Arsip untuk ‘Keperawatan Maternitas’ Kategori

askep endometritis

Posted: Juni 2, 2011 in Keperawatan Maternitas

ENDOMETRITIS

 

A.    PENGERTIAN

-          Endometritis adalah suatu peradangan endometrium yang biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri pada jaringan. (Taber, B., 1994).

-          Endometritis adalah infeksi pada endometrium (lapisan dalam dari rahim). (Manuaba, I. B. G., 1998).

-          Endometritis adalah suatu infeksi yag terjadi di endometrium, merupakan komplikasi pascapartum, biasanya terjadi 48 sampai 72 jam setelah melahirkan.

 

B.     ETIOLOGI

Endometritis sering ditemukan pada wanita setelah seksio sesarea terutama bila sebelumnya ada riwayat koriomnionitis, partus lama, pecah ketuban yang lama. Penyebab lainnya dari endometritis adalah adanya tanda jaringan plasenta yang tertahan setelah abortus dan melahirkan. (Taber, B. 1994).

Menurut Varney, H. (2001), hal-hal yang dapat menyebabkan infeksi pada wanita adalah:

-          Waktu persalinan lama, terutama disertai pecahnya ketuban.

-          Pecahnya ketuban berlangsung lama.

-          Adanya pemeriksaan vagina selama persalinan dan disertai pecahnya ketuban.

-          Teknik aseptik tidak dipatuhi.

-          Manipulasi intrauterus (pengangkatan plasenta secara manual).

-          Trauma jaringan yang luas/luka terbuka.

-          Kelahiran secara bedah.

-          Retensi fragmen plasenta/membran amnion.

 

C.    KLASIFIKASI

Menurut Wiknjosastro (2002),

-          Endometritis akuta

Terutama terjadi pada masa post partum / post abortum.

Pada endometritis post partum regenerasi endometrium selesai pada hari ke-9, sehingga endometritis post partum pada umumnya terjadi sebelum hari ke-9. Endometritis post abortum terutama terjadi pada abortus provokatus.

Pada endometritis akuta, endometrium mengalami edema dan hiperemi, dan pada pemeriksaan mikroskopik terdapat hiperemi, edema dan infiltrasi leukosit berinti polimorf yang banyak, serta perdarahan-perdarahan interstisial. Sebab yang paling penting ialah infeksi gonorea dan infeksi pada abortus dan partus.

Infeksi gonorea mulai sebagai servisitis akut, dan radang menjalar ke atas dan menyebabkan endometritis akut. Infeksi gonorea akan dibahas secara khusus.

Pada abortus septik dan sepsis puerperalis infeksi cepat meluas ke miometrium dan melalui pembuluh-pembuluh darah limfe dapat menjalar ke parametrium, ketuban dan ovarium, dan ke peritoneum sekitarnya. Gejala-gejala endometritis akut dalam hal ini diselubungi oleh gejala-gejala penyakit dalam keseluruhannya. Penderita panas tinggi, kelihatan sakit keras, keluar leukorea yang bernanah, dan uterus serta daerah sekitarnya nyeri pada perabaan.

Sebab lain endometritis akut ialah tindakan yang dilakukan dalam uterus di luar partus atau abortus, seperti kerokan, memasukan radium ke dalam uterus, memasukan IUD (intra uterine device) ke dalam uterus, dan sebagainya.

Tergantung dari virulensi kuman yang dimasukkan dalam uterus, apakah endometritis akut tetap berbatas pada endometrium, atau menjalar ke jaringan di sekitarnya.

Endometritis akut yang disebabkan oleh kuman-kuman yang tidak seberapa patogen pada umumnya dapat diatasi atas kekuatan jaringan sendiri, dibantu dengan pelepasan lapisan fungsional dari endometrium pada waktu haid. Dalam pengobatan endometritis akuta yang paling penting adalah berusaha mencegah, agar infeksi tidak menjalar.

Gejalanya :

  • Demam
  • Lochea berbau : pada endometritis post abortum kadang-kadang keluar flour yang purulent.
  • Lochea lama berdarah malahan terjadi metrorrhagi.
  • Kalau radang tidak menjalar ke parametrium atau parametrium tidak nyeri.

Terapi :

  • Uterotonika.
  • Istirahat, letak fowler.
  • Antibiotika.
  • Endometritis senilis perlu dikuret untuk menyampingkan corpus carsinoma. Dapat diberi estrogen.

 

-          Endometritis kronika

Endometritis kronika tidak seberapa sering terdapat, oleh karena itu infeksi yang tidak dalam masuknya pada miometrium, tidak dapat mempertahankan diri, karena pelepasan lapisan fungsional darn endometrium pada waktu haid. Pada pemeriksaan mikroskopik ditemukan banyak sel-sel plasma dan limfosit. Penemuan limfosit saja tidak besar artinya karena sel itu juga ditemukan dalam keadaan normal dalam endometrium.

Gejala-gejala klinis endometritis kronika adalah leukorea dan menorargia.

Pengobatan tergantung dari penyebabnya.

 

Endometritis kronis ditemukan:

  1. Pada tuberkulosis.
  2. Jika tertinggal sisa-sisa abortus atau partus.
  3. Jika terdapat korpus alineum di kavum uteri.
  4. Pada polip uterus dengan infeksi.
  5. Pada tumor ganas uterus.
  6. Pada salpingo – oofaritis dan selulitis pelvik.

Endometritis tuberkulosa terdapat pada hampir setengah kasus-kasus TB genital. Pada pemeriksaan mikroskopik ditemukan tuberkel pada tengah-tengah endometrium yang meradang menahun.

Pada abortus inkomplitus dengan sisa-sisa tertinggal dalam uterus terdapat desidua dan vili korealis di tengah-tengah radang menahun endometrium.

Pada partus dengan sisa plasenta masih tertinggal dalam uterus, terdapat peradangan dan organisasi dari jaringan tersebut disertai gumpalan darah, dan terbentuklah apa yang dinamakan polip plasenta.

Endometritis kronika yang lain umumnya akibat ineksi terus-menerus karena adanya benda asing atau polip/tumor dengan infeksi di dalam kavum uteri.

Gejalanya :

  • Flour albus yang keluar dari ostium.
  • Kelainan haid seperti metrorrhagi dan menorrhagi.

Terapi :

  • Perlu dilakukan kuretase.

 

D.    GAMBARAN KLINIS

Gambaran klinis dari endometritis tergantung pada jenis dan virulensi kuman, daya tahan penderita dan derajat trauma pada jalan lahir. Kadang-kadang lokhea tertahan oleh darah, sisa-sisa plasenta dan selaput ketuban. Keadaan ini dinamakan lokiometra dan dapat menyebabkan kenaikan suhu yang segera hilang setelah rintangan dibatasi. Uterus pada endometrium agak membesar, serta nyeri pada perabaan, dan lembek. Pada endometritis yang tidak meluas penderita pada hari-hari pertama merasa kurang sehat dan perut nyeri, mulai hari ke 3 suhu meningkat, nadi menjadi cepat, akan tetapi dalam beberapa hari suhu dan nadi menurun, dan dalam kurang lebih satu minggu keadaan sudah normal kembali, lokhea pada endometritis, biasanya bertambah dan kadang-kadang berbau. Hal yang terakhir ini tidak boleh menimbulkan anggapan bahwa infeksinya berat. Malahan infeksi berat kadang-kadang disertai oleh lokhea yang sedikit dan tidak berbau.

Gambaran klinik dari endometritis:

  1. Nyeri abdomen bagian bawah.
  2. Mengeluarkan keputihan (leukorea).
  3. Kadang terjadi pendarahan.
  4. Dapat terjadi penyebaran.

-          Miometritis (pada otot rahim).

-          Parametritis (sekitar rahim).

-          Salpingitis (saluran otot).

-          Ooforitis (indung telur).

-          Pembentukan penahanan sehingga terjadi abses.

(Manuaba, I. B. G., 1998)

 

Menurut Varney, H (2001), tanda dan gejala endometritis meliputi:

-          Takikardi 100-140 bpm.

-          Suhu 30 – 40 derajat celcius.

-          Menggigil.

-          Nyeri tekan uterus yang meluas secara lateral.

-          Peningkatan nyeri setelah melahirkan.

-          Sub involusi.

-          Distensi abdomen.

-          Lokea sedikit dan tidak berbau/banyak, berbau busuk, mengandung darah seropurulen.

-          Awitan 3-5 hari pasca partum, kecuali jika disertai infeksi streptococcus.

-          Jumlah sel darah putih meningkat.

 

E.     PATOFISIOLOGI

Kuman-kuman masuk endometrium, biasanya pada luka bekas insersio plasenta, dan waktu singkat mengikut sertakan seluruh endometrium. Pada infeksi dengan kuman yang tidak seberapa patogen, radang terbatas pada endometrium. Jaringan desidua bersama-sama dengan bekuan darah menjadi nekrosis serta cairan. Pada batas antara daerah yang meradang dan daerah sehat terdapat lapisan terdiri atas lekosit-lekosit. Pada infeksi yang lebih berat batas endometrium dapat dilampaui dan terjadilah penjalaran.

 

 

 

 

 

PATHWAY KEPERAWATAN

 

Bakteri/kuman

(melalui luka bekas insersio plasenta)

Masuk ke endometrium

Nyeri


Gangguan psikologis                      Radang endometrium

Ibu

Jaringan desidua + bekuan darah

Resiko tinggi terhadap perubahan menjadi orang tua


                Nekrosis                                   Tidak nafsu makan

      Getah berbau             Keputihan                    Intake kurang

Kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

 

 

 

 

 


( Wiknjosastro, H. 2002 )

 

F.     KOMPLIKASI

-          Wound infection

-          Peritonitis

-          Adnexal infection.

-          Parametrial phlegmon

-          Abses pelvis

-          Septic pelvic thrombophlebitis.

 

G.    PENATALAKSANAAN

-          Antibiotika ditambah drainase yang memadai merupakan pojok sasaran terpi. Evaluasi klinis daan organisme yang terlihat pada pewarnaan gram, seperti juga pengetahuan bakteri yang diisolasi dari infeksi serupa sebelumnya, memberikan petunjuk untuk terapi antibiotik.

-          Cairan intravena dan elektrolit merupakan terapi pengganti untuk dehidrasi ditambah terapi pemeliharaan untuk pasien-pasien yang tidak mampu mentoleransi makanan lewat mulut. Secepat mungkin pasien diberikan diit per oral untuk memberikan nutrisi yang memadai.

-          Pengganti darah dapat diindikasikan untuk anemia berat dengan post abortus atau post partum.

-          Tirah baring dan analgesia merupakan terapi pendukung yang banyak manfaatnya.

-          Tindakan bedah: endometritis post partum sering disertai dengan jaringan plasenta yang tertahan atau obstruksi serviks. Drainase lokia yang memadai sangat penting. Jaringan plasenta yang tertinggal dikeluarkan dengan kuretase perlahan-lahan dan hati-hati. Histerektomi dan salpingo – oofaringektomi bilateral mungkin ditemukan bila klostridia teah meluas melampaui endometrium dan ditemukan bukti adanya sepsis sistemik klostridia (syok, hemolisis, gagal ginjal).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN ENDOMETRITIS

 

PENGKAJIAN

  1. Aktifitas/istirahat

-          Malaise, letargi.

-          Kelelahan/keletihan yang terus menerus.

  1. Sirkulasi

-          Takikardi.

  1. Eliminasi

-          Diare mungkin ada.

-          Bising usus mungkin tidak ada jika terjadi paralitik ileus.

  1. Integritas ego

-          Ansietas jelas (poritunitis).

  1. Makanan atau cairan

-          Anoreksia, mual/muntah.

-          Haus, membran mukosa kering.

-          Distensi abdomen, kekakuan, nyeri lepas (peritonitis).

  1. Neurosensori

-          Sakit kepala.

  1. Nyeri/ketidaknyamanan.

-          Nyeri lokal, disuria, ketidaknyamanan abdomen.

-          Nyeri abdomen bawah/uterus serta nyeri tekan.

-          Nyeri/kekakuan abdomen.

  1. Pernapasan

-          Pernapasan cepat/dangkal (berat/pernapasan sistemik).

  1. Keamanan

-          Suhu 38 derajat celcius atau lebih terjadi jika terus-menerus, di luar 24 jam pascapartum.

-          Demam ringan.

-          Menggigil.

-          Infeksi sebelumnya.

-          Pemajanan lingkungan.

  1. Seksualitas

-          Pecah ketuban dini/lama, persalinan lama.

-          Hemorargi pascapartum.

-          Tepi insisi: kemerahan, edema, keras, nyeri tekan, drainase purulen.

-          Subinvolusi uterus mungkin ada.

-          Lokhia mungkin bau busuk/tidak bau, banyak/berlebihan.

  1. Interaksi sosial

-          Status sosio ekonomi rendah.

Pemeriksaan Diagnostik

-          Jumlah sel darah putih: normal/tinggi.

-          Laju sedimentasi darah dan jumlah sel darah merah: sangat meningkat pada adanya infeksi.

-          Hemoglobin/hematokrit (Hb/Ht): penurunan pada adanya anemia.

-          Kultur (aerobik/anaerobik) dari bahan intrauterus/intraservikal drainase luka/pewarnaan gram dari lokhia servik dan uterus: mengidentifikasi organisme penyebab.

-          Urinalisis dan kultur: mengesampingkan infeksi saluran kemih.

-          Ultrasonografi: menentukan adanya fragmen-fragmen plasenta yang tertahan, melokalisasi abses peritoneum.

-          Pemeriksaan bimanual: menentukan sifat dan lokasi nyeri pelvis,massa, pembentukan abses atau adanya vena-vena dengan trombosis.

-          Bakteriologi: spesimen darah, urin dikirim ke laboratorium bakteriologi untuk pewarnaan gram, biakan dan pemeriksaan sensitifitas antibiotik. Organisme yang sering diisolasi dari darah pasien dengan endometritis setelah seksio sesarea adalah peptokokus, enterokokus, clostridium, bakterioles fragilis, Escherechia coli, Streptococcus beta hemilitikus, stafilokokus koagulase-positif, mikrokokus, proteus, klebsiela dan streptokokus viridans (Di Zerega).

-          Kecepatan sedimentasi eritrosit:

Nilai dari tes ini sangat terbatas karena derajat sedimentasi cenderung meningkat selama kehamilan maupun selama infeksi.

-          Foto abdomen

Udara di dalam jaringan pelvis memberi kesan adanya mionekrosis klostridia.

 

DIAGNOSA KEPERAWATAN

  1. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan prosedur invasive.
  2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan masukan yang tidak adekuat.
  3. Nyeri akut berhubungan dengan respon tubuh dan sifat infeksi.
  4. Resiko tinggi terhadap perubahan menjadi orang tua berhubungan dengan interupsi pada proses pertalian, penyakit fisik, ancaman yang dirasakan pada kehidupan sendiri.

 

INTERVENSI

  1. Diagnosa Keperawatan I:

Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan prosedur invasive.

Intervensi:

-          Tinjau ulang catatan prenatal, intrapartum dan pascapartum.

-          Pertahankan kebijakan mencuci tangan dengan ketat untuk staf, klien dan pengunjung.

-          Berikan dan instruksikan klien dalam hal pembuangan linen terkontaminasi.

-          Demonstrasikan massase fundus yang tepat.

-          Pantau suhu, nadi, pernapasan.

-          Observasi/catat tanda infeksi lain.

-          Pantau masukan oral/parenteral.

-          Anjurkan posisi semi fowler.

-          Selidiki keluhan-keluhan nyeri kaki dan dada.

-          Anjurkan ibu bahwa menyusui secara periodik memeriksa mulut bayi terhadap adanya bercak putih.

-          Kolaborasi dengan medis.

  1. Diagnosa Keperawatan II:

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan masukan yang tidak adekuat.

Intervensi:

-          Anjurkan pilihan makanan tinggi protein, zat besi dan vitamin C bila masukan oral dibatasi.

-          Tingkatkan masukan sedikitnya 2000 ml/hari jus, sup dan cairan nutrisi lain.

-          Anjurkan tidur/istirahat adekuat.

-          Kolaborasi dengan medis.

  • Berikan cairan/nutrisi parenteral, sesuai indikasi.
  • Berikan parenteral zat besi dan atau vitamin sesuai indikasi.
  • Bantu penempatan selang nasogastrik dan Miller Abbot.
  1. Diagnosa Keperawatan III:

Nyeri akut berhubungan dengan respon tubuh dan sifat infeksi.

Intervensi:

-          Kaji lokasi dan sifat ketidakmampuan/nyeri.

-          Berikan instruksi mengenai membantu mempertahankan kebersihan dan kehangatan.

-          Instruksikan klien dalam melakukan teknik relaksasi.

-          Anjurkan kesinambungan menyusui saat kondisi klien memungkinkan.

-          Kolaborasi dengan medis:

  • Berikan analgesik/antibiotik.
  • Berkan kompres panas lokal dengan menggunakan lampu pemanas/rendam duduk sesuai indikasi.
  1. Diagnosa Keperawatan IV:

Resiko tinggi terhadap perubahan menjadi orang tua berhubungan dengan interupsi pada proses pertalian, penyakit fisik, ancaman yang dirasakan pada kehidupan sendiri.

Intervensi:

-          Berikan kesempatan untuk kontak ibu bayi kapan saja memungkinkan.

-          Pantau respon emosi klien terhadap penyakit dan pemisahan dari bayi, seperti depresi dan marah.

-          Anjurkan klien untuk menyusui bayi.

-          Observasi interaksi bayi-ibu.

-          Anjurkan ayah/anggota keluarga lain untuk merawat dan berinteraksi dengan bayi.

-          Kolaborasi dengan medis.

 

EVALUASI

  1. Diagnosa Keperawatan I

Mengungkapkan pemahaman tentang faktor resiko penyebab secara individual. Melakukan perilaku untuk membatasi penyebaran infeksi dengan tepat, menurunkan risiko komplikasi.

Mencapai pemulihan tepat waktu.

  1. Diagnosa Keperawatan II

Memenuhi kebutuhan nutrisi yang dibuktikan oleh pemulihan luka tepat waktu, tingkat energi tepat, penurunan berat badan dan Hb/Ht dalam batas normal yang diharapkan pasca partum.

  1. Diagnosa Keperawatan III

Mengidentifikasi/menggunakan tindakan kenyamanan yang tepat secara individu.

Melaporkan ketidaknyamanan hilang atau terkontrol.

  1. Diagnosa Keperawatan IV

Menunjukkan perilaku kedekatan terus-menerus selama interaksi orang tua-bayi.

Mempertahankan/melakukan tanggung jawab untuk perawatan fisik dan emosi terhadap bayi baru lahir, sesuai kemampuan.

Mengekspresikan kenyamanan dengan peran sebagai orang tua.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Bagian Obstetri dan Ginekologi FKUP Bandung. (1981). Obstetric Patologi.Bandung: Elstar Offset.

Barlzad, A. (1993). Endokrinologi Ginekologi.Jakarta: KSERI. Media Aesculapius.

Doengoes, Marilynn. E. (2001). Rencana Perawatan Maternal/Bayi: Pedoman Untuk Perencanaan Dan Dokumentasi Perawatan Klien.Jakarta: EGC.

Duenhoelter, J.H. (1989). Ginekologi greenhill (edisi 10)Jakarta: EGC.

Mansjoer, A. (1999). Kapita Selekta Kedokteran (Jilid 1).Jakarta: Media Aesculapius.

Simmons, Gema T. (2005). Endometritis. Available at: http://www.emedicine.com/med/topic 676.htm. September 15th, 2005.

Taber, Ben-Zion. (1994). Kapita Selekta Kedaruratan Obstetri Dan Ginekologi.Jakarta: EGC.

Varney, H. (2002). Buku Saku Bidan.Jakarta: EGC.

Wiknjosastro, H. (2002). Ilmu Kebidanan.Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.

Wiknjosastro, H. (1991). ILMU KEBIDANAN. Edisi III.Jakarta : Gramedia.


askep IUD

Posted: Juni 2, 2011 in Keperawatan Maternitas

 

IUD

(Intra Uterine Device)

 

  1. I.       PENGERTIAN

-          IUD adalah alat yang terbuat dari plastik dan berukuran kecil.                        (BKKBN, 1998).

-          Bentuk inert plastik yang diletakkan di dalam uterus. (Hamilton, 1995).

-          IUD merupakan benda asing yang ditempatkan didalam vacum uteri untuk mencegah kehamilan. (Maulany, 1994, 174).

-          IUD merupakan alat kontrasepsi dalam rahim. (Emanuel F, 1998).

  1. II.    MACAM-MACAM/JENIS IUD

Pada masa ini IUD telah memasuki era generasi keempat, Karena itu berpuluh macam IUD telah dikembangkan mula dari generasi pertama yang terbuat dari benang sutera dan logam (besi baja, stainless steel, dan tembaga) sampai pada generasi plastik (polietilen) baik yang tidak ditambahi obat (unmedicated) maupun yang dibubuhi obat (medicated).

Menurut bentuknya IUD dibedakan menjadi:

-          Bentuk terbuka (open device) misalnya Lippes Loop, CU-T, Cu-7, Margulies, Spring Coil, Multiload, Nova-T, dan lain-lain.

-          Bentuk tertutup (closed device), misalnya Ota Ring, Antigon, Grafenberg Ring, Hall-Stone Ring, dan lain-lain. Pada bentuk tertutup, bila terjadi dislokasi kedalam rongga perut maka harus dikembangkan, karena dapat menyebabkan masuknya usus kedalam lubang atau cincin, dan kemudian terjadilah ileus.

Menurut tambahan obat atau metal:

-          Medicated IUD, misalnya Cu-T-200, 220, 300, 380A; Cu-7, Nova-T, ML-Cu 250, 375; Progrestarest, dan lain-lain.

-          Unmedicated IUD, misalnya Lippes Loop, Margulies, Saf-T Coil, Antigon, dan lain-lain.

III. INDIKASI

Pemasukkan IUD untuk tujuan kontrasepsi dapat dilakukan dengan cara:

-          Telah mempunyai anak hidup satu atau lebih.

-          Ingin menjarangkan kehamilan (spacing).

-          Sudah cukup anak hidup, tidak mau hamil lagi, namun takut atau menolak cara permanent (kontrasepsi mantap). Biasanya dipasang IUD yang efektif lama (Lippes Lood, Nova-T untuk 5 tahun dan sebagainya).

IV. KONTRA INDIKASI

-          Kehamilan

-          Peradangan panggul

-          Peradangan uterus abnormal

-          Karsinoma organ-organ panggul

-          Malformasi rahim

-          Mioma uteri terutama jenis submukosa

-          Dismenorea berat

-          Stenosis kanalis servikalis

-          Anemi berat dan gangguan pembekuan darah

-          Penyakit jantung rematik.

  1. V.    CARA KERJA

Hingga dewasa ini masih belum jelas mekanisme kerja IUD. Telah banyak teori-teori yang dikemukakan oleh berbagai penelitian, namun mekanisme yang pasti belum ditemukan. Pada domba, IUD mencegah pembuahan dengan jalan menstimulir fagositosis dan/atau sitolisis yang menghancurkan sel dalam uterus sebelum pembuahan, serta menghalangi mobilitas sel mani dalam tuba.

Mekanisme kerja IUD:

Berbagai teori dan hipotesis tentang mekanisme kerja IUD adalah sebagai berikut:

  1. Meningkatkan peristaltic usus dan tuba sehingga mendorong sel telur yang belum/sudah dibuahi selit untuk berimplantasi.
  2. Menghasilkan enzim luteolisis yang mempengaruhi fungsi korpus luteum.
  3. Menghasilkan sel-sel radang yang berefek toksis terhadap embrio yang akan berimplantasi.
  4. Terbentuk sel sebagai reaksi terhadap adanya benda asing dan sel  ini dapat menstimulasi fagositosis terhadap spermatozoa.
  5. Bersifat abortifan mekanik karena endomertium yang mengalami trauma akan menolak implantasi embrio muda.

Bila disimpulkan, maka mekanisme kerja IUD mungkin sebagai akibat tergantungnya sel mani dan/atau ovum oleh karena gangguan implantasi blastokista.

VI. EFEK SAMPING

Efek samping IUD cukup tinggi untuk mencegah kehamilan dalam jangka waktu yang lama. Angka kehamilan IUD berkisar antara 1,5-3 per 100 wanita pada tahun pertama dan angka ini akan semakin rendah untuk tahun-tahun berikutnya.

Factor-faktor yang dapat mempengaruhi angka kehamilan IUD adalah jenis IUD; ukuran, besar dan luasnya permukaan IUD; umur aseptor; lamanya pemakaian; dan ukuran teraturnya menjalani jadwal kontrol untuk periksa ulangan.

Sebagian dari kehamilan terjadi dalam 6 bulan pertama setelah insersi, sehingga untuk memperkecil kemungkinan hamil dapat dianjurkan untuk mempergunakan cara atau alat lain selama 6 bulan pertama setelah pemasangan, misalnya kondom atau pantang berkala. Bila selama ini memakai pil, dianjurkan untuk terus memanaknya selama 6 bulan setelah insersi IUD.

  1. VII.          WAKTU PEMASANGAN IUD

Sedang Haid

Pada waktu ini pemasangan akan mudah karena kanalis servikalis agak melebar dan kemungkinan tidak begitu banyak, inipun dianggap oleh wanita sebagai darah haid.

Pasca Persalinan

Pemasangan dini (Immediate Insertion), yaitu pemasangan sebelum ibu dipulangkan dari rumah sakit. Pemasangan langsung (Direct Insertion), yaitu pemasangan 3 bulan setelah ibu dipulangkan. Pemasangan tidak langsung (Indirect Insertion), yaitu pemasangan setelah lebih dari 3 bulan pasca persalinan atau keguguran.

Pasca Keguguran

Langsung setelah keguguran, atau dipasang sewaktu  ibu pulang dari rumah sakit.

Masa Interval

Yaitu antara 2 haid. Bila dipasang setelah masa ovulasi, harus disiapkan wanita tidak hamil atau mereka telah memakai cara-cara lain untuk mencegah konsepsi (kondom, sistem kalender, dan sebagainya).

Sewaktu Seksio Sesarea

Sebelum luka rahim ditutup terlebih dahulu dikeluarkan darah-darah beku dari vacuum uteri, kemudian IUD dipasang pada bagian fundus.

Afteri Morning

Pada kasus-kasus dimana dilakukan tonius dilakukan koitus, maka IUD dipasang dalam waktu 72 jam kemudian, sebelum terjadi implantasi blastokista.

  1. VIII.       TEKNIK PEMASANGAN AKDR

Memperhatikan penyulit AKDR, maka pemasangan perlu mendapat perhatian:

  1. Persiapan pemasangan AKDR
    1. Penderita tidur terlentang di meja ginekologi
    2. Vulva dibersihkan dengankapas lisol, betadin, hibiscrub atau lainnya.
    3. Dilakukan pemeriksaan dalam untuk menentukan besar dan dalam rahim.
    4. Duk steril dipasang dibawah bokong.
    5. Speculum cocor bebek dipasang, sehingga serviks tampak.
    6. Serviks-portio dibersihkan dengan kapas betadin atau lisol atau lainnya.
    7. Dilakukan sodage untuk menentukan dalam-panjang rahim dan arah posisi rahim.
    8. Persiadan dan Pemasangan AKDR

Dikemukakan beberapa jenis pemasangan AKDR sebagai berikut:

  1. Jenis Lippes Loop

-          Lippes Loop dimasukkan kedalam introdusor dari pangkal, sampai mendekati ujung proksimal.

-          Tali AKDR dapat dipotong dahulu, sesuai keinginan atau dipotong kemudian setelah pemasangan.

-          Introdusor dimasukkan kedalam rahim, sesuai dengan dalamnya rahim.

-          Pendorong AKDR dimasukkan kedalam introdusor untuk mendorong sehingga Lippes Loop terpasang.

-          Setelah pemasangan, maka introdusor dan pendorongnya ditarik bersama.

-          Tali AKDR dapat dipotong sependek mungkin untuk menghindari sentuhan penis dan menghindari infeksi.

Komplikasi pemasangan Lippes Loop adalah:

  1. Perforasi yang dapat terjadi pada saat pemasangan atau terjadi kemungkinan dalam bentuk translokasi.
  2. Gejala pervorasi  IUCD adalah penderita merasa nyeri sampai terjadi syok.

Cara menghadapi perforasi IUCD saat pemasangan:

  1. IUCD ditarik kembali
  2. Observasi: keadaan umum, tekanan darah, nadi, dan suhu; evaluasi perdarahan dalam kavum abdomen.
  3. Pengobatan pervorasi IUCD.

-          Anjurkan masuk rumah sakit

-          Berikan antibiotic

-          Observasi keadaan umum dan perdarahan dalam abdomen

-          Bila keadaan umum menurun dilakukan tindakan opersi

  1. Sikap bidan menghadapi pervorasi IUCD saat pemasangan.

-          Konsultasi pada dokter puskesmas, atau dokter ahli.

-          Penderita segera dirujuk ke rumah sakit.

  1. Jenis Cupper T atau Seven Cupper

AKDR Seven Cupper atau Cuper T telah tersedia dalam keadaan steril, dan baru dibuka menjelang pemasangan.

-    Bingkus Seven Cupper atau Cuper T dibuka.

-    AKDR-nya dimasukkan kedalam introdusor melalui ujungnya sampai batas tertentu dengan memakai sarung tangan steril.

-    Introdusor dengan AKDR terpasang dimasukkan dedalam rahim sampai menyentuh fundus uteri dan ditarik sedikit.

-    Pendorong selanjutnya mendorong AKDR sehingga terpasang.

-    Introdusor dan pendorongnya ditarik.

  1. Jenis Multiload atau Medusa

AKDR jenis Medusa atau Multiload telah siap untuk dipasang langsung:

-    Pembungkus AKDR dibuka menjelang pemasangan.

-    Teknik pemasangan langsung dengan mendorong sampai mencapai fundus uteri, tanpa berhenti.

-    Setelah mencapai fundus uteri, introdusornya ditarik.

-    Tali AKDR dipotong sependek mungkin.

-    Sterilisasi pemasangan Medusa atau Multiload lebih terjamin, komplikasi pervorasi terjadi saat pemasangan AKDR

  1. Pemeriksaan ulang AKDR

Setelah pemasangan AKDR perlu dilakukan kontrol medis dengan jadwal:

  1. Setelah pemasangan kalau dipandang perlu diberikan antibiotika profilaksis.
  2. Jadwal pemeriksaan ulang:

-          Dua minggu setelah pemasangan

-          Satu bulan setelah pemeriksaan pertama

-          Tiga bulan setelah pemeriksaan kedua

-          Setiap satu bulan sampai satu tahun

Untuk AKDR tanpa bahan aktif Cupper; pemakaiannya dapat berlangsung sampai menjelang menopause. Sedangkan AKDR dengan bahan aktif Cupper pemakaiannya tiga sampai empat tahun selanjutnya diganti.

  1. Waktu AKDR di buka

Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) dapat dibuka sebelum waktunya bila dijumpai:

-                Ingin hamil kembali

-                Leukorea, sulit diobati dan peserta menjadi kurus

-                Terjadi infeksi

-                Terjadi perdarahan

-                Terjadi kehamilan mengandung bahan aktif dengan AKDR

Alat kontrasepsi dalam rahim tidak dapat dipasang pada keadaan:

  1. Terdapat infeksi genetalia;

-          Menimbulkan eksaserbasi (kambuh) infeksi.

-          Keadaan patologis lokal: Frungkle, stenosis vagina; inveksi vagina

  1. Dugaan keganasan serviks
  2. Perdarahan dengan sebab yang tidak jelas
  3. Pada kehamilan: Terjadi abortus, nudah perforasi, perdarahan, infeksi.

IX. EFEK SAMPING DAN KOMPLIKASI

Nyeri dan Mulas

Kejang, nyeri dan mulas-mulas serta pegal di pinggang-pinggang biasanya terjadi sehabis insersi IUD, yang pada umumnya akan hilang dalam waktu beberapa hari sampai beberapa minggu. Pengobatannya adalah analgetika dan spasmolitika.

Perdarahan

Dapat terjadi perdarahan pasca-insersi, bercak diluar haid (spoting), atau perdarahan meno atau metroragi. Perdarahan ditangani dengan memberikan obat-obatan seperti; Ermetrin, Metergin, Daflon, Kalsium, Vitamin K dan C, Abodan AC-17 dan sebagainya. Jika perlu diberikan antibiotic. Jika dengan cara-cara perdarahan tidak berhenti atau tetap banyak, dianjurkan untuk mencabut IUD.

Keputihan (Fluor Albus, Lekorea)

Keputihan yang berlebihan mungkin terjadi disebabkan oleh reaksi organ genitalia terhadap benda asing yang biasanya terjadi pada beberapa bulan pertama setelah insersi. Sebelum dilakukan pengobatan, carilah penyebabnya terlebih dahulu. Dapat diberikan tablet oral atau tablet vaginal.

Dismenorea (Nyeri selama haid)

 Tidak seluruhnya wanita yang memakai IUD akan menderita nyeri haid, biasanya terjadi memang pada wanita-wanita yang sebelumnya memang sering mengeluh nyeri sewaktu haid. Pengobatannya dengan memberi analgetika dan spasmolitika.

Disparenia (Nyeri sewaktu Koitus)

 Wanita jarang merasakannya, sering pihak suami mengeluh sakit karena benang yang panjang atau cara pemotongannya seperti bambu runcing. Penanganannya dengan memendekkan benang dan buatlah agar ujungnya tumpul.

Ekspusi (IUD keluar dengan sendirinya)

Sering dijumpai pada masa 3 bulan pertama setelah insersi, setelah satu tahun angka ekspulsi akan berkurang. Biasanya terjadi sewaktu haid.

Faktor-faktoryang berperan pada terjadinya ekspulsi adalah:

  1. Faktor IUD

-          Jenis IUD: Ekspulsi lebih jarang terjadi pada jenis IUD tertutup.

-          Ukuran IUD: Makin besar ukurannya makin kecil kemungkinan terjadinya ekspulsi.

  1. Waktu pemasangan

-          – Angka ekspulsi lebih tinggi pada pemasangan dini dan pada pemasangan langsung dalam waktu bulan pertama pasca persalinan.

  1. Faktor Akseptor

-          Umur dan paritas akseptor; makin tinggi usia dan pasitas makin rendah kejadian ekspulsi.

-          Adanya kelainan pada alat genitalia; misalnya inkompetensi serviks, kelainan uterus, dan sebagainya. Ekspulsi lebih sering terjadi pada kanalis serviks yang terbuka.

Infeksi

Radang panggul (Pelvic Inflamatory Disease = PID) dijumpai pada sekitar 2% akseptor pada tahun pertama pemakaian, namun infeksi ini bersifat ringan. Yang perlu diingat adalah waktu memasang IUD hendaknya bekerja secara lege artis dan suci hama.  

Translokasi-Dislokasi

Translokasi IUD masuk kedalam rongga perut, sebagian atau seluruhnya, umumnya karena adanya perforasi uterus. Hal ini paling sering terjadi pada waktu insersi IUD yang kurang hati-hati atau karena adanya lokus minoris pada dinding rahim atau pada waktu usaha pengeluarannya sulit.

Perforasi dengan translokasi IUD sebagian besat tidak menimbulkan gejala; sebagian besar baru diketahui setelah beberapa kali pemeriksaan ulang, dimana benang tadi melihat. Perforasi lebih sering terjadi pada IUD jenis tertutup; pada pemasangan pasca persalinan dan masa laktasi, serta pada kelainan letak uterus tidak diketahui.

Sikap sebagian besar ahli IUD mengenai translokasi ini adalah sebagai berikut:

-          Karena IUD tertutup (Closed IUD) yang sudah berulang dapat menimbulkan obstruksi usus (Ileus), maka sebaiknya segera dikeluarkan dengan jalan laparoskopi, kuldoskopi atau minilaparotomi.

-          IUD yang mengandung ion-ion tembaga (Copper), karena dapat menimbulkan perlekatan-perlekatan organ dalam perut, maka sebaiknya segera dikeluarkan seperti di atas.

-          Sedangkan pada IUD jenis dan bentuk terbuka (Open IUD), jika tidak ada gejala dan akseptor dapat diberi pengertian, pengeluaran IUD tidak perlu dilakukan terburu-buru. Kecuali bila oleh karena ini akseptor menjadi tidak tenang, dan meminta dikeluarkan, maka kita wajib mengeluarkannya.

Kehamilan Dengan IUD Insitus

Kehamilan dengan IUD insitu di jumpai pada 1 sampai 3 kasus per 100 wanita dalam tahun pertama pemakaian. 2 dari 3 kehamilan terjadi dengan IUD insitu dan selebihnya terjadi karena ekspulsi yang tidak diketahui. Risiko terjadinya keguguran pada kehamilan dengan IUD insitu lebih tinggi dibandingkan dengan kehamilan tanpa IUD. Risiko terjadinya abortus psontan adalah sama jika IUD-nya dicabut atau dibiarkan dalam uterus.

Sikap kita jika menghadapti kehamilan dengan IUD insitu:

-          Bila benang masih dapat terlihat, maka dianjurkan untuk mencabut IUD. Biasanya benang masih dapat terlihat pada lehamilan kurang dari 12 minggu.

-          Bila benang tidak terlihat, biarkan IUD insitu.

-          Beberapa sarjana menganjurkan pencabutan IUD bila IUD dilapisi tembaga atau logam lainnya, karena mempunyai efek teratogenik pada janin dan dikhawatirkan akan terjadi abortus septic.

-          Bila menggunakan IUD tanpa tambahan logam dan bila IUD tidak dapat dikeluarkan karena benang tidak terlihat, maka kehamilan dapat diteruskan. Tidak pernah dilaporkan terjadi malformasi janin akibat IUD insitu sampai kehamilan cukup bulan. IUD yang tetap berada di luar kantung amnion, akan keluar bersama selaput ketuban atau plasenta sewaktu melahirkan.

  1. X.    KEUNTUNGAN  DAN KERUGUAN AKDR

 Alat kontrasepsi dalam dahim dapat diterima masyarakat dunia, termasukIndonesiadan menempati urutan ketiga dalam pemakaian. Keuntungan AKDR sebagai beriktu:

  1. Dapat diterima masyarakat dengan baik
  2. Pamasangan tidak memerlukan medis teknis yang sulit
  3. Kontrol medis yang ringan
  4. Penyulit tidak terlalu berat.
  5. Pulihnya kesuburan setelah AKDR dicabut berlangsung baik

Alat AKDR bukanlah alat kontrasepsi yang sempurna, sehingga masih terdapat beberapa kerugian sebagai berikut:

  1. Masih terjadi kehamilan dengan AKDR insitu
  2. Terdapat perdarahan: Spotting dan Menometroragia.
  3. Leokorea, sehingga menguras protein tubuh dan liang senggama terasa lebih basah.
  4. Dapat terjadi infeksi.
  5. Tingkat akhir infeksi menimbulkan kemandulan primer atau sekunder dan kehamilan ektopik.
  6. Tali AKDR dapat menimbulkan perlukaan portio uteri dan mengganggu hubungan seksual.

Sekalipun masih dijumpai penyulit AKDR kelangsungan pemakaian cukup tinggi, sehingga tetap menjadi andalan gerakan Keluarga Berencana Nasional.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2003. Serba Serbi Kontrasepsi. http://www.dktindonesia.org/andalaniud.php02:0824-05-2006

Bagian Obstruksi dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran bandung. 1980. Teknik Keluarga Berancana.Bandung: Eistar offset.

Bagus, Ida Gede Manuaba. 1998. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana.Jakarta: EGC.

Chamberlain, Geoffery, dkk. 1994. Obstetri dan Ginekologi Praktis.Jakarta: Widya Medika.

Entjang, Indian. 1981. Pendidikan Kependudukan dan Keluarga Berencana.Bandung: Alumni.

Friedman, Emanuel A, dkk. 1998. Seri Skema Diagnosis dan Penatalaksanaan Obstetri Edisi Kedua.Jakarta: Binarupa Aksara.

Hakim, Lukman. 1977. Pil Anti Hamil dan Pengaruh Sampingan.Yogyakarta: Konisius.

Hamitan, Persis Mary. 1995. Dasar-Dasar Keperawatan Maternitas.Jakarta: EGC.

JapanInternasional Cooperation Agung. 1981. Aspek-Aspek Kesehatan KB.Jakarta. PusdiklatDepkesRIJapan International Cooperation Agung (JICA).

Jar. 2006. Tak Lelah Mengkapmanyekan  Kontrasepsi Mantap. http://www.republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid=2&id=241580&kat_id=105&kat_id1=150&kat_id2=20702:1924-05-2006

Krisnadi, Sofie Rifayani. 2002.h Alat Kontrasepsi Dalam Rahin (AKDR) Intra Uterine0Device0(IUD).Bandung.ttp://www.ibuhamil.com/new_design/lihat_artikel.php?id=1&asal=2&limit=20 01:41 25-05-2006

Mochtar, Pustam. 1995. Sinopsis Obstetri.Jakarta: EGC.

Syahrum, Mohammad Hatta, dkk. 1994. Reproduksi dan Embriologi: Dari Satu Sel Menjadi Organisme.Jakarta: FKUI.

ASUHAN KEPERAWATAN

  1. I.       PENGKAJIAN

-          Kaji identitas pasien.

-          Kaji riwayat ibu tentang alat kontrasepsi yang digunakan sebelumnya.

-          Kaji pengetahuan ibu tentang kontrasepsi dan komitmen pasangannya terhadap IUD yang dipilih.

-          Kaji data frekuensi koitus.

-          Kaji apakah ibu memiliki satu atau lebih pasangan seksual serta metode kontrasepsi yang digunakan.

-          Kaji pola keyakinan dan budaya klien.

-          Kaji dan catat dengan teliti tentang respon verbal dan non verbal ketika ibu mendengar berbagai metode kontrasepsi.

-          Kaji pertimbangan rencana kehidupan reproduksi klien.

-          Kaji adanya kontraindkiasi dari pemasangan IUD.

-          Kaji pasien dan panjang rahim dalam pemeriksaan pinggul.

  1. II.    DIAGNOSA
    1. Resiko tinggi infeksi b.d penggunaan metode kontrasepsi IUD.
    2. Resiko tinggi pola perubahan seksual b.d takut hamil.
    3. Rasa takut b.d efek dari penggunaan kontrasepsi
    4. Disstres spiritual b.d ketidaksesuaian keyakinan atau budaya dalam pemilihan kontrasepsi.

III. INTERVENSI

Dx I

Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan dapat mengurangi atau mencegah infeksi dengan kriteria hasil:

-    Tidak terdapat tanda-tanda infeksi.

Tindakan Keperawatan:

  1. Ajarkan klien memeriksa benang IUD setiap kali haid dan pada waktu evaluasi serta sebelum koitus.

Rasional: Mendeteksi kemungkinan IUD keluar dari rahim tanpa diketahui.

  1. Kaji adanya kehamilan saat IUD dalam rahim.

Rasional: Mengurangi resiko abortus yang terjadi akibat IUD masih dalam rahim.

  1. Kaji adannya alergi terhadap tembaga.

Rasional: Adanya alergi tembaga menyebabkan adanya ruam.

  1. Beri tahu tentang tanda-tanda komplikasi potensial.

Rasional: Mendeteksi dini adanya komplikasi.

Dx II

Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan rasa takut ibu/klien akan efek samping dari pemasangan kontrasepsi hingga/menurun kriteria hasil:

-    Klien lebih siap untuk dilakukan pemasangan IUD.

Tindakan Keperawatan:

  1. Diskusikan bersama klien tentang efek samping dari kontrasepsi.

Rasional: Membantu mengurangi rasa takut akan efek samping kontrasepsi.

Dx III

Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan rasa takut ibu/klien saat melakukan hubungan seksual hilang/berkurang dengan kriteria hasil:

-    Ibu mengatakan tidak takut lagi untuk melakukan hubungan seksual.

Tindakan Keperawatan:

  1. Jelaskan serta diskusikan bersama klien tentang keuntungan dan kerugian dari penggunaan kontrasepsi IUD.

Rasional: Membantu mengurangi rasa takut klien.

  1. Diskusikan tentang cara yang aman melakukan hubungan seksual.

Rasional: Menambah pengetahuan klien tentang cara hubungan seksual yang baik.

 

Dx IV

Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan klien lebih yakin dengan penggunaan kontrasepsi yang dipilih dengan kriteria hasil:

-    Klien menyatakan tentang kepahamannya tentang kontrasepsi yang dipilih.

Tindakan Keperawatan:

1.Diskusikan bersama kilen tentang mitos/keyakinan/agama/budaya yang dimiliki klien berkaitan dengan pemasangan IUD.

Rasional: Membantu meyakinkan klien dengan kontrasepsi yang dipilih.

IV. EVALUASI

  1. Rasa takut ibu akan efek samping dan kontrasepsi yang digunakan hilang.
  2. Tidak terjadinya infeksi/infeksi menurun.
  3. Ibu tidak takut lagi melakukan hubungan seksual.
  4. Ibu yakin dengan kontrasepsi yang telah dipilih.