Jakarta:EGC

http://www.kompas.com/read/xml/2008/06/10/10354630/penis.kok.sembunyi

www.wahanakedokteran.blogspot.com

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN FIMOSIS

  1. Pengkajian
  2. Tanyakan biodata klien.
  3. Kaji keadaan umum klien.
  4. Kaji penyebab fimosis, termasuk kongenital atau peradangan.
  5. Dapatkan riwayat kesehatan sekarang untuk melihat adanya:

a)       Kaji pola eliminasi

BAK:

1)      Frekuensi        : Jarang karena adanya retensi.

2)      Jumlah            : Menurun.

3)      Intensitas        : Adanya nyeri saat BAK.

b)      Kaji kebersihan genital: adanya bercak putih.

c)       Kaji perdarahan

d)      Kaji tanda-tanda infeksi yang mungkin ada

  1. Obsevasi adanya manifestasi:

a)       Gangguan aliran urine berupa sulit BAK, pancaran urine mengecil dan deras.

b)      Menggelembungnya ujung prepusium penis saat miksi,

c)       Adanya inflamasi.

  1. Kaji mekanisme koping pasien dan keluarga
  2. Kaji pasien saat pra dan post operasi

 

  1. Diagnosa Keperawatan

Pre Operasi

  1. Kerusakan eliminasi urine berhubungan dengan infeksi saluran urinaria.
  2. Cemas berhubungan dengan krisis situasional.
  3. Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan kognitif.

Post Operasi

  1. Nyeri akut berhubungan nengan agen cedera fisik.
  2. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif.
  3. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif.

 

  1. Intervensi Keperawatan

Pre Operasi

  1. Diagnosa 1

Kerusakan eliminasi urine berhubungan dengan infeksi saluran urinaria.

Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam diharapkan eliminasi urine lancar.

a)       NOC                     : Pengawasan urine

Kriteria Hasil        :

1)    Mengatakan keinginan untuk BAK.

2)    Menentukan pola BAK.

3)    Bebas dari kebocoran urine sebelum BAK.

4)    Mampu memulai dan mengakhiri aliran BAK.

Keterangan skala  :

1: tidak pernah menunjukkan

2: jarang menunjukkan

3: kadang menunjukan

4: sering menunjukkan

5: selalu menunjukkan

b)      NIC                      : Perawatan Retensi Urine

Intervensi             :

1)    Monitor intake dan out put.

2)    Monitor distensi kandung kemih dengan palpasi dan perkusi.

3)    Sediakan perlak dikasur.

4)    Gunakan kekuatan dari keinginan untuk BAK ditoilet.

5)    Jaga privasi untuk eliminasi.

6)    Berikan waktu berkemih dengan interval reguler, jika diperlukan.

 

  1. Diagnosa II

Cemas berhubungan dengan krisis situasional.

Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam diharapkan kecemasan pasien berkurang.

a)       NOC                     : Kontrol cemas

Kriteria Hasil        :

1)    Tingkat kecemasan dalam batas normal.

2)      Mengetahui penyebab cemas.

3)      Mengetahui stimulus yang menyebabkan cemas.

4)      Tidur adekuat.

Keterangan skala:

1: tidak pernah menunjukkan

2: jarang menunjukkan

3: kadang menunjukan

4: sering menunjukkan

5: selalu menunjukkan

b)      NIC                      : Pengurangan Cemas

Intervensi             :

1)      Ciptakan suasana yang tenang.

2)      Dengarkan dengan penuh perhatian.

3)      Kuatkan kebiasaan yang mendukung.

4)      Ciptakan hubungan saling percaya dengan klien dan keluarga.

5)      Identifikasi perubahan tingkat kecemasan

6)      Temani pasien.

7)      Gunakan pendekatan dan sentuhan.

8)      Jelaskan seluruh prosedur tindakan pada klien.

 

  1. Diagnosa III

Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan kognitif.

Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam diharapkan keluarga dan pasien mengerti akan tindakan yang akan dilakukan.

a)       NOC                     : Pengetahuan tentang penyakit

Kriteria hasil         :

1)      Familiar dengan penyakit.

2)      Mendeskripsikan proses penyakit.

3)      Mendeskripsikan efek penyakit.

4)      Mendeskripsikan komplikasi.

Keterangan skala:

1: tidak pernah menunjukkan

2: jarang menunjukkan

3: kadang menunjukan

4: sering menunjukkan

5: selalu menunjukkan

b)      NIC                      : Mengajarkan proses penyakit

1)      Observasi kesiapan klien untuk mendengar.

2)      Tentukan tingkat pengetahuan klien sebelumnya.

3)      Jelaskan proses penyakit.

4)      Diskusikan gaya hidup yang bisa untuk mencegah komplikasi.

5)      Diskusikan tentang pilihan terapi.

6)      Hindarkan harapan kosong.

7)      Instruksikan pada klien dan keluarga tentang tanda dan gejala untuk melaporkan pada pemberi perawatan kesehatan dengan cara yang tepat.

 

Post operasi

  1. Diagnosa 1

Nyeri akut berhubungan nengan agen cedera fisik.

Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam diharapkan nyeri berkurang.

a)       NOC                     : kontrol nyeri

Kriteria hasil         :

1)      Mengenali faktor penyebab.

2)      Menggunakan metode pencegahan.

3)      Mengenali gejala-gejala nyeri.

4)      Menggunakan analgetik sesuai kebutuhan.

Keterangan skala :

1: tidak dilakukan sama sekali

2: jarang dilakukan

3: kadang dilakukan

4: sering dilakukan

5: selalu dilakukan

b)      NIC                      : pain management

Intervensi             :

1)      Kaji nyeri secara komprehensif.

2)      Observasi isyarat-isyarat non verbal dari ketidaknyamanan.

3)      Gunakan komunikasi terapeutik.

4)      Kaji latar belakang budaya pasien.

5)      Beri dukungan terhadap pasien dan keluarga.

6)      Beri informasi tentang nyeri.

7)      Tingkatkan tidur yang cukup.

8)      Berikan analgetik sesuai kebutuhan.

 

  1. Diagnosa II

Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif.

Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam diharapkan resiko infeksi tidak terjadi.

a)       NOC                     : kontrol infeksi: knowledge

Kriteria hasil         :

1)      Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi.

2)      Menunjukan perilaku hidup normal.

3)      Menunjukan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi.

Keterangan skala:

1: tidak pernah menunjukkan

2: jarang menunjukkan

3: kadang menunjukan

4: sering menunjukkan

5: selalu menunjukkan

b)      NIC                      : infection kontrol

Intervensi             :

1)      Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain.

2)      Batasi jumlah pengunjung.

3)      Tingkatkan intake nutrisi.

4)      Berikan terapi antibiotik.

5)      Pertahankan lingkungan aseptic selama pemasangan alat.

 

  1. Diagnosa III

Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif

Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam diharapkan cairan terpenuhi.

 

a)       NOC                     : fluid balance

Kriteria hasil         :

1)      Mempertahankan urine output sesuai dengan usia dan berat badan.

2)      Tekanan darah, nadi, suhu tubuh dalam batas normal.

3)      Tidak ada tanda-tanda dehidrasi.

Keterangan skala:

1: tidak pernah menunjukkan

2: jarang menunjukkan

3: kadang menunjukan

4: sering menunjukkan

5: selalu menunjukkan

b)      NIC                      : fluid management

Intervensi             :

1)      Timbang popok jika diperlukan.

2)      Pertahankan cairan intake dan output yang akurat.

3)      Monitor status hidrasi.

4)      Monitor TTV.

5)      Dorong keluarga untuk membantu pasien makan.

6)      Kolaborasi dengan dokter jika tanda cairan berlebih muncul memburuk.

 

  1. Evaluasi

Pre Operasi                                                                                                    SKALA

  1. Diagnosa 1

Kerusakan eliminasi urine berhubungan dengan

infeksi saluran urinaria.

a)       Mengatakan keinginan untuk BAK.                                                       4

b)      Menentukan pola BAK.                                                                          4

c)       Bebas dari kebocoran urine sebelum BAK.                                            3

d)      Mampu memulai dan mengakhiri aliran BAK.                                       4

  1. Diagnosa II

Cemas berhubungan dengan krisis situasional.

a)       Tingkat kecemasan dalam batas normal.                                                 5

b)      Mengetahui penyebab cemas.                                                                 3

c)       Mengetahi stimulus yang menyebabkan cemas.                                      4

d)      Tidur adekuat.                                                                                         4

  1. Diagnosa III

Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan kognitif.

a)       Familiar dengan penyakit.                                                                       3

b)      Mendeskripsikan proses penyakit.                                                          3

c)       Mendeskripsikan efek penyakit.                                                             4

d)      Mendeskripsikan komplikasi.                                                                  3

 

Post Operasi

1)      Diagnosa 1

Nyeri akut berhubungan nengan agen cedera fisik.

a)       Mengenali faktor penyebab.                                                                    4

b)      Menggunakan metode pencegahan.                                                        3

c)       Mengenali gejala nyeri.                                                                           4

d)      Menggunakan analgetik sesuai kebutuhan.                                             5

2)      Diagnosa II

Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif

a)       Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi.                                              4

b)      Menunjukkan perilaku hidup normal.                                                     4

c)       Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi.             3

3)      Diagnosa III

Kekurangan volume cairan berhubungan dengan

kehilangan volume cairan aktif

a)       Mempertahankan urine output sesuai dengan                                         4

usia dan berat badan

b)      Tekanan darah, nadi, dan suhu tubuh dalam batas normal.                    3

c)       Tidak ada tanda-tanda dehidrasi.                                                           4

 

 

 

askep hydrocephalus

Posted: Juni 2, 2011 in Keperawatan Anak

LAPORAN PENDAHULUAN

PASIEN DENGAN HIDRROCEFALUS

  1. A.    Pengertian
  • Hidocefalus adalah keadaan patologik otak yang mengakibatkan bertambahnya cairan cerebrospinal dengan adanya tekanan intrakranial (TIK) yang meninggi sehingga terdapat pelebaran ruangan tempat mengeluarkan liguor (Depkes RI, 1989)
  • Hidrocefalus adalah kelebihan cairan cerebrospinalis di dalam kepala. Biasanya di dalam sistem ventrikel atau gangguan hidrodinamik cairan liguor sehingga menimbulkan peningkatan volume intravertikel (Setyanegara, 1998)
  • Hidrocefalus adalah keadaan patologik otak yang mengakibatkan bertambahnya cairan cerebrospinalis di dalam kepala (CSS) dengan atau pernah dengan tekanan intrakranial yang meninggi sehingga terdapat ruangan tempat mengalirnya CSS (Ngastiyah, 1997)
  • Hidrocefalus adalah suatu kondisi dimana terjadi pembesaran sistem ventrikular akibat ketidakseimbangan antara produksi dan absorbsi cairan cerebrospinal (CSF: Cerebrospinal Fluid).(Ricard & Victor, 1992)

Jadi Hidrocefalus merupakan suatu keadaan patologik otak yang mengakibatkan bertambahnya cairan cerebrospinalis sehingga terdapat pelebaran ruangan tempat mengalirnya cairan cerebrospinal.

 

Tipe Hidrocefalus

menurut Ngatiyah (1997) Hidrocefalus pada bayi dapat dibagi menjadi dua yaitu

  1. Konginetal      : Hidrocefalus sudah diderita sejak bayi dilahirkan
  2. Di dapat          : Bayi/anak mengalaminya pada saat sudah besar dengan penyebabnya adalah penyakit-penyakit tertentu misalnya trauma kepala yang menyerang otak dan pengobatannya tidak tuntas.

Menurut Ngastiyah (1997) Hidrocefalus dapat dibagi dua yaitu:

  1. Hidrocefalus obstruksi

Tekanan CSS yang tinggi disebabkan oleh obstruksi pada salah satu tempat antara pembentukan oleh plexus koroidalis dan keluranya dari ventrikel IV melalui foramen lusckha dan magendie.

  1. Hidrocefalus komunikans

Bila tekanan CSS yang meninggi tanpa penyumbatan sistem ventrikel.

 

  1. B.     Etiologi

Penyebab penyumbatan aliran CSS yang sering terdapat pada bayi adalah:

  1. Kelainan bawaan
    1. Stenosis Aquaductus sylvii

merupakan penyebab yang paling sering pada bayi/anak (60-90%) Aquaductus dapat berubah saluran yang buntu sama sekali atau abnormal ialah lebih sempit dari biasanya. Umumnya gejala Hidrocefalus terlihat sejak lahir/progresif dengan cepat pada bulan-bulan pertama setelah lahir.

  1. Spina bifida dan cranium bifida

Biasanya berhubungan dengan sindrom Arnold-Chiari akibat tertariknya medula spinalis dengan medula oblongata dan cerebelum, letaknya lebih rendah dan menutupi foramen magnum sehingga terjadi penyumbatan sebagian/total.

  1. Sindrom Dandy-Walker

Merupakan atresia congenital foramen luscha dan mengendie dengan akibat Hidrocefalus obstruktif dengan pelebran sistem ventrikel terutama ventrikel IV sehingga merupakan krista yang besar di daerah losa posterior.

  1. Kista Arachnoid

Dapat terjadi conginetal membagi etiologi menurut usia

  1. Anomali pembuluh darah
  2. Infeksi
  3. Perdarahan
  4. Neoplasma

 

 

  1. C.    PATOFISIOLOGI

Hidrocefalus menurut Avril B. Kligmen (1999) terjadi sebagi akibat dari 3 mekanisme yaitu: produksi liguor yang berlebihan, peningkatan resistensi aliran liguor dan peningkatan tekanan sinus venosa sebagai, konskwensi dari tiga mekanisme ini adalah peningkatan TIK sebagai upayamempertahankan keseimbangan sekresi dan observasi berbeda-beda setiap saat selama perkembangan Hidrocefalus. Dialatasi ini terjadi sebagai akibat dari:

Kompresi sistem serebrovaskular

Redistribusi dari liquor serebrospinalis atau cairan ekstra selular atau keduanya di dalam sistem susunan saraf pusat.

Perubahan mekanis dari otak

Efek tekanan denyut liquor cerebrospinalis

Hilangnya jaringan otak

Pembesaran volume tengkorak akibat adanya regangan abnormal pada sutura kranial.

 

  1. D.    tanda dan gejala

Gejala yang nampak dapat berupa (Ngastiyah, 1997; Depkes;1998)

  1. TIK yang meninggi: muntah, nyeri kepala, edema pupil saraf otak II
  2. Pada bayi biasanya disertai pembesaran tengkorak
  3. Kepala bayi terlihat lebih besar bila dibandingkan dengan tubuh
  4. Ubun-ubun besar melebar atau tidak menutup pada waktunya teraba tegang dan mengkilat dengan perebaran vena di kulit kepala
  5. Sutura tengkorak belum menutup dan teraba melebar
  6. Terdapat sunset sign pada bayi (pada mata yang kelihatan hitam-hitamnya, kelopak mata tertarik ke atas)
  7. Bola mata terdorong ke bawah oleh tekanan dan penipisan tulang suborbita
  8. Sklera mata tampak di atas iris
  9. Pergerakan mata yang tidak teratur dan nistagmus tak jarang terdapat
  10. Kerusakan saraf yang memberi gejala kelainan neurologis berupa gangguan kesadaran motorik atau kejang-kejang, kadang-kadang gangguan pusat vital

 

  1. E.     patHway keperawatan

 

v

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KOMPLIKASI

  1. Peningkatan TIK
  2. Kerusakan otak
  3. Infeksi: septisemia, infeksi luka nefritis, meningitis, ventrikulitis, abses otak
  4. Emboli otak
  5. Obstruksi vena kava superior
  6. Shunt tidak berfungsi dengan baik akibat obstruksi mekanik
  7. Fisik dan intelegent kurang dari normal, gangguan penglihatan
  8. Kematian

Komplikasi Hidrocefalus menurut Prasetio (2004)

  1. Peningkatan TIK
  2. Pembesaran kepala
  3. kerusakan otak
  4. Meningitis, ventrikularis, abses abdomen
  5. Ekstremitas mengalami kelemahan, inkoordinasi, sensibilitas kulit menurun
  6. Kerusakan jaringan saraf
  7. Proses aliran darah terganggu

 

  1. F.     PENATALAKSANAAN

Penanganan hidrocefalus masuk pada katagori ”live saving and live sustaining” yang berarti penyakit ini memerlukan diagnosis dini yang dilanjutkan dengan tindakan bedah secepatnya. Keterlambatan akan menyebabkan kecacatan dan kematian sehingga prinsip pengobatan hidrocefalus harus dipenuhi yakni:

  1. Mengurangi produksi cairan serebrospinal dengan merusak pleksus koroidalis dengan tindakan reseksi atau pembedahan, atau dengan obat azetasolamid (diamox) yang menghambat pembentukan cairan serebrospinal.
  2. Memperbaiki hubungan antara tempat produksi caira serebrospinal dengan tempat absorbsi, yaitu menghubungkan ventrikel dengan subarakhnoid
  3. Pengeluaran cairan serebrospinal ke dalam organ ekstrakranial, yakni:
    1. Drainase ventrikule-peritoneal (Holter, 1992; Scott, 1995;Anthony JR, 1972)
    2. Drainase Lombo-Peritoneal
    3. Drainase ventrikulo-Pleural (Rasohoff, 1954)
    4. Drainase ventrikule-Uretrostomi (Maston, 1951)
    5. Drainase ke dalam anterium mastoid
    6. Mengalirkan cairan serebrospinal ke dalam vena jugularis dan jantung melalui kateter yang berventil (Holter Valve/katup Holter) yang memungkinkan pengaliran cairan serebrospinal ke satu arah. Cara ini merupakan cara yang dianggap terbaik namun, kateter harus diganti sesuai dengan pertumbuhan anak dan harus diwaspadai terjadinya infeksi sekunder dan sepsis.
  4. Tindakan bedah pemasangan selang pintasan atau drainase dilakukan setelah diagnosis lengkap dan pasien telah di bius total. Dibuat sayatan kecil di daerah kepala dan dilakukan pembukaan tulang tengkorak dan selaput otak, lalu selang pintasan dipasang. Disusul kemudian dibuat sayatan kecil di daerah perut, dibuka rongga perut lalu ditanam selang pintasan, antara ujung selang di kepala dan perut dihubiungakan dengan selang yang ditanam di bawah kulit hingga tidak terlihat dari luar.
  5. pengobatan modern atau canggih dilakukan dengan bahan shunt atau pintasan jenis silicon yang awet, lentur, tidak mudah putus. VRIES (1978) mengembangkan fiberoptik yang dilengkapi perawatan bedah mikro dengan sinar laser sehingga pembedahan dapat dipantau melalui televisi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ASUHAN KEPERAWATAN

HIDROCEFALUS

 

  1. A.    fokus pengkajian
  2. Wawancara

DS       : Pengertian penyakit oleh keluarga/pasien

Kemampuan pasien untuk mengerti

Pernyataan sakit kepala, mual-muntah, kejang

Pernyataan kepalanya membesar

DO      : Lingkar kepala melebihi normal

Terjadi peningkatan TIK (mual, muntah, kejang)

Fortanella/Sutura belum menutup

Tingkat kesadaran yang bisa diamati adalah gelisah, disorientasi, lethargi

Status tanda-tanda vital bervariasi terhadap nadi dan tekanan darah

Riwayat Kesehatan

Dari riwayat kesehatan pasien dengan hidrosefalus dapat menunjukkan adanya

  1. Riwayat trauma sewaktu lahir
  2. Riwayat penyakit dahulu, misal: perdarahan sebelum dan sesudah lahir, infeksi, neoplasma
  3. Riwayat keluarga
  4. Pemerikasaan fisik
    1. Sakit kepala, mual, muntah, kejang
    2. Penurunan kesadaran yang bisa diamati adalah gelisah, disorientasi, lethargi
    3. Sunset sign pada mata
    4. TTV yang bervariasi untuk tiap individu
    5. Pembesaran lingkar kepala
    6. Pemeriksaan penunjang
      1. Pemeriksaan Neurologi

Untuk mengetahui status neurologis pasien, misalnya gangguan kesadaran, motoris/kejang, edema pupil saraf otak II

  1. Pengukuran lingkar kepala

Untuk mengetahui Progrestivitas atau perkembangan lingkar kepala

  1. CT Scan

Untuk mengetahui adanya kelainan dalam otak dengan menggunakan radio isotop, radioaktif dan scanner

  1. MRI (Magnetic Resonance Imaging)

Untuk mengetahui kondisi patologis otak dan medula spinalis dengan menggunakan teknik scaning dengan kekuatan magnet untuk membuat bayangan struktur tubuh

 

  1. B.     diagnosa keperawatan
  2. Perfusi jaringan cerebral tidak efektif berhubungan dengan peningkatan volume cairan serebrospinal
  3. Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan TIK
  4. Resiko infeksi berhubungan dengan pembedahan penempatan shunt
  5. Ketakutan atau kecemasan berhubungan dengan ancaman terhadap konsep diri
  6. Kurang pengetahuan berhubungan dengan tidak familier dengan sumber informasi

 

  1. C.    NOC & NIC

Dx I

Perfusi jaringan cerebral tidak efektif berhubungan dengan peningkatan volume cairan cerebrospinal.

NOC   : Status sirkulasi

Kriteria hasil NOC

  1. Menunjukkan status sirkulasi ditandai dengan indikator berikut:
    1. TD sistolik dan diatolik dalam rentang yang diharpkan
    2. Tidak ada hipotensi otastik
    3. Tidak ada bising pembuluh darah besar
    4. Menunjukkan kemampuan kognitif, ditandai dengan indikator:
  1. Berkomunikasi dengan jelas dan sesuai dengan usia serta kepmampuan
  2. Menunjukkan perhatian, konsentrasi serta orientasi
  3. Menunjukkan memori jangka lama dan saat ini
  4. Memproses informasi
  5. Membuat keputusan dengan benar

Intervensi NIC

  1. Pantau hal-hal berikut ini
  1. Tanda – tanda vital
  2. Sakit kepala
  3. Tingkat kesadaran dan orientasi
  4. Diplopia inistagmus, penglihatan kabur, ketajaman penglihatan
  5. Pemantauan TIK

-          Pemantauan TIK dan respon neurologis pasien terhadap aktivitas perawatan

-          Pantau tekanan perfusi jaringan

-          Perhatikan perubahan pasien sebagai respon terhadap stimulus

  1. Penatalaksanaan sensasi perifer

-          Pantau adanya parestes: mati rasa atau adanya rasa kesemutan

-          Pantau status cairan termasuk asupan dan haluaran

  1. Aktivitas kolaboratif
  1. Pertahankan parameter termodinamik dalam rentang yang dianjurkan
  2. Berikan obat-obatan untuk meningkatkan volume intravaskuler, sesuai permintaan
  3. Berikan obat yang menyebabkan Hipertensi untuk mempertahankan tekanan perfusi serebral sesuai dengan permintaan
  4. Tinggikan bagian kepala tempat tidur 0 sampai dengan 45 derajat, bergantung pada kondisi pasien dan permintaan medis
  5. Berikan loap diuretik dan osmotik, sesuai dengan permintaan.

Dx II

Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan TIK

NOC :

  1. Level nyeri

-          Laporan nyeri

-          Frekwensi nyeri

-          Lamanya nyeri

-          Ekspresi wajah terhadap nyeri

-          Kegelisahan

-          Perubahan TTV

-          Perubahan ukuran pupil

  1. Kontrol Nyeri

-          Menyebutkan faktor penyebab

-          Menyebutkan waktu terjadinya nyeri

-          Menggunakan analgesik sesuai indikasi

-          Menyebutkan gejala nyeri

NIC :

  1. Manajemen Nyeri

-    Tampilkan pengkajian secara menyeluruh tentang nyeri termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekwensi, kualitas, intensitas dan faktor predisposisi nyeri.

-    Observasi isyarat non verbal dari ketidaknyamanan, terutama jika tidak dapat berkomunikasi secara efektif.

-    Pastikan pasien menerima analgesik yang tepat.

-    Tentukan dampak nyeri terhadap kwalitas hidup (misal ; tidur, aktivitas, dll).

-    Evaluasi dengan pasien dan tim kesehatan, efektivitas dari kontrol nyeri pada masa lalu yang biasa digunakan.

-    Kaji pasien dan keluarga untuk mencari dan menyediakan pendukung.

-    Berikan info tentang nyeri, misal; penyebab, berapa lama akan berakhir dan antisipasi ketidaknyamanan dari prosedur.

-    Kontrol faktor lingkungan yang mungkin mempengaruhi respon pasien untuk ketidaknyamanan (misal : temperatur rungan cahaya dan kebisingan).

-    Ajarkan untuk menggunakan teknik nonfarmokologi (misal : relaksasi, guided imagery, therapi musik, distraksi, dll).

 

Dx III

Resiko infeksi berhubungan dengan pembedahan penempatan shutrl

 

NOC :

  1. Kontrol Resiko

Kriteria hasil :

-          Dapat memonitor faktor resiko

-          Dapat memonitor perilaku individu yang menjadi faktor resiko

-          Mengembangkan keefektifan strategi untuk mengendalikan faktor resiko

-          Memodifikasi gaya hidup untuk mengurangi faktor resiko

  1. Deteksi Resiko

Kritria hasil :

-          Mengtahui atau mengungkapkan tanda dan gejala tentang indikasi resiko.

-          Menggunakan sumber untuk menyediakan informasi tentang resiko potensial.

-          Berpartisipasi dalam pemeriksaan.

NIC :

  1. Kontrol Infeksi

Aktivitas :

-          Gunakan sarung tangn steril

-          Pelihara lingkungan yang tetap aseptik.

-          Batasi pengunjung

-          Beritahu pasien dan keluarga tentang tanda dan gejala infeksi dan jika terjadi infeksi laporkan kepada petugas kesehatan.

-          Anjurkan intake nutrisi yang baik.

  1. Identifikasi Resiko.

Aktivitas :

-          Identifikasi pasien dengan kebutuhan perawatan secara berkelanjutan

-          Menentukan sumber yang finansial.

-          Identifikasi sumber agen penyakit untuk mengurangi faktor resiko.

-          Tentukan pelaksanaan dengan treatment medis dan perawatan.

Dx IV

Ketakutan atau kecemasan berhubungan dengan ancaman terhadap konsep diri

NOC:

  1. Anxiety control

-          Monitor intensitas dari cemas

-          Mencari informasi untuk menurunkan cemas

-          Gunakan teknik relaksasi untuk menurunkan cemas

-          Melakukan hubungan sosial untuk memusatkan konsentrasi

-          Kontrol respon cemas

  1. Coping

-          Identifikasi pola koping yang efektif

-          Identifikasi pola koping yang tidak efektif

-          Kontrol cara pasien dalam mengungkapkan perasaannya dengan kata – kata

-          Laporkan penurunan stress

-          Pakai perilaku untuk peenurunan stress

NIC

  1. penurunan cemas

-          ciptakan lingkungan yang tenang untuk mengurangi cemas

-          menyediakan informasi yang benar dan jelas tentang diagnosis dan program perawatan yang diberikan

-          kaji penyebab kecemasan pasien

-          anjurkan keluarga untuk mendampingi pasien guna mengurangi kecemasan

-          identifikasi perubahan tingkat kecemasan pasien

  1. teknik ketenangan

-          pertahankan kontak mata dengan pasien

-          duduk dan berbincang – bincang dengan pasien

-          ciptakan suasana yang tenang

-          gunakan teknik distraksi

-          berikan obat anti cemas

-          instruksikan pasien dengan metoda decrease anxiety (menguurangi cemas)

Dx V

Kurang pengetahuan berhubungan dengan tidak familier dengan sumber informasi.

NOC :

  1. Knowledge : Disease Process (1803)

-          Kenalkan dengan nama penyakit

-           Gambarkan dari proses penyakit

-           Jelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit

-           Jelaskan faktor resiko

-           Jelaskan efek dari penyakit

-           Jelaskan tanda dan gejala

  1. Knowledga Illness care (1824

-          Proses penyakit

-           Pengendalian infeksi

-           Pengobatan

-           Prosedur pengobatan

-           Perawatan terhadap penyakit

NIC :

  1. Teaching Disease Process

Aktifitas :

-       Jelaskan patofisiologi penyakit

-       Jelaskan tanda dan gejala dari penyait

-       Jelaskan proses penyakit

-       Identifikasi kemungkinan penyebab penyakit

-       Diskusikan pilihan perawatan

  1. Teaching : Prosedur / Treatment

Aktifitas :

-       Informasikan kepada pasien kapan dan dimana prosedur perawatan     dilakukan

-       Informasikan kepada pasien tentang berapa lama prosedur dilakukan

-       Jelaskan tujuan dari prosedur / perawatan

-       Gambarkan aktifitas sebelum prosedur dilakukan

-       Jelaskan prosedur tindakan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall. (1997). Diagnosa Keperawatan : buku saku. edisi 6. Jakarata : EGC

Ganong. (1998). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi: 17. Jakarta: EGC

Johnson, marion, dkk. (2000). Nursing Outcomes Clasification (NOC).Missouri: Mosby

Mc. Clostrey, Deane C, & Bulechek Glorid M. (1996). Nursing Intervention Clasification (NIC).Missouri: Mosby

Nanda. 2005. Panduan Diagnosa Keperawatan 2005-2006. Alih bahasa dan editor: Budi Santosa. Jakarta: Prima Medika

Price. (1995). Patofisiologi: Proses-proses Penyakit Edisi: 4, Editor peter Anugrah Buku II.Jakarta: EGC

Wilkinson, M, Judith; (1997) . Buku saku diagnosis keperawatan dengan NIC dan NOC . Edisi 7 .Jakarta : EGC.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

askep difteri

Posted: Juni 2, 2011 in Keperawatan Anak

LAPORAN  PENDAHULUAN DIFTERI

KONSEP DASAR

 

 

A.  Pengertian

  1. Difteri adalah suatu penyakit infeksi mendadak yang disebabkan oleh kuman Corynebacterium diphteriae (FKUI, 1999).
  2. Diftery adalah toksiko infeksi yang disebabkan oleh Corynebacteryum diphtheriae ( Sarah S Long ,2003 ).
  3. Difteria adalah suatu infeksi akut yang mudah menular dan yang diserang terutama saluran pernafasaan bagian atas dengan tanda khas timbulnya pseudo membran (Ngastiyah, 2005).
  4. Difteri adalah infeksi akut yang disebabkan oleh Corynebacterium diphtriae (Rampengan, 1993).
  5. Difteria adalah suatu infeksi akut yang mudah menular,sangat berbahaya pada anak –anak terutama menyerang saluran pernafasan bagian atas,penularannya melalui percikan ludah dari orang yang membawa kuman ke orang lain yang sehat (Sulianti Suroso. 2004).
  6. Difteri adalah suatu infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri penghasil toksik (racun) Corynebacterium diphteriae. (Iwansain.2008).
  7. Difteri adalah infeksi saluran pernafasan yang disebabkan oleh Corynebacterium diphteriae dengan bentuk basil batang gram positif (Jauhari,nurudin. 2008).
  8. Difteri adalah suatu infeksiakut yang disebabkan oleh bakteri penghasil racun Corynebacterium diphteriae. (Fuadi, Hasan. 2008).

 

 

 

B. Etiologi dan klasifikasi

Penyebabnya adalah Corynebacterium diphteriae. Bakteri ini ditularkan melalui percikan ludah yang berasal dari batuk penderita atau benda maupun makanan yang telah terkontaminasi  oleh bakteri. Biasanya bakteri ini berkembangbiak pada atau disekitar selaput lender mulut atau tenggorokan dan menyebabkan peradangan. Pewarnaan sediaan langsung dapat dialkuakan dengan biru metilen atau biru toluidin. Basil ini dapat ditemukan dengan sediaan langsung dari lesi.

Menurut Staf Ilmu Kesehatan Anak FKUI dalam buku kuliah ilmu kesehatan anak, sifat  bakteri Corynebacterium diphteriae :

  1. Gram positif
  2. Aerob
  3. Polimorf
  4. Tidak bergerak
  5. Tidak berspora

Disamping itu bakeri ini dapat mati pada pemanasan 60º C selama 10 menit, tahan beberapa minggu dalam es, air, susu dan lendir yang telah mengering.Terdapat tiga jenis basil yaitu bentuk gravis, mitis, dan intermedius atas dasar perbedaan bentuk koloni  dalam biakan agar darah yang mengandung kalium telurit. Basil Difteria mempunyai sifat:

  1. Mambentuk psedomembran yang sukar dianggkat, mudah berdarah, dan berwarna putih keabu-abuan yang meliputi daerah yang terkena.terdiri dari fibrin, leukosit, jaringan nekrotik dan kuman.
  2. Mengeluarkan eksotoksin yang sangat ganas dan dapat meracuni jaringan setelah beberapa jam diserap dan memberikan gambaran perubahan jaringan yang khas terutama pada otot jantung, ginjal dan jaringan saraf.

Menurut tingkat keparahannya, Staff Ilmu Kesehatan Anak FKUI membagi penyakit ini menjadi 3 tingkat yaitu :

  1. Infeksi ringan bila pseudomembran hanya terdapat pada mukosa hidung dengan gejala hanya nyeri menelan.
  2. Infeksi sedang bila pseudomembran telah menyaring sampai faring (dinding belakang rongga mulut), sampai menimbulkan pembengkakan pada laring.
  3. Infeksi berat bila terjadi sumbatan nafas yang berat disertai  dengan gejala komplikasi  seperti miokarditis (radang otot jantung), paralysis (kelemahan anggota gerak) dan nefritis (radang ginjal).

Menurut  bagian ilmu kesehatan anak FKUI, penyakit ini juga dibedakan menurut lokasi gejala yang dirasakan pasien :

  1. Difteri hidung

Gejala paling ringan dan paling jarang (2%). Mula-mula tampak pilek, kemudian secret yang keluar tercampur darah sedikit yang berasal dari pseudomembran. Penyebaran pseudomembran dapat mencapai faring dan laring.

  1. Difteri faring dan tonsil ( Difteri Fausial ).

Difteri jenis ini merupakan difteri paling berat karena bisa mengancam nyawa penderita akibat gagal nafas. Paling sering dijumpai ( 75%). Gejala mungkin ringan tanpa pembentukan pseudomembran. Dapat sembuh sendiri dan memberikan imunitas pada penderita.Pada kondisi yang lebih berat diawali dengan radang tenggorokan dengan peningkatan suhu tubuh yang tidak terlalu tinggi, pseudomembran awalnya hanya berupa bercak putih keabu-abuan yang cepat meluas ke nasofaring atau ke laring, nafas berbau, dan ada pembengkakan regional leher tampak seperti leher sapi (bull’s neck). Dapat terjadi sakit menelan, dan suara serak serta stridor inspirasi walaupun belum terjadi sumbatan laring.

  1. Difteri laring dan trakea

Lebih sering merupakan penjalaran difteri faring dan tonsil, daripada yang primer. Gejala gangguan nafas berupa suara serak dan stridor inspirasi jelas dan bila lebih berat timbul sesak nafas hebat, sianosis, dan tampak retraksi suprasternal serta epigastrium. Ada bull’s neck, laring tampak kemerahan dan sembab, banyak sekret, dan permukaan ditutupi oleh pseudomembran. Bila anak terlihat sesak dan payah sekali perlu dilakukan trakeostomi sebagai pertolongan pertama.

  1. Difteri kutaneus dan vaginal

Dengan gejala berupa luka mirip sariawan pada kulit dan vagina dengan pembentukan membrane diatasnya. Namun tidak seperti sariawan yang sangat nyeri, pada difteri, luka yang terjadi justru tidak terasa apa-apa. Difteri dapat pula timbul pada daerah konjungtiva  dan umbilikus.

 

  1. C.    Patofisiologi

 Basil hidup dan berkembangbiak pada traktus respiratorius bagian atas terutama bila terdapat  peradangan kronis pada tonsil, sinus, dan lain-lain.Selain itu dapat juga pada vulva, kulit, mata, walaupun jarang terjadi. Pada tempat-tempat tersebut basil membentuk pseudomembran dan melepaskan eksotoksin.

Pseudomembran timbul lokal kemudian menjalar kefaring, tonsil, laring, dan saluran nafas atas. Kelenjar getah bening sekitarnya akan membengkak dan mengandung toksin. Eksotoksin bila mengenai otot jantung akan menyebabkan miokarditis toksik atau jika mengenai jaringan saraf perifer sehingga timbul paralysis terutama otot-otot pernafasan. Toksin juga dapat menimbulkan nekrosis fokal pada hati dan ginjal, yang dapat menimbulkan nefritis interstitialis. Kematian pasien difteria pada umumnya disebabkan  oleh terjadinya sumbatan jalan nafas akibat pseudomembran pada laring dan trakea, gagal jantung karena miokardititis, atau gagal nafas akibat terjadinya bronkopneumonia.

Penularan penyakit difteria adalah melalui udara (droplet infection), tetapi dapat juga melalui perantaraan alat atau benda yang  terkontaminasi oleh kuman difteria.Penyakit dapat mengenai bayi tapi kebayakan pada anak usia balita. Penyakit Difteria dapat berat atau ringan bergantung dari virulensi, banyaknya basil, dan daya tahan tubuh anak. Bila ringan hanya berupa keluhan sakit menelan dan akan sembuh sendiri serta dapat menimbulkan kekebalan pada anak jika daya tahan tubuhnya baik. Tetapi kebanyakan pasien datang berobat sering dalam keadaan berat seperti telah adanya bullneck atau sudah stridor atau dispnea. Pasien difteria selalu dirawat dirumah sakit karena mempunyai resiko terjadi komplikasi seperti mioarditis atau sumbatan jalan nafas (Ngastiyah, 1997).

Menurut Iwansain,2008 dalam http://www.iwansain.wordpress.com secara sederhana pathofisiologi difteri yaitu :

  1. Kuman difteri masuk dan berkembang biak pada saluran nafas atas, dan dapat juga pada vulva, kulit, mata.
  2. Kuman membentuk pseudomembran dan melepaskan eksotoksin. Pseudomembran timbul lokal dan menjalar dari faring, laring, dan saluran nafas atas. Kelenjar getah bening akan tampak membengkak dan mengandung toksin.
  3. Bila eksotoksin mengenai otot jantung akan mengakibatkan terjadinya miokarditis dan timbul paralysis otot-otot pernafasan bila mengenai jaringan saraf.
  4. Sumbatan pada jalan nafas sering terjadi akibat dari pseudomembran pada laring dan trakea dan dapat menyebabkan kondisi yang fatal.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Corynebacterium diphteriae

Pathway Keperawatan

 

 

  1. D.    Manifestasi Klinis

Gejala mulai timbul dalam waktu 1-4 hari setelah terinfeksi.

Sacara umum gejala yang timbul berupa (FKUI, 1999) :

  1. Demam yang tidak terlalu tinggi
  2. Denyut jantung cepat
  3. Lesu dan lemah
  4. Menggigil
  5. Mual muntah
  6. Nyeri saat menelan dan anoreksia
  7. Pucat
  8. Pembengkakan kelenjar limfa dileher
  9. Sakit kepala
  10. Pembengkakan kelenjar limfa dileher
  11. Sesak nafas
  12. Serak

 

  1. E.     Komplikasi

Komplikasi yang timbul pada pasien difteri menurut  Rampengan (1993) yaitu :

  1. Infeksi tumpangan oleh kuman lain

Infeksi ini dapat disebabkan oleh kuman  Streptococus dan staphylococcus. Pasien dengan infeksi tumpangan kuman Streptococus sering mengalami panas tinggi.

  1. Lokal ( obstruksi jalan nafas )

Obstruksi jalan nafas dapt terjadi akibat membran atau oedema jalan nafas dengan segala akibatnya,  bronkopneumonia dan atelektasis.

  1. Sistemik
    1. Kardiovaskuler

1)      Miokarditis

Sering timbul akibat komplikasi difteri tetapi dapat juga terjadi pada bentuk ringan.komlikasi terhadap penyakit jantung pada anak diperkirakan 10-20%. Makin luas lesi local dan makin terlambat pemberian oksitosin,miokarditis makin sering terjadi.faktor lain yang mempengaruhi terjadinya miokarditis yaitu virulensi kuman.

Melemahnya jantung pertama atau  adanya aritmia  menunjukan gejala-gejala miokarditis.

Maimunah dkk (1965) membagi kelainan EKG pada miokarditis difteri atas:

a)      Gangguan kondiksi .

b)      Kerusakan miokard:perubahan gelomgang T yang disertai dengan atau tanpa deviasi segmen ST.

c)      Aritmia: sinus takikardia atau bradikardia .

2)      Neuritis

Manifestasi klinisnya yaitu:

a)      Timbul setelah masa laten

b)      Lesi biasanya bilateral dimana motorik kena lebih dominant daripada sensorik

c)      Kelainan ini biasanya sembuh sempurna

  1. Susunan saraf

Penderita difteri akan mengalami komplikasi pada system saraf terutama sistem motorik.

Parese atau paralysis dapat berupa :

1)      Paralisis atau parese palatum mole

a)      Merupakan manifestasi sraf yang paling sering

b)      Timbul pada minggu ketiga dank has dengan adanya suara hidung dan regurgutasi hidung.

c)      Kelainan ini biasanya hilang sama sekali dalam 1-2 minggu.

2)      Ocular palsy

Biasanya timbul pada minggu kelima atau khas ditandai oleh paralisisdari otot akomodasi yang menyebabkan penglihatan menjadi kabur,otot yang terkena adalah rectus exsternus.

3)      Paralisis diafragma

Dapat tejadi pada minggu ke5-7

Paralysis ini disebabkan oleh neuritis n. phrenicus dan bila tadak segera diatasi penderita akan meninggal.

4)      Paresis atau paralysis anggota gerak

Dapat terjadi pada minggu ke6-10

Pada pemeriksaan didapati lesi bilateral, reflek tendon menghilang, cairan cerebrospinal menunjukan peningkatan protein yang mirip Guillian Barre Syndrom.

  1. Urogenital

Dapat tejadi neftritis sehingga harus diperhatikan warna dan volumenya apakah normal atau tidak.

 

  1. F.     Prognosis

Menurut Ngastiyah (2005) prognosis tergantung pada :

  1. Umur pasien, makinmuda usianya makin jelek prognosisnya.
  2. Perjalanan penyakit, makin terlambat diketemukan makin buruk keadaanya.
  3. Letak lesi difteria, bila dihidung tergolong ringan.
  4. Keadaan umum pasien, bila keadaan gizinya buruk, juga buruk.
  5. Terdapat komplikasi miokarditis sangat memperburuk prognosis.
  6. Pengobatan terlambat pemberian ADS, prognosis makin buruk.

 

 

 

 

G.    Penatalaksaan

  1. Penatalaksanaan medis
    1. Pengobatan Umum

Terdiri dari perawatan yang baik, istirahat mutlak di tempat tidur, isolasi penderita dan pengawasan ketat atas kemungkinan timbulnya komplikasi antara lain pemeriksaan EKG setiap minggu (Buku kuliah ilmu kesehatan anak FKUI, 1999).

  1. Pengobatan Spesifik (Buku kuliah ilmu kesehatan anak FKUI, 1999)

1)      Anti Diphteri Serum (ADS) diberikan sebanyak 20.000U/hari selam 2 hari berturut-turut, dengan sebelumnya dilakukan uji kulit dan mata.

2)      Antibiotika, penicillin prokain 50.000U/kgBB/hari sampai 3 hari bebas panas. Pada penderita yang dilakukan trakeostomi, ditambahkan kloramfenikol 75 mg/kgBB/hari, dibagi 4 dosis.

3)      Kortikosteroid, dimaksudkan untuk mencegah timbulnya komplikasi miokarditis yang sangat berbahaya. Dapat diberikan prednisone 2mg/kgBB/hari selama 3 minggu yang kemudian dihentikan secara bertahap.

  1. Keperawatan .

Menurut Ngastiyah (1997),penatalaksanaan keperawatan pada pasien difteri yaitu pasien dirawat dikamar isolasi yang tertutup. Petugas harus memakai skort (celemek) dan masker yang harus diganti tiap pergantian tugas atau bila kotor. Harus disediakan pula perlengkapan cuci tangan, desinfektan sabun, lap atau handuk yang kering. Juga tempat untuk merendam alat makan yang diisi dengan desinfektan. Masalah yang perlu diperhatikan adalah resiko terjadi komplikasi obstuksi jalan nafas, miokarditis, komplikasi pada ginjal, komplikasi susunan saraf pusat, gangguan masukan nutrisi, gangguan rasa aman dan nyaman, resiko terjadi efek samping dari pengobatan, kurangnya pengetahuan orang tua mengenai penyakit dan perawatan trakheostomi (jika pasien perlu dilakukan trakheostomi).

 

  1. H.    Pencegahan

Pencegahan penyakit difteria (Ngastiyah, 1997) ada beberapa macam cara yaitu :

  1. Imunisasi

Penurunan drastic morbidity difteri sejak dilakukan pemberian imunisasi.Imunisasi aktif diberikan dengan penyuntikan toksoid.imunisasi dasar dimulai pada umur 3 bulan dilakuakan 3 kali berturut-turut dengan selang wktu 1 bulan.biasanya diberikan bersamaan dengan toksoid tetanus dan basil B,pertusis yang telah dimatikan sehingga  disebut DPT.

Vaksinasi ulang dilakukan 1 tahun setelah suntikan terakhir imunisasi dasar (1 ½-2 tahun dan5 tahun,selanjutnya setiap 5 tahun sampai usia 15 tahun hanya diberiksn vaksin difteri jika kontak dengan penderita difteri.doosis yang diberikan adalah 0,5 setiap kali pemberian.

  1. Isolasi penderita

Penderita harus diisolasi dan baru dapat dipulangkan setelah pemeriksaan kuman difteri dua kali berturut-turut negative.

  1. Pencarian seorang karier difteri

Dengan dilakukan uji shick.bila diambil hapusan tenggorok ditemukan Corynebacterium diphteriae pasien (karier) diobati, bila perlu dilakukan tonsilektomi.

  1. Pencegahan terhadap kontak

Terhadap anak yang kontak dengan difteriharus diisolasi selama 7 hari.Bila dalam pengamatan tampak gejala-gejala maka penderita tersebut harus diobati.Bila tidak ada gejala klinis maka diberi iminisasi difteri.

 

 

 

  1. I.       Pemeriksaan Penunjang
    1. Pemeriksaan laboratorium: Apusan tenggorok terdapat kuman Corynebakterium difteri (Buku kuliah ilmu kesehatan anak, 1999).
    2.  Pada pemeriksaan darah terdapat penurunan kadar hemoglobin dan leukositosis polimorfonukleus, penurunan jumlah eritrosit, dan kadar albumin. Pada urin terdapat albuminuria ringan (Ngastiyah, 1997).
    3. Pemeriksaan bakteriologis mengambil bahan dari membrane atau bahnan di bawah membrane, dibiak dalam Loffler, Tellurite dan media blood ( Rampengan, 1993 ).
    4. Lekosit dapat meningkat atau normal, kadang terkadi anemia karena hemolisis sel darah merah (Rampengan, 1993 )
    5. Pada neuritis difteri, cairan serebrospinalis menunjukkan sedikit peningkatan protein (Rampengan, 1993 ).
    6. Schick Tes: tes kulit untuk menentukan status imunitas penderita, suatu pemeriksaan swab untuk mengetahui apakah seseorang telah mengandung antitoksin. Dengan titer antitoksin 0,03 ml satuan permilimeter darah cukup dapat menahan infeksi difteri. Untuk pemeriksaan ini digunakan dosis 1/50 MLD (Minimal Letal Dose) yang diberikan intrakutan dalam, bentuk larutan yang telah diencerkan sebanyak 0,1 ml. Bila orang tersebut tidak mengandung antitoksin, akan timbul vesikel pada bekas suntikan dan akan hilang setelah beberapa minggu. Pada orang yang mengandung titer antitoksin yang rendah, uji shick dapat positif pada orang dengan imunitas atau mengandung anti toksin yang tinggi. Positif palsu dapat terjadi akibat reaksi alergi terhadap protein antitoksin yang menghilang dalam 72 jam.Tes ini tidak berguna pada diagnosis dini, baru dapat dibaca beberapa hari kemudian (Buku kuliah ilmu kesehatan anak FKUI, 1999 ).
    7. Apabila pasien mengalami komplikasi kejantung (miokarditis),pada pemeriksaan EKG hasilnya :Low voltage, depresi segment S ( Buku kuliah ilmu kesehatan anak FKUI, 1999)

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DIFTERI

 

  1. A.    Pengkajian

            Menurut Doenges (1994), pengkajian pada pasien difteri meliputi :

  1. Aktivitas / istirahat
    1. Tidak mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari.
    2. Kurang tidur, penurunan kemampuan beraktivitas, pusing.
    3. Fatigue.
    4. Insomnia.
    5. Berat badan menurun.
    6. Sirkulasi
      1. Nadi meningkat, takikardi.
      2.  Aritmia.
      3. Nutrisi
        1. Anoreksia
        2. Sulit menelan / sakit.
        3. Turgor kulit menurun
        4. Edema laring, faring
        5. Berat badan menurun.
        6. Pernafasan
          1. Sulit bernafas
          2. Produksi sputum meningkat.
          3. Dypsneu.
          4.  Pada tenggorok ada luka.
          5.  Edema mukosa laring, faring.
          6. Pembesaran kelenjar getah bening leher.
          7. Pernafasan cepat dan dangkal.
          8. Dada : penggunaan otot bantu pernafasan.

Auskultasi : terdengar wheezing.

  1. Interaksi sosial
    1. Merasa tergantung.
    2. Pembatasan mobilitas fisik
    3. Data Penunjang
      1. Laboratorium: Apusan tenggorok terdapat kuman Corynebacterium difteri.
      2. EKG : Low voltage, depresi segment ST, gelombang T terbalik.

 

  1. B.     Diagnosa
    1. Pola nafas napas tidak efektif berhubungan dengan edema laring.
    2. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh dengan anoreksia
    3. Nyeri akut berhubungan dengan proses inflamasi.
    4. Koping keluarga tidak efektif berhubungan dengan keadaan orang terdekat sakit dan kurang pengetahuan terhadap kondisi anak.
    5. Kecemasan keluarga berhubungan dengan perubahan status kesehatan anaknya.
    6. Kurang pengetahuan mengenai penyebab proses,prognosis penyakit berhubungan dengan kurangnya informasi.
    7. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan sekret berlebih.
    8. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan proses penyakit.
    9. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.

 

B . Intervensi

Dx 1 : Pola nafas napas tidak efektif berhubungan dengan edema laring.

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan tentang Oxygen theraphy selama 1 X 24 jam diharapkan pola nafas pasien kembali normal yang ditunjukan dengan Respiratory status : Airway patency dengan skala 4.

NOC : Respiratory status : Airway patency

  1. Frekuensi pernafasan dbn
  2. Irama nafas sesuai dengan yang diharapkan
  3. Pengeluaran sputum pada jalan nafas.
  4. Tidak ada suara nafas tambahan
  5. Bernafas mudah
  6. Tidak ada dyspnea

Skala

Skala 1 = Tidak pernah menunjukan

Skala 2 = Jarang menunjukan

Skala 3 = Kadang menunjukan

Skala 4 = Sering menunjukan

Skala 5 = Selalu menunjukan

NIC : Oxygen theraphy

  1. Bersihkan mulut hidung dan secret trakea
  2. Pertahankan jalan nafas yang paten
  3. Monitor aliran oksigen
  4. Observasi adanya tanda-tanda hipoventilasi
  5. Monitor adanya suara nafas tambahan

 

Dx 2 : Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh dengan anoreksia

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan tentang terapi nutrisi selama 1 X 24 jam diharapkan kebutuhan nutrisi terpenuhi yang ditunjukan dengan status nutrisi berskala 4.

NOC : Status nutrisi

  1. Laporkan nutrisi adekuat
  2. Masukan makanan dan cairan adekuat
  3. Energi adekuat
  4. Massa tubuh normal
  5. Ukuran biokimia normal

Skala

Skala 1 = Sangat berbahaya

Skala 2 = Berbahaya

Skala 3 = Sedang / tidak terlalu berbahaya

Skala 4 =Sedikit berbahaya

Skala 5 = Tidak berahaya

NIC : Terapi Nutrisi

  1. Monitor makanan/cairan yang dicerna dan hitung masukan kalori tiap hari
  2. Tentukan makanan kesukaan dengan mempertimbangkan budaya dan keyakinannya
  3. Tentukan kebutuhan pemberian makan melalui NGT
  4. Dorong pasien untuk memilih makanan yang lunak
  5. Dorong masukan makanan tinggi kalsium

 

Dx 3:         Nyeri akut berhubungan dengan  proses inflamasi

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan  manajemen nyeri dan manajemen analgetik selama 1 x 24 jam didharapkan nyeri berkurang atau hilang yang ditunjukkan dengan kontrol nyeri meningkat dan skala nyeri menurun, dengan skala 4.

NOC I : Kontrol nyeri

  1. Ketahui faktor penyebab nyeri
  2. Ketahui permulaan terjadinya nyeri
    1. Gunakan tindakan pencegahan
    2. Gunakan analgetik secara tepat
    3. e.  Laporkan gejala
      1.  Laporkan kontrol nyeri

NOC II : Tingkat Nyeri

  1.    Melaporkan nyeri berkurang atau hilang
  2. Frekuensi nyeri berkurang
    1.    Lama nyeri berlangsung
    2. Ekspresi wajah saat nyeri

Skala

Skala 1= Tidak terasa nyeri

Skala 2 = Jarang terasa nyeri

Skala 3 =Kadang-kadang terasa nyeri

Skala 4 = Sering terasa nyeri

Skala 5 =Terus-menerus terasa nyeri

NIC I  : Manajemen Nyeri

  1. Lakukan pengkajian nyeri secara menyeluruh meliputi lokasi, durasi, frekuensi, kualitas, keparahan nyari dan factor pencetus nyeri
  2. Observasi ketidaknyamanan non verbal
  3. Ajarkan untuk menggunakan teknik non farmakologi misal relaksasi, guided imageri, terapi music dan distraksi
  4. Kendalikan factor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon pasien terhadap ketidaknyamanan misal suhu, lingkungan, cahaya, kegaduhan
  5. Kolaborasi: pemberian analgetik sesuai indikasi

NIC II : Manajemen analgetik

  1. Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas dan tingkat nyeri sebelum mengobati pasien
  2. Cek obat meliputi jenis, dosis dan frekuensi pemberian analgetik
  3. Cek mengenai riwayat alergi obat.
  4. Tentukan jenis analgetsik (narkotik, non-narkotik, NSAID) di samping tipe dan tingkat nyeri.
  5. Tentukan analgetik yang tepat, cara pemberian dan dosisnya secara tepat.
  6. Monitor tanda-tanda vital sebelum dan setelah pemberian analgetik.

Dx 4: Koping keluarga tidak efektif berhubungan dengan keadaan orang terdekat dan kurang pengetahuan terhadap kondisi anak.

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan  tentang selama 1 X24 jam diharapkan koping keluarga menjadi efektif  ditunjukkan dengan koping keluarga berskala 4.

NOC  : Koping Keluarga

  1. Keluarga menunjukkan rasa sayang dan dukungan terhadap anak
  2. Tidak ada depresi
  3. Mampu mengelola masalah
  4. Orang tua tidak menunjukkan rasa malu

Skala

Skala 1= Sangat berbahaya

Skala 2= Berbahaya

Skala 3= Sedang / tidak terlalu berbahaya

Skala 4= Sedikit berbahaya

Skala 5=Tidak berahaya

NIC  :  Family Support

  1. Dengarkan perasaan keluarga.
  2. Bangun hubungan kepercayaan dengan keluarga.
  3. Sediakan keluarga informasi tentang perkembangan pasien.
  4. Sertakan anggota keluarga untuk mermbuat keputusan tentang perawatan pasien.
  5. Gunakan mekanisme koping adaptif.
  6. Hargai dan dukung mekanisme koping yang adaptif yang digunakan oleh keluarga.
  7. Sediakan umpan balik untuk memperhatikan koping keluarga.
  8. Konsultasikan dengan anggota keluarga untuk menambahkan koping yang efektif.

 

 

 

Dx 5 : Kecemasan keluarga berhubungan dengan status kesehatan anaknya.

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan mengenai teknik menurunkan cemas selama 1 X 24 jam diharapkan kecemasan keluarga  berkurang ditunjukan dengan kontrol cemas berskala 4.

NOC  : Kontrol Cemas

  1. Monitor intensitas cemas
  2. Hilangkan penyebab cemas
  3. Turunkan stimulus lingkungan ketika cemas
  4. Cari informasi untuk menurunkan cemas
  5. Gunakan strategi koping yang efektif
  6. Laporkan kepada perawat penurunan lama cemas

Skala :

Skala 1 = tidak pernah dilakukan

Skala 2 = jarang

Skala 3 = kadang-kadang

Skala 4 = sering

Skala 5 = selalu dilakukan

NIC : Menurunkan Cemas

  1. Ciptakan hubungan saling percaya
  2. Kaji tingkat kecemasan
  3. Anjurkan keluarga klien untuk membicarakan kecemasan dan berikan umpan balik tentang mekanisme koping yang tepat.
  4. Tekankan bahwa kecemasan adalah masalah yang umum terjadi pada orang tua klien yang anaknya mengalami masalah yang sama
  5. Ciptakan lingkungan yang tenang, tunjukkan sikap ramah tamah dan tulus dalam membantu klien.
  6. Anjurkan  keluarga untuk menyampaikan tentang isi perasaannya.

 

Dx 6.         :Kurang pengetahuan mengenai penyebab proses,prognosis penyakit berhubungan dengan kurangnya informasi.

Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan tentang pendidikan kesehatan mengenai proses penyakit selama 1 X 24 jam diharapkan pasien dan keluarganya dapat mengerti atau  lebih paham mengenai penyakitnya ditunjukkan dengan Proses openyakit berskala 4.

NOC : Proses Penyakit

  1. Kenal nama penyakit
  2. Dapat menjelaskan mengenai proses penyakit
  3. Dapat menjelaskan sebab atau faktor yang mempengaruhi
  4. Dapat menjelaskan tanda dan gajala  penyakit
  5. Dapat menjelaskan akibat dari penyakit
  6. Dapat menjelaskan prognosis penyakit

Skala

Skala 1 = Tidak mengetahui

Skala 2 = Terbatas pengetahuannya

Skala 3 = Sedikit mengetahui

Skala 4 = Banyak pengetahuannya

Skala 5 = Intensif atau mengetahuinya secara kompleks

NIC : Pendidikan Kesehatan

  1. Identifikasi faktor dalam atau luar untuk menambah / meningkatkan motivasi mengenai tingkah laku kesehatannya.
  2. Tentukan hubungan individu dengan latar belakang sosial budaya pada individu, keluarga atau masyarakat mengenai tingkah laku kesehatannya.
  3. Hindari menggunakan teknik menakut-nakuti untuk memotivasi orang mengubah tngkah laku / gaya hidup sehatnya.
  4. Kembangkan materi pendidikan dengan penulisan masalah yang umum terjadi pada orang tua klien yang anaknya mengalami masalah yang sama (difteri)
  5. Ciptakan lingkungan yang tenang, tunjukkan sikap ramah tamah dan tulus dalam membantu klien.

Dx 7 : Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan sekret berlebih.

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan tentang manajemen jalan nafas selama 1 x 24 jam  diharapkan bersihan jalan nafas  pasien  efektif  ditunjukkan dengan Airway patency berskala 4.

NOC : Airway patency

  1. Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih
  2. Menunjukakan jalan nafas yang paten
  3. Mampu mengidentifikasi dan mencegah faktor yang dapat menghambat jalan nafas.

Skala

Skala 1 = Tidak pernah menunjukan

Skala 2 = Jarang menunjukan

Skala 3 = Kadang menunjukan

Skala 4 = Sering menunjukan

Skala 5 = Selalu menunjukan

NIC : Air way management

  1. Keluarkan sekret dengan batuk atau suction
  2. Auskultasi suara nafas
  3. Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan nafas buatan
  4. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
  5. Moniror respirasi dan starus O2
  6. Lakukan fisioterapi dada untuk mengeluarkan sekret

 

Dx 8 : Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan proses penyakit.

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan tentang tentang pengendalian infeksi selama 1 x 24 jam  diharapkan infeksi pada pasien  tidak terjadi  ditunjukkan dengan  pasien terhindar dari infeksi dengan skala 4.

 

NOC : Pengendalian resiko

  1. terbebas dari gejala an tanda-tanda infeksi
  2. menghindari pajanan terhadap ancaman kesehatan
  3. mengubah gaya idup untuk mengurangi risiko
  4. lekosit dalam batas normal, TTV dalam batas normal

Skala

Skala 1 = Tidak pernah menunjukan

Skala 2 = Jarang menunjukan

Skala 3 = Kadang menunjukan

Skala 4 = Sering menunjukan

Skala 5 = Selalu menunjukan

NIC : Pengendalian infeksi

  1. Pantau TTV dengan ketat, khususnya adanya peningkatan frekuensi jantung dan suhu serta pernafasan yang cepat dan dangkal untuk mendeteksi rupturnya apendiks.
  2. Observasi adanya tanda-tanda lain peritonitis ( misal hilangnya nyeri secara tiba-tiba pada saat terjadi perforasi diikuti dengan peningkatan nyeri yang menyebar dan kaku abdomen, distensi abdomen, kembung, sendawa karena akumulasi udara, pucat, menggigil, peka rangsang untuk menentukan tindakan yang tepat.
  3. Hindari pemberian laksatif,karena dapat merangsang motilitas usus dan meningkatkan resiko perforasi.
  4. Pantau jumlah SDP sebagai indikator infeksi.
  5. Lindungi pasien dari kontaminasi silang.

 

Dx. 9. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.

Tujuan :Setelah dilakukan tindakan keperawatan  tentang manajemen energi selama 1 X 24 jam diharapkan  pasien dapat beraktivitas tanpa mengalami kelemahan ditunjukkan dengan konservasi energi berskala 4..

NOC : Konservasi energi

  1. Berpartisipasi dalam aktivitas fisik tanpa disertai peningkatan tekanan darah, nadi, dan RR
  2. Mampu melakukan aktivitas secara mandiri.

NIC : Managemen Energi

  1. Tirah baring pada pasien dan bantu segala aktivitas sehari-hari, atur periode istirahat dan aktivitas
  2. Monitor terhadap tingkat kemampuan aktivitas, hindari aktivitas yang berlebihan
  3. Tingkatkan aktivitas sesuai dengan toleransi
  4. Monitor kadar enzim serum untuk mengkaji kemampuan aktivitas
  5. Monitor tanda-tanda vital dan atur perubahan posisi.
  6. Monitor nutrisi dan sumber energi yang adekuat.

 

 

 

 

 

C .  Evaluasi

Kriteria Hasil

Skala

Dx  1

  1. Frekuensi pernafasan dbn                                                                                                                                                                     4
  2. Irama nafas sesuai dengan yang diharapkan                                                                                                                               4
  3. Pengeluaran sputum pada jalan nafas.                                                                                                                                            4
  4. Tidak ada suara nafas tambahan                                                                                                                                                       4
  5. Bernafas mudah                                                                                                                                                                                         4
  6. Tidak ada dyspnea                                                                                                                                                                                   4

 

4

4

4

4

4

4

Dx 2

  1. Laporkan nutrisi adekuat                                                                4
  2. Masukan makanan dan cairan adekuat                                    4
  3. Energi adekuat                                                                                     4
  4. Massa tubuh normal                                                                           4
  5. Ukuran biokimia normal                                                                  4

 

4

4

4

4

4

Dx 3

1.Ketahui faktor penyebab nyeri                                                     4

2.Ketahui permulaan terjadinya nyeri                                           4

3. Gunakan tindakan pencegahan                                                   4

4.Gunakan analgetik secara tepat                                                   4

  1.  Laporkan gejala                                                                                  4
  2.  Laporkan kontrol nyeri                                                                   4
  3.  Melaporkan nyeri berkurang atau hilang                                4
  4. Frekuensi nyeri berkurang                                                              4

 

4

4

4

4

4

4

4

4

Dx 4

  1. Keluarga menunjukkan rasa sayang dan dukungan terhadap anak
  2. Tidak ada depresi
  3. Mampu mengelola masalah
  4. Orang tua tidak menunjukkan rasa malu

 

 

4

4

4

4

Dx 5

  1. Monitor intensitas cemas
  2. Hilangkan penyebab cemas
  3. Turunkan stimulus lingkungan ketika cemas
  4. Cari informasi untuk menurunkan cemas
  5. Gunakan strategi koping yang efektif
  6. Laporkan kepada perawat penurunan lama cemas

 

4

4

4

4

4

4

Dx 6

  1. Kenal nama penyakit
  2. Dapat menjelaskan mengenai proses penyakit
  3. Dapat menjelaskan sebab atau faktor yang mempengaruhi
  4. Dapat menjelaskan tanda dan gajala  penyakit
  5. Dapat menjelaskan akibat dari penyakit
  6. Dapat menjelaskan prognosis penyakit

 

4

4

4

4

4

4

4

Dx 7

  1. Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih
  2. Menunjukakan jalan nafas yang paten
  3. Mampu mengidentifikasi dan mencegah faktor yang dapat menghambat jalan nafas

 

4

4

4

Dx 8

  1. terbebas dari gejala an tanda-tanda infeksi
  2. menghindari pajanan terhadap ancaman kesehatan
  3. mengubah gaya idup untuk mengurangi risiko
  4. lekosit dalam batas normal, TTV dalam batas normal

 

4

4

4

4

Dx 9

  1. Menghindari pajanan terhadap ancaman kesehatan
  2. Mengubah gaya idup untuk mengurangi risiko
  3. Mekosit dalam batas normal, TTV dalam batas normal
  4. Merpartisipasi dalam aktivitas fisik tanpa disertai peningkatan tekanan darah, nadi, dan RR
  5. Mampu melakukan aktivitas secara mandiri

4

4

4

4

4

4

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Fuadi, Hasan. 2008. Asuhan keperawatan difteri. www.detikhealth.com.  7 juni 2008.www.medicastrore.com

 

Iwansain.2008. Difteria.www.iwansain.wordpress.com.7 juni 2008

 

Jauhari,nurudin. 2008. Imunisasi Difteri.

www.who.lat/immunization/tipics/diphteria/en.7 juni 2008

 

Kemala, Rita Wahidi. 1996. Nursing Care in Emergency. Jakarta: Fakultas Ilmu Keperawatan UI

 

Mansjoer, Arif, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. Jakarta: Media Aesculapius.

 

Nelson. 1992. Ilmu Kesehatan Anak Bagian 2. Jakarta: EGC

 

Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Jakarta: EGC

 

Persatuan Ahli Penyakit Dalam Indonesia. 1996. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 1. Jakarta: Balai Penerbit FKUI

 

Rampengan, H.T, dkk. 1993. Penyakit Infeksi Tropik Pada Anak. Jakarta : EGC

 

Staf Pengajar ll Buku Ilmu Kesehatan Anak FKUI. 1958. Buku Kuliah Ilmu Kesehalan Anak. Jakarta : Info Medika.

 

Sulianti Suroso. 2004. Pengaruh Imunisasi pada anak.www.infeksi.com.7 juni 2008

 

Suradi, dkk. 2001. Asuhan Keperawatan Pada Anak Edisi I. Jakarta : CV. Agung Seto. Keperawatan

 

 

 

 

 

 

 

askep diare

Posted: Juni 2, 2011 in Keperawatan Anak

KONSEP MEDIS

 

A.    PENGERTIAN

-          Diare adalah defekasi encer lebih dari 3 kali, dengan/tanpa darah dan/atau lendir dalam tinja (Suharyono, 1988: 51).

-          Diare adalah keadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi dan lebih dari 3 kali pada anak, konsistensi feses encer, dapat berwarna hijau atau dapat pula bercampur lendir dan darah/lendir saja (Ngastiyah, 2005: 223).

-          Diare adalah keluarga tinja air dan elektrolit yang hebat, pada bayi volume tinja > 159/kg/24 jam pada umur 3 tahun, volume tinjanya sudah sama dengan volume orang dewasa, volume lebih dari 200 g/24 jam (Behrman, 1999: 1354).

-          Diare adalah kehilangan cairan elektrolit secara berlebihan yang terjadi karena frekuensi satu kali/lebih buang air besar dengan bentuk tinja yang encer dan cair (Suriadi, 1987: 83).

-          Diare adalah buang air besar (defeksi) dengan jumlah tinja yang lebih banyak dari biasanya (normal 100-200 ml per jam tinja), dengan tinja berbentuk cairan atau  setengah cair (setengah padat), dapat pula disertai frekuensi defekasi yang meningkat (Mansjoer, 2000: 470).

-          Diare adalah buang air besar encer atau cair lebih dari 3 kali sehari (WHO, 1980).

-          Diare adalah defekasi yang kerap dengan tinja

 

  1. B.     ETIOLOGI
  1. Faktor Infeksi

1)      Infeksi enteral: infeksi saluran pencernaan makanan yang meriupakan penyebab utama diare pada anak. Meliputi infeksi enteral sebagai berikut:

-          Infeksi  virus: enterovirus (virus ECHO, coxsaxide, poliomyelitis), adeno-virus,  rotavirus, astrovirus.

-          Infeksi parasit: cacing (ascaris, trichuris, oxyuris, strongyloides); protozoa (entamoeba histolytica, giardia lamblia, tri chomonas nominis); jamur (candida albicans).

2)      Infeksi parenteral ialah inf eksi di luar alat pencernaan makanan  seperti: otitis media akut (OMA), transilitis/tonsilofaringitis, bronkopneumonia, ensefalitis dan  sebagainya.  Keadaan ini terutama pada bayi dan anak berumur 2 tahun.

  1. Faktor Malabsorbsi

1)      Malabsorbsi karbohidrat:

-          Disakarida (intoleransi laktosa, maltosa dan sukrosa)

-          Monosakarida (intoleransi glukosa, fraktosa, galaktosa).

Pada bayi dan anak yang terpenting dan tersering (intoleransi laktosa).

2)      Malabsorbsi lemak

3)      Malabsorbsi protein

  1. Faktor makanan (makanan basi, beracun, alergi, terhadap makanan)
  2. Faktor psikologis (rasa takut dan cemas), jarang tapi dapat terjadi pada anak yang lebih besar.
  3. Faktor imunodefisiensi
  4. Faktor obat-obatan, antibiotik
  5. Faktor penyakit usus, colitis ulcerative, croho disease, enterocilitis.

 

  1. C.    TANDA DAN GEJALA

a.   Tanda  :

-          Cengeng

-          Anus dan daerah sekitar lecet

-          BB menurun

-          Turgor berkurang

-          Mata dan ubun-ubun besar dan menjadi cekung (pada bayi)

-          Selaput lendir bibir dan mulut serta kulit tampak kering

-          Nadi cupat dan kecil

-          Denyut jantung jadi cepat

-          TD menurun

-          Kesadaran menurun

-          Pucat, nafas cepat

-          Buang air besar 4x/hari untuk bayi dan > 3x untuk anak-anak atau dewasa.

-          Suhunya tinggi

b.   Gejala  :

-          Tidak nafsu makan

-          Lemas

-          Dehidrasi

-          Gelisah

-          Cengeng

-          Oliguria

-          Anuria

-          Rasa haus

 

  1. D.    PATOFISIOLOGI

Sebagai akibat diare baik akut/kronis akan  terjadi:

1)      Kehilangan air dan elektrolit (terjadi dehidrasi)

Dehidrasi terjadi karena kehilangan air (output lebih banyak daripada input) merupakan penyebab terjadinya kematian pada diare.

2)      Gangguan keseimbangan asambase (asidosis-metabolik)

Asidosis metabolik terjadi karena:

  1. Kehilangan natrium bikarbonat bersama tinja
  2. Adanya ketosil kelaparan

Metabolisme lemak tidak sempurna sehingga benda keton tertimbun di dalam tubuh.

  1.  Terjadi penimbunan asam laktat karena adanya anoksia jaringan.
  2. Pemindahan ion Na dari cairan ekstra seluler

3)      Hipoglikemia

Hipoglikemia terjadi pada 2-3% pada anak-anak yang menderita diare.  Pada orang dengan gizi cukup (baik, hipoglikemia jarang terjadi, le bih sering terjadi pada anak sebelumnya pernah menderita lalep).

4)      Gangguan gizi

Ketika orang menderita diare, sering terjadi gangguan gizi dengan akibat terjadinya penurunan BB dalam waktu singkat.  Hal ini disebabkan karena makanan yang sering tidak dicerna dan diabsorbsi baik karena hiperperistaltik.  Meningkatnya motilitas dan cepatnya pengosongan pada intestinal merupakan akibat dari gangguan absorbsi dan ekskresi cairan-cairan dan elektrolit yang berlebihan.  Mikroorganisme yang masuk akan merusak sel mukosa intestinal sehingga menurunkan area  permukaan intestinal, perubahan kapasitas intestinal dan terjadi gangguan absorbsi cairan dan elektrolit.

5)      Gangguan sirkulasi darah

Sebagai akibat diare dengan/tanpa disertai muntah dapat terjadi gangguan  sirkulasi darah berupa kegiatan (syok) hipovolemik. Akibat perfusi jaringan berkurang dan terjadi hipoksia, asidosis bertambah berat dan mengakibatkan perdarahan pada otak, kesadaran menurun dan bila tidak segera ditolong penderita dapat meninggal.

 

  1. E.     MANIFESTASI KLINIS

Manifestasi klinis menurut Ngastiyah, 2005 adalah:

Mula-mula pasien cengeng, gelisah, suhu tubuh biasanya meningkat, nafsu makan berkurang atau tidak ada, kemudian timbul diare. Tinja cair mungkin disertai lendir atau lendir dan darah. Warna tinja makin lama berubah kehijau-hijauan karena bercampur dengan empedu.  Anus dan daerah sekitarnya timbul lecet karena sering defekasi dan tinja makin lama makin asam sebagai ak ibat makin banyak asam laktat yang berasal dari laktosa yang tidak diabsorbsi oleh usus selama diare.  Gejala muntah dapat timbul sebelum dan sesudah diare, dan dapat disebabkan karena lambung turut meradang atau akibat gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit. Akan terjadi dehidrasi mulai nampak, yaitu berat badan turun, turgor berkurang, mata dan ubun-ubun besar menjadi cekung (pada bayi), selaput lendir bibir dan mulut serta kulit tampak kering.

Manifestasi klinis yang terjadi pada klien diare berdasarkan dehidrasi:

  1. Diare dengan dehidrasi ringan

-          Kehilangan cairan 5% dari berat badan

-          Kesadaran baik (samnolen)

-          Mata agak cekung

-          Turgor kulit kurang dan kekenyalan kulit normal

-          Berak cair 1-2 kali per hari

-          Lemah dan haus

-          Ubun-ubun besar agak cekung

  1. Diare dengan dehidrasi sedang

-          Kehilangan cairan lebih dari 5-10% dari berat badan

-          Keadaan umum gelisah

-          Rasa haus

-          Denyut nadi cepat dan pernafasan agak cepat

-          Mata cekung

-          Turgor dan tonus otot agak berkurang

-          Ubun-ubun besar cekung

-          Kekenyalan kulit sedikit berkurang dan elastisitas kembali sekitar 1-2 detik

  1. Diare dengan dehidrasi berat

-          Kehilangan cairan lebih dari 10% dari berat badan

-          Keadaan umum dan kesadarna umum koma (apatis)

-          Denyut nadi cepat nsekali

-          Pernafasan kusmaul (cepat sekali)

-          Ubun-ubun besar cekung  sekali

-          Mata cekung sekali

-          Turgor/tonus kurang sekali

-          Selaput lendir kurang/asidosis

 

  1. F.     KLASIFIKASI

Diare dibagi menjadi 2:

-          Diare akut

-          Diare kronis

 

  1. Diare Akut

Adalah diare yang terjadi secara mendadak dan berlangsung kurang dari 7 hari pada bayi dan anak yang sebelumnya sehat.

  1. Diare Kronis

Adalah diare yang berlangsung paling sedikit 2 minggu:

  1. Diare osmotik

-          Diare yang berhenti jika pemberian makanan (obat-obatan  dihentikan).

-          Pada diare osmotik, osmolatitas tinja diare merupakan beban osmotik utama yang tidak terabsorbsi dan atau tidak diabsorbsi.

-          Tinja mempunyai kadar Na+ rendah (< 50 mEq/l dan beda osmotiknya bertambah besar (> 160 mOsm/L).

-          Dapat disebabkan oleh malabsorbsi makanan, kekurangan kalori protein, bayi berat badan lahir  rendah dan bayi baru lahir.

-          Kelainan-kelainan yang menyebabkan  diare osmotik kronis dapat diklasifikasi dari mekanisme patofisiologinya, umur pada saat mulainya/pola tampilannya.

  1. Diare sekretorik

-          Diare yang menetap walaupun penderita dipuasakan.

-          Diare sekretorik jarang dan merupakan kelainan pada bayi.

-          Frekuensi BAB > 5x/24 jam, encer, volumenya banyak.

-          Tinja mempunyai kadar Na+ tinggi (> 90 mEq/L) dan perbedaan osmotiknya < 20 mOsm/L.

Klasifikasi diare kronik berdasarkan  sifat tinja, berair, berlemak, ber darah pada bayi dan anak me  nurut Arasu dkk, 1979 antara lain:

  1. Watery Stools/tinja besar

1)      Gastroenteropati alergi

-          Alergi proten susu sapi

-          Alergi protein kedelai

2)      a)         -           Defisiensi disakarida

-          Defisiensi laktase sering sekunder

-          Defisiensi sukares ismaltase

b)         Malabsorbsi gluksoa galaktosa

3)      Defek imun primer

4)      Infeksi usus oleh virus, bakteri dan parasit (Giardk)

5)      CSBS (contraminated small bowel syndrome)

-          Obstruksi usus terhadpa loops, mal rotasi, short bowe syndrome, dan segalanya.

6)      Presistent poslenteng diare dengan/tanpa intoleransi karbohidrat.

7)      Diare sehubungan dengan penyakit endokrin

-          Hipoparatiroidisme

-          Insufisiensi adrenal

-          Diabetes mellitus

8)      Diare sehubungan dengan tumor

-          Karsinom medula tiroid

-          Ganglionueuroma

9)      Malabsorpsi as. Empedu-cholerrhoeic diarrhoea

  1. Fatty stools/tinja berlemak

1)      Insuifisiensi pankreas

-          Hipoplasi

-          Cystic fibrosis

2)      Limfangiektasi usus

3)      Kolestasis

-          Atresia bilians ekstra/intrahepatik

-          Hepatitis neonatal

-          Sirosis hepatitis

  1. Bloody stools/tinja berdarah

1)      V. campylobacter, salmonella, shygella

2)      Disentri amuba

3)      Inflamatory bowel desease

4)      Diare berhubungan dengan lesi anal

 

  1. G.    PEMERIKSAAN PENUNJANG
    1. Pemeriksaan Tinja
      1. Makroskopis

Bentuk tinja dan jumlah tinja dalam sehari kurang lebih 250 mg.

  1. Mikroskopis

Na dalam tinja ( normal : 56-105 mEq/l ) Chloride dalam tinja ( normal : 55-95 mEq/l ), kalium dalam tinja ( normal : 25-26 mEq/l ), HCO3, dalam tinja ( normal : 14-31 mEq/l ).

  1. PH dan kadar gula dalam tinja dengan kertas lakmus dan label klining test bisa diduga terjadi intoleransi gula.
    1. PH normal kurang dari 6
    2. Gula tinja, normalnya tidak terjadi gula dalam tinja.
    3. Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah, lebih cepat dilakukan dengan pemeriksaan analisa gas darah. Dalam pemeriksaan gas darah nilai jika terjadi alkaliosis metabolic/asidosis respiratorikmaka nilai CO2 lebih tinggi dari nilai O2, sedangkan jiaka terjadi asidosis metabolik  alkalosis respiratori maka nilai CO2 lebih rendah dari O2.
    4. Pemeriksaan kadar urin dan kreatinin untuk mengetahui fool ginjal
      1. Urin normal 20-40 mg/dl. Jika terjadi peningkatan menunjukan adanya dehidrasi
      2. Kreatinin normal 0,5-1,5 mg/dl. Jika terjadi peningkatan menunjukan adanya penurunan fungsi ginjal.
      3. Pemeriksaan darah lengkap

Darah lengkap meliputi elektroda serum, kreatinin, menunjukan adanya dehidrasi. Nilai normal hemoglobin adalah 13-16 g/dl, hematokrit 40-48 vol%. Hemoglobin dan hematokrit biasanya mengalami penurunan diare akut.

  1. Duodeual Intubation

Gunanya untuk mengetahui kuman secara kuantitatif terutama pada diare kronik. Penyebab yang ditemukan tidak ada yang berupa mikroba tunggal baik itu Shigela, Crypto Sporodium danE. Colienteroagregatif.

Hasil pemeriksaan duodeual intubation berupa +++ ( positif 3 ) menunjukan adanya 3 kuman bakteri yang menjadi penyebab diare.

 

  1. H.    PENULARAN

Penyakit diare dapat ditularkan melalui:

  1. Menggunakan  sumber air yang tercemar
  2. BAB sembarang tempat
  3. Pencemaran makanan oleh serangga (lalat, kecoa) atau oleh tangan kotor
  4. Fecal oral melalui makanan dan minuman yang tercemar
  5. Melalui makanan yang terkontaminasi oleh penyaji makanan yang mengidap viral  gastroenteritis bahkan diperkuat bila orang tersebut tidak mencuci tangannya secara teratur setelah menggunakan kamar mandi.
  6. Mengkonsumsi ikan mentah/tidak dimasak yang diambil dari air yang terkontaminasi.
  7. Kontak langsung dengan orang yang terinfeksi virus, misalnya dengan makan, minum bersama/menggunakan peralatan makan yang sama dengan orang yang terinfeksi  virus diare.

 

  1. I.       PENCEGAHAN
    1. Mencuci tangan  sebelum makan untuk mengurangi infeksi
    2. Mendesinfeksi permukaan peralatan rumah tangga.
    3. Mencuci pakaian kotor dengan segera sampai bersih
    4. Hindari makanan dan air yang terkontaminasi.

 

  1. J.      KOMPLIKASI
    1. Berdasarkan kehilangan cairan dan elektrolit atau tonisitas dalam tubuh
  1. Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonik/hipertonik). Dehidrasi ( ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonik/hipertonik ). Terjadi karena kehilangan cairan dan elektrolit yang banyak dalam waktu yang singkat.
  • Dehidrasi tonik

Tidak ada perubahan konsistensi elektrolit darah, tonus dan osmolality cairan ekstra sel yang sisa sama dengan vontanela normal, frekuensi jantung normal kadar natrium dalam serumant 130-150 mEq/l

  • Dehidrasi hipotonik

Tonus dan tugor mau buruk selaput lender tidak kering( lembab). Pemeriksaan laboratorium kadar ion natrium dalam serum, 131 mEq/l.

  • Dehidrasi hipertonik

Caiaran yang keluar lebih banyak mengandung air dari pada garam, terjadi karena cairan peroral sangat kurang excessive evaporative losses misalnya, panas tinggi, hiperventilasi, misalnya bronkopenemonia, pemeriksaan laboratorium kadar ion natrium dalam serum > 150 mEq/l

  1. Berdeasarkan derajatnya
  • Dehidrasi ringan

Berat badan< 5 %, haus meningkat, membran mukosa sedikit kering, tekanan jadi normal, hanya ada ekstremitas perfusi, mata sedikit cekung, fontanela normal, tugor masih baik, status mental normal.

  • Dehidrasi sedang

Berat badan turun 5-10%, keadaan umum gelisah, haus meningkat, tugor turun, frekuensi janting meningkat, membran mukosa kering, merah, kadang sianosis, mata cekung, tekanan nadi mengecil, dan frekuesi keluar urin mengurang, kembalinya kapiler lambat,setatus mental normal sampai lesu.

  • Dehidrasi berat

Berat badan turun 5-10%, keadaan umum gelisah sampai apatis,bibir kering, merah, kadang sianosis, tugor kulit jelek, mata dan fontanela cekung, tekanan nadi mengecil, dan frekuesi keluar urin tidak ada, nafas frekuesi tachikardi, ekstremitas dingin, haus meningkat

  1. Hipernatremia

Sering terjadi pada bayi baru lahir sampai usia 1 tahun ( khususnya bayi berumur <6 bulan ). Biasanya terjadi pada diare yang disertai mutah dengan intake cairan atau makanan kurang / cairan yang diminum terlalu banyak mengandung Na, pada bayi juga dapat terjadi jika setelah diare sembuh diberi oralit dalam jumlah berlebihan.

  1. Hiponatremia

Terjadi pada penderita diare yang minum sedikit cairan / tidak mengandung Na. Penderita gizi buruk mempunyai kecenderungan mengalami hiponatremia.

 

  1. Demam

Demam sering terjdi pada infeksi Shigella disertai dan rota virus. Pada demam umumnya akan timbul jika penyebab diare mengadakan infasi kedalam epitel usus. Demam juga dapat juga terjadi karena dehidrasi. Demam yang terjadi akibat dehidrasi umumnya tidak tinggidan akan turun setelah mengalami hidrasi yang cukup. Demam yang tinggi mungkin diikuti kejang demam.

  1. Asidosis Metabolic

Ditandai dengan bertambahnya asam/hilangnya basa cairan ekstra seluler. Sebagai kompensasi terjadi asidosis respirasi , yang diatandai dengan pernafasan cepat dan dalam.

  1. Hipokalemia ( sereum K,3,0 mMol/L)

Penggantian K sealama dehidrasi yang tidak cukup, maka akan terjadi kekurangan K yang ditandai dengan kelemahan pada tungkai, ileus, kerusakan ginjal, dan aritmia jantung

  1. Intoleransi sekunder akibat kerusakan vili mukosa usus dan defisiensi enzim laktase
  2. Ileus paratukus

Komplikasi yang sering dan fatal terutama pada anak kecil sebagai akibat penggunaan obat anti motilitas.

  1. Intoleransi laktosa

Pada penderita intoleransi laktosa, pemberian susu formula pada penderita diare dapat menimbulkan volume tinja bertambah, BB tidak bertambah, tanda dan gejala dehidarasi memburuk dan tinja terdapat reduksi dalam jumlah cukup banyak.

  1. Kejang, terjadi karena :
    1. Hipoglikemia, kalau anak dipuasakan terlalu lama
    2. Kejang demam
    3. Hipernatremia dan hiponatremia
    4. Penyakit pada SSP yang tidak ada hubunganya dengan diare seperti meningitis, ensefalitis/epilepsi.
    5. Malnutrisi energi protein (akibat muntah dan diare, jika lama atau kronik)
    6. Cardiac dysrhythmias akibat hipokalsemi dan hipokalsemi.
    7. Mutah

Dapat disebabkan oleh dehidrasi, iritasi usus karena infeksi ileus yang menyebabkan gangguan fungsi usus yang ber hubungan dengan infeksi sistemik. Mutah dapat disebabkan karena pemberian cairan oral terlalu cepat.

 

  1. K.    PENATALAKSANAAN
  1. Penatalaksanaan Medis

Dasar pengobatan diare adalah:

1)      Pemberian cairan

  1. Belum ada dehidrasi

Per oral sebanyak anak mau minum (ad libitum) atau 1 gelas tiap defekasi

  1. Dehidrasi ringan
  • 1 jam pertama: 25-50 ml/kgBB per oral (intragastrik)
  • selanjutnya: 125 ml/kgBB per oral (intragastrik)
  1. Dehidrasi sedang
  • 1 jam pertama: 50-100 ml/kgBB per oral/intragastrik (sonde)
  • selanjutnya: 125 ml/kgBB/hari ad libitum.
  1. Dehidrasi berat

Untuk anak umur 1 bulan – 2 tahun berat badan 3 – 10 kg.

  • 1 jam pertama

12 ml/kgBB/jam = 3 tetes /kgBB/menit (set infus berukuran 1 ml = 15 tetes) atau 13 tetes/kgBB/menit (1 set infus 1 ml = 20 tetes).

  • 7 jam berikut:

12 ml/kgBB/jam = 3 tetes/kgBB/menit (1 set infus = 15 tetes) atau  4 tetes/kgBB/menit (set infus 1 ml = 20 tetes).

  • 16 jam berikut:

125 ml/kgBB per oral atau intragastrik. Bila anak tidak mau minum, teruskan DG aa intravena 2 tetes/kgBB/menit (set infus 1 ml = 15 tetes) atau  3 tetes/kgBB/menit (set infus 1 ml = 20 tetes).

 

Untuk anak lebih dari 2 – 5 tahun dengan berat badan 10-15 kg.

  • 1 jam pertama:

30 ml/kgBB/jam atau 8 tetes/kgBB/menit (1 ml = 15 tetes) atau 10 tetes/kgBB/menit (1 ml = 20 tetes).

  • 7 jam berikutnya:

10 ml/kgBB/jam atau 3 tetes/kgBB/menit (1 ml = 15 tetes) atau 4 tetes/ kgBB/menit (1 ml = 20 tetes).

  • 16 jam berikutnya:

125 ml/kgBB oralit per oral atau intragastrik. Bila anak tidak mau minum dapat diteruskan dengan DG aa intravena 2 tetes/kgBB/menit (1 ml = 15 tetes) atau 3 tetes/kgBB/menit (1 ml = 20 tetes).

Untuk anak lebih dari 5 – 10 tahun dengan BB 15-25 kg

  • 1 jam pertama

20 ml/kgBB/jam atau 5 tetes/kgBB/menit (1 ml = 15 tetes) atau 7 tetes/kgBB/menit (1 ml = 20 tetes).

  • 7 jam berikut:

10 ml/kgBB/jam atau 2 ½ tetes/kgBB/menit (1 ml = 15 tetes) atau 3 tetes/kgBB/menit (1 ml = 20 tetes).

  • 16 jam:

105 ml/kg BB oralit peroral atau bila anak tidak mau minum dapat diberikan DG aa intravena 1 tetes/kgBB/menit (1 ml = 15 tetes) atau 1 ½ tetes/kgBB/menit (set 1 ml = 20 tetes)

Untuk bayi baru lahir (neonatus) dengan berat badan 2-3 g

  • Kebutuhan cairan:

125 ml + 100 ml = 250 ml/kgBB/24 jam.

  • Jenis cairan:

Cairan 4:1 (4 bagian glukosa 5% + 1 bagian NaHCO3 1 ½%)

  • Kecepatan:

4 jam pertama: 25 ml/kgBB/jam atau 6 tetes/kgBB/menit (1 ml = 15 tetes) 8 tetes/kgBB/menit (1 ml = 20 tetes).

20 jam berikutnya: 150 ml/kgBB/20 jam atau 2 tetes/kgBB/menit (1 ml = 15 tetes)  atau 2 ½ tetes/kgBB/menit (1 ml = 20 tetes).

Untuk bayi berat badan lahir rendah, dengan berat badan kurang dari 2 kg .

  • Kebutuhan cairan:

25 ml/kgBB/24  jam

  • Jenis cairan:

Cairan 4:1 (4 bagian glukosa 10% + 1 bagian NaHCO3 1 ½%)

  • Kecepatan:

Saa dengan pada bayi baru lahir.

Cairan untuk pasien MEP sedang dan berat dengan diare dehidrasi berat. Misalnya untuk anak umur 1 bulan – 2 tahun dengan berat badan 3-10 kg.

  • Jenis cairan: DG aa
  • Jumlah cairan: 250 ml/kgBB/24 jam (tabel 3.3).
  • Kecepatan:

4 jam pertama: 60 ml/kgBB/jam atau 15 ml/kgBB/jam atau = 4 tetes/kgBB/menit (1 ml = 15 menit) atau 5 tetes/kgBB/menit (1 ml =

20 jam berikutnya: 150 ml/kgBB/20 jam atau 2 tetes/kgBB/menit (1 tetes).

20 jam berikutnya: 190 ml/kgBB/20 jam atau 10 ml/kgBB/jam atau 2 ½ tetes/kgBB/menit (1 ml = 15  tetes) atau 3 tetes/kgBB/menit (1 ml = 20 tetes).

Pemberian cairan pasien  MEP tipe marasmik.

Kwaskhiorkor dengan diare dehidrasi berat dan pasien MEP 3-10 kg, umur 1 bulan – 2 tahun jumlah cairan 200 ml/kg BB/24 jam.

2)      Pengobatan dietetik

Untuk anak (1 tahun dan > 1 tahun dengan BAB<7 kg, jenis makanannya:

-          Susu (ASI dan atau formula yang mengandung laktosa rendah dan asam lemak tidak jenuh).

-          Makanan ½ padat (bubur), makanan padat (nasi tim).

-          Susu khusus sesuai dengan kelainannya misalnya tidak mengandung laktosa/asam lemak berantai sedang atau jenuh.

 

Cara memberikan:

Hari

Ket

1.

  • Setelah rehidrasi segera diberikan makanan per oral
  • Bila beri susu tetapi tetap diare, maka beroralit selang-seling dengan ASI.

2-4

  • Beri susu formula rendah laktosa penuh.

5

  • Bila tidak ada kelainan dipulangkan.

 

3)      Obat-obatan

  1. Obat anti – sekresi
  2. Obat spasmolitik
  3. Antibiotik, diberikan jika jelas penyebabnya misal oleh bakteri.

Cairan per oral

-          Pasien dehidrasi ringan dan sedang diberi cairan per oral yaitu NaCl dan NaHCO­3, KCl dan glukosa.

-          Pasien diare akut dan koleri umur 6 bulan diberi Natrium 90 mEq/L.

-          Pasien umur 6 bulan de ngan dehidrasi ringan/sedang diberi Natrium 50-60 mEq/L.

-          Pemberian formula tidak lengkap (mengandung garam dan gula), lengkap (oralit).

Cairan parenteral

-          Pemberian RL sesuai dengan berat/ringannya penyakit dan juga sesuai umur dan BBnya.

 

  1. Penatalaksanaan Keperawatan

1)      Resiko terjadi gangguan sirkulasi darah

a)      Bila dehidrasi masih ringan

-          Beri minum sebanyak-banyaknya ± 1 gelas/pasien defekasi

-          Cairan mengand ung elektrolit seperti oralit

-          Jika anak muntah dapat diberikan melalui sonde

-          Jika lewat oral tidak bisa makan dipasang infus RL sesuai persetujuan dokter.

 

b)      Pada dehidrasi berat

Selama 4 jam pertama tetesan lebih cepat, jumlah cairan yang masuk tubuh dapat dihitung dengan cara:

-          Jumlah tetesan permenit dikalikan 60, dibagi 15/20 (sesuai set infus yang dipakai0

-          Perhatikan tanda vital: denyut, nadi, pernapasan, suhu dan tekanan darah.

-          Perhatikan frekuensi buang iar besar anak apakah masih sering, encer/sudah berubah konsistensinya.

-          Beri minuman teh/oralit 1-2 sendok setiap jam untuk mencegah bibir dan selaput lendir kering.

-          Jika rehidrasi telah terjadi, infus dihentikan, pasien diberi makan lunak.

2)      Kebutuhan nutrisi

-          Beri makanan mengandung cukup kalori, protein, mineral vitamin tetapi tidak menimbulkan diare kembali.

-          Beri ASI terus bagi bayi yang masih minum ASI.

-          Bila bayi tidak minum ASI diberi susu yang cocok.

-          Bagi anak di atas 1 tahun dan sudah makan biasa dianjurkan makan bubur tanpa sayuran  dan minum teh bagi hari masih diare, hari keesokannya jika membaik boleh diberi wortel daging tidak berlemak.

3)      Risiko terjadi komplikasi

Biasanya terjadi dehidrasi asidosis, dan komplikasi terjadi sebagai akibat tindakan pengobatan sebagai berikut:

-          Infeksi terjadi hematom, flebitis

-          Kelebihan cairan terjadi sembab, mengkilap pada kelopak mata bayi, bengkak seluruh wajah, jika berlanjut edema paru, sesak nafas bila edema sampai otak, kejang, sehinga terutama untuk bayi tetesannya harus tepat.

-          Kulit iritasi dan lecet pada anus dan sekitarnya, dapat dibersihkan dengan kapas yang dibasahi minyak sayur, jangan sesekali beri bedak.

-          Kejang-kejang karena hipoglikemia atau kelebihan cairan.

-          Malnutrisi energi protein.

4)      Gangguan  rasa aman dan nyaman

-     Karena sering buang air sehingga melelahkan dapat dirawat di atas eltor bed.

-     Bagi pasien dilakukan biopsi usus perlu diberi penjelasan dan motivasi, karena posisinya miring 2 – 3 jam.

5)      Kurang pengetahuan orang tua mengenai penyakit

-          Beri penyuluhan, seperti penularan penyakit melalui 4 F (finger, feces, food, dan fly) yaitu:

  • Mencuci tangah
  • Membiasakan defekasi di jamban
  • Kebersihan lingkungan menghindari lalat
  • Makanan selalu tertutup dan air minum yang di masak.

-     Jangan lupa memberikan oralit,  dan ini hanya untuk pencegahan.

·         CARA PEMBUATAN ORALIT

  1. Bahan dan Peralatan
  2. Satu gelas belimbing air matang hangat 200 cc
  3. Satu sendok makan gula pasir
  4. Satu jimp[it atau sepucuk sendok the garam dapur
    1. Cara membuat

Masukan gula dan garam ke dalam gelasd yang telah berisi air matang hangat, aduk hingga rata kemudian minumkan kkepada penderita

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pathways Diare

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber : Suriadi & Yuliani R ( 2001 ). Asuhan Keperawatan Pada Anak, Edisi 1 ,  Jakarta, CV, Sagung Seto

 

 

ASUHAN KEPERAWATAN

 

A. PENGKAJIAN

  1. Wawancara

Anamnesa yang perlu diketahui pada pasien diare sebagai berikut :

    1. Umur

pada pasien geriatric biasanya akibat tumor , divertikulitis, laksan berlebih. Pada pasien muda dan anak- anak biasanya infeksi, intoleransi lactase, sindrom kolon iritatif.

    1. Frekuensi Diare

biasanya frekuensi diare oleh infeksi bakteri biasanya dari hari ke hari makin sering, berbeda dengan diare akibat minum laksan atau akibat salah makan

    1. Lamanya Diare

diare akut biasanya berlangsung cepat, diare kronik berlansung lama

    1. Nyeri Abdomen

nyeri abdomen disertai diare terjadi pada infeksi bakterial pada usus, sedangkan nyeri sesudah diare yang tidak pernah puas pada infeksi maupun sindrom mauoun usus iritabel

  1. Data Subyektif

1)      Keluhan utama : BAB cair , lemas, gwelisah, mual muntah, anoreksia, badan panas.

2)      Frekuensi BAB cair dalam sehari lebih dari 3x

3)      Adanya riwayat reaksi alergi terhadap suatu zat, makanan/inuman, atau lingkungan.

4)      Pengobatan diare telah dilakukan dan efektifitasnya

5)      Kebiasaan dan pola makan anak seperti makan makanan terbuka, suka makan makanan pedas.

  1. Data Obyektif

1)      Mata cekung

2)      Ubun – ubun besar dan cekung

3)      Turgor kulit kurang dan kering

4)      Lidah, bibir dan mukosa kering

5)      Konsistensi feses cair

6)      Peningkatann suhu tubuh

7)      Penurunan BB

8)      Pasien tampak lemah dan lemas

  1. Pemeriksaan fisik

kesadaran : compasmentis, pasda dehidrasi berat dapat terjadiapatis, somnolen, kadaang sopokomateus.

Keadaan umum : sedamg atau lemah

Vital sign :

ü  pada dehidrasi berat dapat terjadi renjatan hupovolemik dengan :

  • TD  menurun ( missal 90/40 mmHg )
  • Nadi sepat sekali (tachikardi )
  • Suhu terjadi peningkatan karena dehidrasi dan dapat juga karena adanya infeksi dalam usus
  • Respirasi cepat jika terjadi dehidrasi akut dam berat karena adanya kompensasi asam basa.

Pemerisaan Fisik

a. Kepala dan Muka

Kepala         : inspeksi ada tidaknya ubun – ubun yang besar dan agak                                           cekung

Rambut       : terjadi rontok atau merah karena malnutrisi

Mata            : mata pada umumnya agak cekung

Mulut          : mukosa kering, bibir pecah – pecah , lidah kering, bibir                                             sianosis.

Pipi              : pada tulang pipi biasanya menonjol

Wajah          : tampak lebih pucat

b. Leher

Umumnya tidak terjadi pembesaran kelenjar tiroid

c. Jantung

Menimbulkan aritmia jantung

d. Abdomen

Inspeksi : inspeksi umumnya simetris, supel tidak ada lesi

Perkusi : tympani ( kembung)

Palpasi  : umumnya ada nyeri tekan bagian perut bawah yaitu bagian usus dan dapat terjadi kejang perut .

Auskultasi : bising usus >30x / menit

e. Anus

Anus terjadi iritasi, kemerahan padsa daerah sekitarnya

f. Kulit

Kekenyalan kulit sedikit kurang dan elastisitas kembali setelah 1 – 2 detik

e. Pemeriksaan Penunjang

1. Data Laboratorium

a)      Pemeriksaan Tinja

1. makroskopis : Bentuk cair, kurang lebih jumlahnya 250 gram dalam sehari                      2. mikroskopis  : Na normal dalam tinja 56 – 105 mEq/l, chloride normal

dalam tinja 55 – 95 mEq/l, kalium normalnya 25 – 26 mEq/l,

HCO3 normalnya 14 – 31 meq/l.

b)      PH dan kadar gula dapat diperiksqa dengan kertas lakmus dan tablet clini test bila diduga   terjadi intoleransi gula.

1. PH kurang dari 6

2. gula tinja     +          :  0.5 %

++        : 0.75 %

+++     : 1 %

++++   : 2 %

normalnya tidak ada gula dalam tinja

c)      Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah lebih tepat lagi dengan dilakukan pemeriksaan analisa gas darah

Pemeriksaan BE CO2 PH
Nilai normal 48 mEq/l 27 mEq/l 7,4
Alkalosis metabolic +
Alkalosis respiratorik -
Asidosis metabolic -
Asidosis respiratorik +

 

d. Pemeriksaan kadar urin dan kreatinin untuk mengetahui faal ginjal

1. urin : normalnya 20 – 40 mg / dl, jika terjadi peningkatan maka

menunjukan terjadi dehidrasi

2. kreatinin : normalnya 0.5 – 1.5 mg/dl

e. Pemeriksaan Darah

Darah lengkap meliputi elektrolit serum, kreatinin, BUN menunjukan adanya dehidrasi, hemoglobin, hematokrit, dan BUN biasanya mengalami penurunan pada diare akut

f. Duodenal Intubation

untuk mengetahui kuiman penyebab secar kuantitatif terutama pada diare                           kronik.

 

2. Rekto kolonoskopi

kolonoskopi tidak diindikasikan pada diare akuttapiu pada waktu lebih dari 10 hari  tidak berhenti / cenderung menjadi kronik maka rekto sigmoidoskopi sangat perlu . Bila diare berdarah mutlak perlu dilakukan rektokolomoskopi.

 

3. Foto sinar X ( Rontgen )

foto sinar X tidak perlu dilakukan pada diare akut. Pada kasus diare akur peranan

Rontgen sudah digantikan oleh endoskopi. Lain halnya pada diare kronik dimana pemeriksaan sinar X memegang peranan yang sama dengan endoskopi.

 

B.        DIAGNOSA KEPERAWATAN

1.   Kurang volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan dan elektrolit pada tubuh.

2.   Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan absorbsi.

3.   Nyeri akut berhubungan dengan hiperperistaltik usus.

4.   Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan sering defekasi.

5.   Hipertermi berhubungan dengan dehidrasi.

6.   Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang terpaparnya informasi

C. INTERVENSI

1.   Kurang volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan dan elektrolit pada tubuh.

Tujuan             :     Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan kebutuhan cairan dan elektrolit terpenuhi.

NOC               :     Fluid balance

KH                  :

1. Mempertahankan urine output sesuai dengan usia

Umur

O (ml)

1 – thn

3 – 5 thn

5 – 8 thn

8 – 14 thn

14 – 18 thn

500 – 600

600 – 700

700 – 1000

800 – 1400

1500

-          Bj urine normal 20 – 40 mg/dl

-          HT normal

-          Pada    laki-laki           :           40 – 48%

-          Wanita             :           37 – 43%

2.  Tekanan darah, nadi, suhu tubuh dalam batas normal

  • Tekanan darah

1 thn                95/65 mmHg

6 thn                05/65 mmHg

10 – 13 thn      110/65 mmHg

14 – 17 thn      120/75 mmHg

  • Nadi

Umur                           Bangun                        tidur

1 – 2 thn                      80 – 150                      70 – 120

2 thn – 10 thn              70 – 110                      60 – 90

10 thn – 18 thn            55 – 90                        50 – 90

  • Suhu tubuh

1 thn          37,7oC

2 – 5 thn    37,2oC

6 – 18 thn  37oC

3. Tidak ada tanda-tanda dehidrasi, elastisitas turgor kulit baik. Membran mukosa lembato, tidak ada rasa haus yang berlebihan.

Keterangan skala:

1.   Tidak pernah menunjukkan

2.   Jarang menunjukkan

3.   Kadang menunjukkan

4.   Sering menunjukkan

5.   Selalu menunjukkan

NIC                 :     Fluid manajement

  1. Timbang pokok/pembalut jika diperlukan
  2. Pertahankan catatan intake dan output yang akurat.
  3. Monitor status hidrasi (kelemahan membran mukosa, nadi adekuat)
  4. Monitor vital sign
  5. Monitor cairan/makanan dan hitung intake kalon harian
  6. Kolaborasikan pemberian cairan IV
  7. Masukkan oral
  8. Keluarga untuk membantu pasien maka

 

2.   Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan absorbsi.

Tujuan             :     Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan nutrisi pasien terpenuhi

NOC               :     Nutritional status food and fluid intake

KH                  :     1.   Adanya peningkatan BB sesuai tujuan (BB dan TB ideal)

  1. BB ideal sesuai dengan tinggi badan
  2. Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi (pasien mengerti jadwal makanan dan jenis makanan)
  3. Tidak ada tanda-tanda mal nutrisi (tanda-tanda malnutrisi dan jenis makanan bibir pecah-pecah kulit, rambut rontok, BB menurun dan rambut kemerahan)
  4. Menunjukkan peningkatan fungsi pengecapan menelan (pasien mau makan, porsi makan habis)
  5. Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti (BB normal)

Keterangan skala:

1.      Tidak pernah menunjukkan

2.      Jarang menunjukkan

3.      Kadang menunjukkan

4.      Sering menunjukkan

5.      Selalu menunjukkan

NIC                 :     Nutrition management

Intervensi        :     –     Kolaborasi dengan gahli gizi untuk menentukan nurisi yang dibutuhkan pasien.

-          Berikan makanan yang terpilih udah dikonsultasikan dengan ahli gizi.

-          Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kolaborasi.

-          Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan.

NIC                 :     Nutrition monitoring

Intervensi        :     –     BB pasien dalam batas normal

-          Monitor adanya penurunan BB pasien.

-          Monitor interaksi anak/orang tua selama makan.

-          Monitor kulit kering dan perubahan pigmentasi

-          Monitor turgor kulit

-          Monitor makanan kesukaan

-          Monitor pucat, kemerahan, dan kekeringan jangan konjungtiva.

 

3.   Nyeri akut berhubungan dengan hiperperistaltik usus.

Tujuan             :     Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan rasa nyeri berkurang

NOC               :     Control nyeri

KH                  :     -     Mengenal faktor penyebab (makanan dan frekuensi BAB)

-          Menggunakan metode pencegahan non analget (ditraksi, relaksasi)

-          Mengenali gejala-gejala nyeri (mules, cengeng, gelisah, eksprewi wajah merintih, memegangi perut)

Keterangan skala:

1.   Tidak pernah menunjukkan

2.   Jarang menunjukkan

3.   Kadang menunjukkan

4.   Sering menunjukkan

5.   Selalu menunjukkan

NIC                 :     Pain management

Intervensi        :     1.   Kaji secara komprehensif tentang nyeri meliputi lokasi, karakteristik dan durasi frekuensi, kualitas/ beratnya nyeri.

  1. Observasi, isyarat-isyarat non verbal dari ketidak-nyamanan, khususnya dalam ketidakmampuan, khususnya dalam ketidakmampuan untuk komunikasi secara efektif.
  2. Gunakan komunikasi terapeutik agar pasien dapat mengekspresikan  nyeri.
  3. Evaluasi tentang keefektifan dan tindakan mengontrol  nyeri yang telah digunakan.
  4. Kontrol faktor-faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon pasien terhadap ketidaknyamanan.
  5. Tingkatkan tidur/istirahat yang cukup.

 

4.   Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan sering defekasi.

Tujuan             :     Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan integritas kulit kembali normal.

NOC               :     Tissue integrty: skind and mucous membranes.

KH                  :     -     Integritas  kulit yang baik, bisa dipertahankan/kulit elastis, tidak.

-          Tidak ada luka (lesi pada kulit pada kemerahan, kulit tidak kering).

-          Mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembahan kulit dan perawat alami (pemberian baby oil/lotioon, tidak diberikan bedak)

Keterangan      :     -     Tidak pernah menunjukkan

-          Jarang menunjukkan

-          Kadang menunjukkan

-          Sering menunjukkan

-          Selalu menunjukkan

NIC                 :     Pressure management

Intervensi        :     -     Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang normal

-          Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering

-          Monitor kulit akan adanya kemerahan

-          Oleskan lotion/minyak/baby oil pada daerah yang tertekan

-          Memandikan pasien dengan sabun dan air hangat

 

5.   Dx                   :     Hipertermi berhubungan dengan dehidrasi

Tujuan             :     Setelah dilakukan tindak akun keperawatan selama proses keperawatan diharapkan suhu tubuh dalam rentang normal (36,5o C)

NOC               :     Thermoregulation

KH                  :     -     Suhu tumbuh dalam rentang normal (36,5o C)

-          Nadi dan RR dalam rentan normal (nadi: 80-100 x/mnt, R: 15 – 20 x/mnt).

-          Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak ada pusing.

NIC                 :     Fever treatment

Intervensi        :     -     Monitor suhu sesering mungkin

-          Monitor IWL

-          Beri cairan intravena (infus RL 20 tetes/mm)

-          Beri anti piretik

-          Beri kompres pada lipat paha dan aksila

Keterangan skala:

1.   Tidak pernah menunjukkan

2.   Jarang menunjukkan

3.   Kadang menunjukkan

4.   Sering menunjukkan

5.   Selalu menunjukkan

 

 

6.   Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang terpaparnya informasi

Tujuan             :     Setelah dilakukan tindakan keperawatan/selama proses keperawatan diharapkan pengetahuan pasien betambah.

NOC               :     Knowledge: disease proces

KH                  :     -     Pasien dan keluarga mengatakan pemahaman  tentang penyakit, kondisi, prognosis, program pengobatan.

-          Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan secara benar.

-          Pasien dan keluarga ampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan perawat/tim kesehatan lainnya.

Keterangan skala:

1.   Tidak pernah menunjukkan

2.   Jarang menunjukkan

3.   Kadang menunjukkan

4.   Sering menunjukkan

sss5.           Selalu menunjukkan

NIC                 :     Teaching: disease process

Intervensi        :     -     Jelaskan patofisiologi, dan penyakit.

-          Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit dengan cari yang benar.

-          Gambarkan proses penyakit dengan cara yang tepat.

-          Sediakan informasi pada pasien tentang kondisi dengan cara yang tepat.

-          Diskusikan perubahangayahidup yang

 

EVALUASI

1.   Kurang volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan dan elektrolit pada tubuh.

1.Mempertahankan urine output sesuai dengan usia                          (skala 4)

Umur

O (ml)

1 – thn

3 – 5 thn

5 – 8 thn

8 – 14 thn

14 – 18 thn

500 – 600

600 – 700

700 – 1000

800 – 1400

1500

Bj urine normal 20 – 40 mg/dl

HT normal

Pada    laki-laki           :           40 – 48%                                                                                                                                                                                             Wanita             :           37 – 43%

2.Tekanan darah, nadi, suhu tubuh dalam batas normal                     (skala 4)

Tekanan darah

1 thn    95/65 mmHg

6 thn    105/65 mmHg

10 – 13 thn      110/65 mmHg

14 – 17 thn      120/75 mmHg

Nadi

Umur   Bangun                        tidur

1 – 2 thn          80 – 150                      70 – 120

2 thn – 10 thn  70 – 110                      60 – 90

10 thn – 18 thn            55 – 90                        50 – 90

Suhu tubuh

1 thn    37,7oC

2 – 5 thn          37,2oC

6 – 18 thn        37oC

3.Tidak ada tanda-tanda dehidrasi, elastisitas turgor kulit baik         (skala 4)

Membran mukosa lembab, tidak ada rasa haus yang berlebihan.

 

  1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan absorbsi.
    1. Adanya peningkatan BB sesuai tujuan (BB dan TB ideal)    (skala 4)
    2. BB ideal sesuai dengan tinggi badan                                      (skala 4)
    3. Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi                           (skala 4)

(pasien mengerti jadwal makanan dan jenis makanan)

    1. Tidak ada tanda-tanda mal nutrisi                                          (skala 4)

(tanda-tanda malnutrisi dan jenis makanan bibir pecah-pecah

kulit, rambut rontok, BB menurun dan rambut kemerahan)

    1. Menunjukkan peningkatan fungsi pengecapan                       (skala 4)

menelan (pasien mau makan, porsi makan habis)

    1. Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti                  (skala 4)

(BB normal)

 

3.   Nyeri akut berhubungan dengan hiperperistaltik usus

  1. Mengenal faktor penyebab (makanan dan frekuensi BAB)   (skala 4)
  2. Menggunakan metode pencegahan non analget                     (skala 4)

(ditraksi, relaksasi)

  1. Mengenali gejala-gejala nyeri (mules, cengeng, gelisah,         (skala 4)

eksprewi wajah merintih memegangi perut)

 

4.   Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan sering defekasi.

  1. Integritas  kulit yang baik, bisa dipertahankan/kulit elastis.   (skala 4)
  2. Tidak ada luka (lesi pada kulit pada kemerahan,                    (skala 4)

kulit tidak kering).

  1. Mampu melindungi kulit dan mempertahankan                     (skala 4)

kelembahan kulit dan perawat alami (pemberian

baby oil/lotion, tidak diberikan bedak)

 

5.   Hipertermi berhubungan dengan dehidrasi

  1. Suhu tumbuh dalam rentang normal (36,5o C)                       (skala 4)
  2. Nadi dan RR dalam rentan normal                                         (skala 4)

(nadi: 80-100 x/mnt, R: 15 – 20 x/mnt).

  1. Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak ada pusing.        (skala 4)

 

6.   Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang terpaparnya informasi

  1. Pasien dan keluarga mengatakan pemahaman                              (skala 4)

tentang penyakit, kondisi, prognosis, program pengobatan.

  1. Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur                   (skala 4)

yang dijelaskan secara benar.

  1. Pasien dan keluarga ampu menjelaskan kembali apa                    (skala 4)

yang dijelaskan perawat/tim kesehatan lainnya.

 

Ket skala         :     1.   Tidak pernah dilakukan

  1. Jarang dilakukan
  2. Kadang dilakukan
  3. Sering dilakukan
  4. Selalu dilakukan

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Behrman, dkk. 1999. Ilmu Kesehatan Anak Nelson.Jakarta: EGC.

 

Dona. 1996. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Edisi 4.Jakarta: EGC.

 

Hinchliff, Sue. 1999. Kamus Keperawatan Edisi 17.Jakarta: EGC.

 

Mansjoer, Arif, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga Jilid I.Jakarta: Media Aesculapius.

 

Ngastiyah. 2002. Perawatan Anak Sakit. Edisi 2.Jakarta: EGC.

 

Ramali, Ahmad. 2003. Kamus Kedokteran Edisi 24.Jakarta: Djambatan.

 

Suharyono, dkk. 1998. Gastroenterologi Anak Praktis.Jakarta:Gaya Baru.

 

Suntosa, Budi. 2005. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda. 2005-2006. Definisi dan Klasifikasi.Yogyakarta: Prima Medika.

 

Suriadi, dkk. 2001. Asuhan Keperawatan pada Anak. Jakarta: PT. Fajar Interpratama