askep anak child abuse

Posted: Juni 2, 2011 in Keperawatan Anak

LAPORAN PENDAHULUAN

 

  1. A.    PENGERTIAN
    1. Child abuse adalah seorang anak yang mendapat perlakuan badani yang keras, yang dikerjakan sedemikian rupa sehingga menarik perhatian suatu badan dan menghasilkan pelayanan yang melindungi anak tersebut. (Delsboro, 1963)
    2. Child abuse dimana termasuk malnutrisi dan mentelantarkan anak sebagai stadium awal dari indrom perlakuan salah, dan penganiayaan fisik berada pada stadium akhir yang paling berat dari spectrum perlakuan salah oleh orang tuanya / pengasuh. (Fontana, 1971)
    3. Child abuse adalah setiap tindakan yang mempengaruhi perkembangan anak sehingga tidak optimal lagi.
    4. Child Abuse adalah tindakan yang mempengaruhi perkembangan anak sehingga tidak optimal lagi (David Gill, 1973)
    5. Child abuse yaitu trauma fisik atau mental, penganiayaan seksual, kelalaian pengobatan terhadap anak di bawah usia 18 tahun oleh orang yang seharusnya memberikan kesejahteraan baginya. (Hukum masyarakat Amerika Serikat mendefinisikan, 1974)
    6. Child Abuse adalah perlakuan salah terhadap fisik dan emosi anak, menelantarkan pendidikan dan kesehatannya dan juga penyalahgunaan seksual (Synder, 1983)
    7. Child abuse adalah sebagai suatu kelalaian tindakan / perbuatan oleh orang tua atau yang merawat anak yang mengakibatkan terganggu kesehatan fisik emosional serta perkembangan anak. (Patricia, 1985)
    8.  Child Abuse adalah penganiayaan, penelantaran dan eksploitasi terhadap anak, dimana ini adalah hasil dari perilaku manusia yang keliru terhadap anak

 

  1. B.     KLASIFIKASI

Perlakuan salah pada anak, menurut sifatnya dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

  1. Penganiayaan fisik

Kekerasan ringan atau berat berupa trauma, atau penganiayaan yang dapat menimbulkan risiko kematian. Yang termasuk dalam katagori ini meliputi memar, perdarahan internal, perdarahan subkutan, fraktur, trauma kepala, luka tikam dan luka bakar, keracunan, serta penganiayaan fisik bersifat ritual.

  1. Penganiayaan seksual

Penganiayaan seksual dapat berupa inces (penganiayaan seksual oleh orang yang masih mempunyai hubungan keluarga), hubungan orogenital, pornografi, prostitusi, ekploitas, dan penganiayaan seksual yang bersifat ritual.

  1. Penganiayaan psikologis

Yang termasuk dalam kategori ini meliputi  trauma psikologik yang dapat menganggu kehidupan sehari-hari seperti ketakutan, ansietas, depresi, isolasi, tidak adanya respons dan agresi yang kuat.

  1. Pengetahuan

Pengabaian disengaja, tetapi dapat juga karena ketidaktahuan atupun akibat kesulitan ekonomi. Yang termasuk dalam kategori ini meliputi:

  1. Pengabaian  nutrisi atau dengan sengaja kurang memberikan makanan, paling sering dilakukan pada bayi  yang berat badan rendah. Gagal tumbuh, yaitu suatu kegagalan dalam pemenuhan masukan kalori serta kebutuhan emosi anak yang cukup.
  2. Pengabaian medis bagi anak penderita suatu penyakit akut atau kronik sehingga mengakibatkan memburuknya keadaan, bahkan kematian.
  3. Pengabaian pendidikan anak setelah mencapai usia sekolah, dengan tidak menyekolahkannya.
  4. Pengabaian emosional, dimana orangtua kurang perhatian terhadap anaknya.
  5. Pengabagian keamanan anak. Anak kurang pengawasan sehingga menyebabkan anak mengalami risiko tinggi terhadap fisik dan jiwanya.
  1. Sindroma munchausen

Sindroma munchausen merupakan permintaan pengobatan terhadap penyakit yang dibuat dengan pemberian keterangan medis palsu oleh orang tua, yang menyebabkan anak banyak  mendapat pemeriksaan/prosedur rumah sakit.

 

 

 

  1. Penganiayaan emosional

Ditandai dengan kecaman/kata-kata yang merendahkan anak, tidak mengakui sebagai anak. Penganiayaan seperti ini umumnya selalu diikuti bentuk penganiayaan lain

 

  1. C.    ETIOLOGI

Perlakuan salah terhadap anak bersifat multidimensional, tetapi ada 3 faktor penting yang berperan dalam terjadinya perlakuan salah pada anak, yaitu:

  1. Karakteristik orangtua dan keluarga

Faktor-faktor yang banyak terjadi dalam keluarga dengan child abuse antara lain:

  1. Para orangtua juga penderita perlakuan salah pada masa kanak-kanak.
  2. Orangtua yang agresif dan impulsif.
  3. Keluarga dengan hanya satu orangtua.
  4. Orangtua yang dipaksa menikah saat belasan tahun sebelum siap secara emosional dan ekonomi.
  5. Perkawinan yang saling mencederai pasangan dalam perselisihan.
  6. Tidak mempunyai pekerjaan.
  7. Jumlah anak yang banyak.
  8. Adanya konflik dengan hukum.
  9. Ketergantungan obat, alkohol, atau sakit jiwa.
  10. Kondisi lingkungan yang terlalu padat.
  11. Keluarga yang baru pindah ke suatu tempat yang baru dan tidak mendapat dukungan dari sanak keluarga serta kawan-kawan.
  1. Karakteristik anak yang mengalami perlakuan salah

Beberapa faktor anak yang berisiko tinggi untuk perlakuan salah adalah:

  1. Anak yang tidak diinginkan.
  2. Anak yang lahir prematur, terutama yang mengalami komplikasi neonatal, berakibat adanya keterikatan bayi dan orangtua yang membutuhkan perawatan yang berkepanjangan.
  3. Anak dengan retardasi mental, orangtua merasa malu.
  4. Anak dengan malformasi, anak mungkin ditolak.
  5. Anak dengan kelainan tingkah laku seperti hiperaktif mungkin terlihat nakal.
  6. Anak normal, tetapi diasuh oleh pengasuh karena orangtua bekerja.
  1. Beban dari lingkungan: Lingkungan hidup dapat meningkatkan beban terhadap perawatan anak.

Penelitian yang telah dilakukan menyatakan bahwa penyiksaan anak dilakukan oleh orang tua dari banyak etnis, letak geografis, agama, tingkat pendidikan, pekerjaan dan social ekonomi. Kelompok masyarakat yang hidup dalam kemiskinan meningkatkan laporan  penyiksaan fisik terhadap anak-anak. Hal ini mungkin disebabkan karena:

  1. Peningkatan krisis di tempat tinggal mereka (contoh: tidak bekerja atau hidup yang berdesakan).
  2. Akses yang terbatas ke pusat ekonomi dan sosial saat masa-masa krisis.
  3. Peningkatan jumlah kekerasan di tempat tinggal mereka.
  4. Hubungan antara kemiskinan dengan faktor resiko seperti remaja dan orang tua tunggal (single parent).

 

  1. D.    MANIFESTASI KLINIS

Anak- anak yang menjadi korban child abuse rata-rata perkembangan psikologis mengalami gangguan.Mereka terlihat murung, tertutup, jarang beradaptasi dan bersosialisasi, kurang konsentrasi, dan prestasi akademik menurun (Hefler, 1976). Studi lain menemukan bahwa anak-anak usia di bawah 25 bulan yang menjadi korban child abuse, skor perkembangan kognitifnya lemah. Hal ini ditandai oleh empat perbedaan perilaku dan perkembangan anak, yakni perbuatan kognitif, penyesuaian fungsi-fungsi di sekolah, perilaku di ruang kelas. Dan perilaku di rumah (Mackner, 1997).

Anak yang berulang kali mengalami jelas pada susunan saraf pusatnya dapat mengalami keterlambatan dan keterbelakangan mental, kejang-kejang hidrosefalus, atau ataksia. Selanjutnya, keluarga-keluarga yang tidak mendapat pengobatan serta perawatan yang memadai cenderung akan menghasilkan anak remaja yang nakal dan menjadi penganiaya anak sendiri pada generasi berikutnya.

Anak yang telah mengalami penganiayaan seksual dapat menyebabkan perubahan tingkah laku dan emosi anak, antara lain depresi, percobaan bunuh diri. Gangguan stress post traumatik, dan penggunaan makan. Seorang anak laki-laki korban penganiayaan seksual di kemudian hari.

Wanita yang secara fisik mengalami kekerasan pada waktu anak-anak akan dua kali lebih tinggi rentan atas penyakit atau gejala kegagalan untuk makan. Sebuah dampak yang membuat para wanita itu ketika beranjak dewasa mengalami masalah dengan mengkonsumsi makanan. Namun dampak yang paling besar dialami adalah akibat perlakuan keras dan pelecehan seksual saat mereka masih gadis. Kekerasan saat kecil memang sudah lama menjadi satu faktor penyebab timbulnya gejala atau penyakit sulit makan seperti anorexia dan bulimia. Gejala bulimia ini pernah dialami oleh mendiang Putri Wales, Putri Diana yang stress akibat perlakuan yang diterimanya. Gejala anorexia dan bulimia hampir terjadi pada semua responden wanita dimana 102 wanita memiliki gejala yang jelas sementara 42 wanita lainnya harus melakukan konsultasi dengan dokter mengenai gejala yang mereka alami. Seorang gadis akan mengalami gejala perlakuan keras semasa kecil. Bahkan resiko itu akan naik tiga hingga  empat kali pada wanita yang mengalami kekerasan fisik dan seksual sekaligus.

 

  1. E.     KOMPLIKASI
    1. Mengalami keterlambatan dan keterbelakangan mental
    2. Kejang-kejang
    3. Hidrocepalus
    4. Ataksia
    5. Kenakalan remaja
    6. Depresi dan percobaan bunuh diri
    7. Gangguan Stress post traumatic
    8. Gangguan makan

 

  1. F.     PEMERIKSAAN PENUNJANG

1.   Laboratorium

Jika dijumpai luka memar, perlu dilakukan skrining perdarahan pada penganiayaan seksual, dilakukan pemeriksaan.

  1. Swab untuk analisa  asam fosfatase, spermatozoa,  dalam 72 jam setelah penganiayaan seksual.
  2. Kultur spesimen dari oral, anal, dan vaginal untuk gonokokus.
  3. Tes untuk sifilis, HIV, dan hepatitis B.
  4. Analisa rambut pubis.
  1. Radiologi

Ada dua peranan radiologi dalam menegakkan diagnosis perlakuan salah pada anak, yaitu untuk:

  1. Identifikasi fokus dari bekas
  2. Dokumentasi

Pemeriksaan radiologi pada anak di bawah usia dua tahun sebaiknya dilakukan untuk meneliti tulang, sedangkan pada anak di atas 4-5 tahun hanya perlu dilakukan jika ada rasa nyeri tulang, keterbatasan dalam pergerakan pada saat pemeriksaan fisik. Adanya fraktur multipel dengan tingkat penyembuhan yang berbeda, merupakan suatu kemungkinan adanya penganiayaan fisik. Ultrasonografi (USG) digunakan untuk mendiagnosis adanya lesi viseral. CTscan lebih sensitif dan spesifik untuk lesi serebral akut dan kronik, hanya diindikasikan pada penganiayaan anak atau seorang bayi yang mengalami trauma  kepala yang berat.

MRI (Magnetic Resonance Imaging) lebih sensitif pada lesi yang subakut.

Pemeriksaan kolposkopi untuk mengevaluasi anak yang mengalami penganiayaan seksual.

 

  1. G.    PENCEGAHAN

Konvensi Magna Carta atau Bill of Rights for Children mencakup banyak ketentuan proteksi dan hak-hak anak sebagai berikut:

  1. Hak kelangsungan hidup dan berkembang
  2. Hak yang menyangkut lama, kebangsaan, dan identitas.
  3. Proteksi anal, dari ekspioitasi  seluruh bentuk kekerasan fisik, mental, dan pengabaian (maltreatment).
  4. Hak untuk mendapatkan pendidikan.
  5. Proteksi anak dari semua bentuk perlakuan salah akibat proses adopsi.
  6. Proteksi dari diskriminasi berdasarkan jenis kelamin.
  7. Hak untuk berpartisipasi.

 

Lembaga Anak Indonesia  menetapkan pendekatan pada penganiayaan dan pengabaian anak atas dasar:

  1. Sasaran jangka pendek dan jangka panjang.
  2. Tujuan dan target yang akan dicapai.
  3. Keterlibatan dokter anak,  ahli hukum, pendidik dan lain-lain.
  4. Perluasan hukum dan pendidikan pada kesejahteraan anak.
  5. Indikator yang dipakai dalam mengevaluasi.
  6. Meningkatkan persiapan dan aktivitas yang dibutuhkan.
  7. Tersedianya fasilitas untuk intervensi.

Peran tenaga kesehatan paling penting adalah dalam upaya pencegahan perlakuan salah pada anak yaitu:

  1. Mengidentifikasi orangtua risiko tinggi yang tidak mampu mencintai, merawat, memelihara, ataupun membesarkan keturunannya dengan memadai.
  2. Penganiayaan dan pengabaian berat dapat dicegah kalau keluarga tersebut mendapat sebuah bentuk perawatan dan pemeliharaan yang mencakup kursus merawat antenatal, persalinan, rawat gabung, kontak orangtua dengan bayi prematur, serta kunjungan dokter dan perawat kesehatan masyarakat yang lebih sering dan petunjuk yang terus menerus dari masing-masing disiplin ilmu.

Pencegahan dan penanggulangan penganiayaan dan kekerasan pada anak merupakan tanggung jawab semua pihak, meliputi :

  1. Pelayanan Kesehatan

Pelayanan kesehatan dapat melakukan berbagai kegiatan dan program yang ditujukan pada individu, keluarga dan masyarakat.

  1. Pendidik

Sekolah mempunyai hak istimewa dalam mengajarkan bagian badan yang sangat pribadi, yaitu penis, vagina, anus, mammae dalam pelajaran biologi. Perlu ditekankan bahwa bagian tersebut sifatnya sangat pribadi dan harus dijaga tidak diganggu orang lain. Sekolah juga perlu meningkatkan keamanan anak di sekolah.Sikap atau cara mendidik anak juga perlu diperhatikan agar tidak terjadi aniaya emosional. Guru juga dapat membantu mendeteksi tanda-tanda aniaya fisik dan pengabaian perawatan pada anak.

  1. Penegak Hukum dan Keamanan

Hendaknya Undang-Undang No. 4 tahun 1979, tentang kesejahteraan anak cepat ditegakkan secara konsekuen. Hal ini akan melindungi anak dari semua bentuk penganiayaan dan kekerasan. Bab II pasal 2 menyebutkan bahwa “anak berhak atas perlindungan terhadap lingkungan hidup yang dapat membahayakan atau menghambat pertumbuhan dan perkembangannya secara wajar.

  1. Media Massa

Pemberitaan penganiayaan dan kekerasan pada anak hendaknya diikuti oleh artikel-artikel pencegahan dan penanggulangannya. Dampak pada anak baik jangka pendek maupun panjang diberitakan agar program pencegahan lebih ditekankan.

 

  1. H.    PENATALAKSANAAN

Karena perlakuan salah pada anak ini merupakan akibat dari penyebab yang kompleks, maka penanganan harus dilakukan oleh suatu tim dari multidisiplin ilmu yang terdiri dari dokter anak, psikiater, psikolog, petugas sosial, ahli hukum, pendidik, dan lain-lain. Seorang anak yang dicurigai mengalami penganiayaan atau pengabaian harus dirumahsakitkan, terlepas dari luas dan hebatnya jejas yang dialaminya. Hal ini dilakukan dengan tujuan  untuk melindungi anak tersebut.

Di Hongkong, Departemen Sosial atau polisi menggunakan Pengadilan Anak-anak untuk melindungi dan merawat anak tersebut. Dengan cara intervensi dari multidiplin ilmu, sekitar 80% dari keluarga mengalami perbaikan meskipun setengahnya memerlukan dukungan dalam jangka lama

 

 

Sumber :

  1. Soetjiningsih,1995
  2. Nanda,2002

ASUHAN KEPERAWATAN CHILD ABUSE

 

  1. A.    PENGKAJIAN
    1. Riwayat keluarga dari penganiayaan anak yang lalu.
    2. Kecelakaan yang berulang-ulang, dengan fraktur/memar/jaringan yang berbeda waktu sembuhnya.
    3. Orang tua yang lambat mencari pertolongan  medis.
    4. Orang tua yang mengaku tidak mengetahui bagaimana jelas tersebut terjadi.
    5. Riwayat kecelakaan dari orangtua berbeda atau berubah-ubah pada anamnesis.
    6. Keterangan yang tidak sesuai dengan penyebab jejas yang tampak atau stadium perkembangan anak.
    7. Orang tua yang mengabaikan jejas utama yang hanya membicarakan masalah kecil yang terus-menerus.
    8. Orangtua berpindah dari satu dokter ke dokter yang lain sampai satu saat akhir bercerita  bahwa ada sesuatu yang salah dengan anak mereka.
    9. Penyakit anak yang tidak dapat  dijelaskan penyebabnya.
    10. Anak yang gagal tumbuh tanpa alasan yang jelas.
    11. Anak wanita yang tiba-tiba berubah tingkah lakunya, menyendiri atau sangat takut dengan orang asing, harus diwaspadai kemungkinan terjadinya penganiayaan seksual.
    12. Pada anak yang lebih tua, mungkin dapat menceritakan jejasnya, tetapi kemudian mengubah uraiannya karena rasa takut akan pembalasan atau untuk mencegah pembalasan orangtua.

 

  1. B.     DIAGNOSA KEPERAWATAN

Menurut NANDA,2002

  1. Resiko trauma berhubungan dengan karakteristik anak, pemberian asuhan dan lingkungan.
  2. Cemas berhubungan dengan perlakuan salah yang berulang-ulang, ketidakberdayaan dan potensial kehilangan orang tua.
  3. Resiko terhadap kerusakan kedekatan orang tua  / anak / bayi berhubungan dengan perlakuan kekerasan
  4. Risiko cidera berhubungan dengan kekerasan fisik (kekerasan orang tua)
  5. Ketakutan berhubungan dengan kondisi fisik / social
  6. Resiko keterlamnbatan perkembangan berhubungan dengan perilaku kekerasan

 

  1. C.    INTERVENSI KEPERAWATAN

Menurut NOC,1997 dan NIC,1996

  1. Dx 1 : Resiko trauma berhubungan dengan karakteristik anak, pemberian

asuhan dan lingkungan.

Tujuan: setelah dialakukan tindakan keperawatan diharapkan tidak terjadi

trauma pada anak

NOC   : Abuse Protection

Kriteria hasil

  1. Keselamatan tempat tinggal
  2. Rencana dalam menghindari kekerasan/ perlakuan yang salah
  3. Rencanakan tindakan untuk menghindari perlakuan yang salah
  4. Keselamatan diri sendiri
  5. Keselamatan anak

Keterangan skala:

1 = tidak adekuat

2 = sedikit adekuat

3 = kadang-kadan adekuat

4 = adekuat

5 = sangat adekuat

NIC: Enviromental Mangemen: safety

  1. Identifikasi kebutuhan rasa aman pasien berdasarkan tingkat fisik, fungsi kognitif dan perilaku masa lalu
  2. Modifikasi lingkungan untuk meminimalkan bahaya dan resiko
  3. Monitor lingkungan dalam perubahan status keamanan
  4. Bantu pasien dalam menyiapkan lingkungan yang aman
  5. Ajarkan resiko tinggi individu dan kelompok tentang bahaya lingkungan
  6. kolaborasi dengan agen lain untuk mengmbangkan keamanan lingkungan

 

  1. Dx 2 : Cemas berhubungan dengan perlakuan salah yang berulang-ulang

ketidakberdayaan dan potensial kehilangan orang tua.

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatandiharapkan rasa cemas anak

dapat berkurang / hilang

NOC   : Kontrol cemas

Kriteria hasil

  1. Monitor intensitas kecemasan
  2. Menyingkirkan tanda kecemasan
  3. Menurunkan stimulasi lingkuangan ketika cemas
  4. Mencari informasi untuk menurunkan cemas
  5. Menggunakan strategi koping efektif

Keterangan skala:

1 = tidak pernah dilakukan

2 = jarang dilakukan

3 = kadang dilakukan

4 = sering dilakukan

5 = selalu dilakukan

NIC     : Penurunan cemas

  1. Tenangkan klien
  2. Berusaha memahami keadaan klien
  3. Temani pasien untuk mendukung keamanan dan menurunkan rasa takut
  4. Bantu pasien untuk mengidentifikasi situasi-situasi yang menciptakan cemas
  5. Dukung penggunaan mekanisme pertahanan diri dengan cara yang tepat
  6. kaji tingkat kecemasan dan reaksi fisik pada tingkat kecemasan
  7. Dx 3  : Resiko terhadap kerusakan kedekatan orang tua  / anak / bayi

berhubungan dengan perlakuan kekerasan

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan

diharapkan tidak terjadi kerusakan kedekatan orang tua / anak / bayi

NOC   : Parenting

Kriteria hasil

  1. Menyediakan kebutuhan fisik anak
  2. Merangsang perkembangan kognitif
  3. Merangsang perkembangan emosi
  4. Merangsang perkembangan spiritual
  5. Menggunakan masyarakat dan sumber lain yang tepat
  6. Gunakan interaksi yang tepat untuk perkembangan emosi anak

Keterangan skala

1 = tidak adekuat

2 = sedikit adekuat

3 = kadang-kadan adekuat

4 = adekuat

5 = sangat adekuat

NIC     : Anticipatory guidance

  1. Kaji pasien untuk mengidentifikasi perkembangan dan krisis situasional selanjutnya dalam efek dari krisis yang ada pada kehidupan individu dan keluarga.
  2. Instruksikan perkembangan dan perilaku yang tepat
  3. sediakan informasi yang realistic yang berhubungan dengan perilaku pasien
  4. tentukan kebiasaan pasien dalam mengatasi masalah
  5. Bantu pasien dalam memutuskan bagaimana dalam memutuskan masalah
  6. Bantu pasien berpartisipasi dalam mengantisipasi perubahan peraturan

 

  1. Dx 4 : Risiko cidera berhubungan dengan kekerasan fisik (kekerasan orang

tua)

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan tidak terjadi

cidera

NOC   : Pengendalian resiko

Kriteria hasil

  1. Pantau factor resiko perilaku pribadi dan lingkungan
  2. Mengembangkan dan mengikuti strategi pengendalian resiko
  3. Mengubah gaya hidup untuk mengurangi resiko
  4. Menghindari cidera fisik
  5. Orang tua akan mengenali resiko dan membantu kekerasan.

Keterangan skala:

1 = tidak pernah menunjukkan

2 = jarang menunjukkan

3 = kadang menunjukkan

4 = sering menunjukkan

5 = selalu menunjukkan

NIC     : Manajemen lingkungan: keselamatan

  1. Monitor lingkungan untuk perubahan status
  2. Identifikasi keselamatan yang dibutuhkan pasien, fungsi kognitif dan level fisik
  3. Modifikasi lingkungan untuk meminimalkan bahaya dan resiko
  4. Gunakan alat-alat pelindung untuk mobilitas fisik yang sakit
  5. Catat agen-agen berwenang untuk melindungi lingkungan

 

  1. Dx 5 : Ketakutan berhubungan dengan kondisi fisik / social

Tujuan : Pasien tidak merasa takut.

NOC   : Kontrol ketakutan

Kriteria hasil

  1. Mencari informasi untuk menurunkan ketakutan
  2. Menghindari sumber ketakutan bila mungkin
  3. Mengendalikan respon ketakutan
  4. Mempertahan penampilan peran dan hubungan social

NIC 1  : Pengurangan Ansietas

  1. Sering berikan penguatan positif bila pasien mendemonstrasikan perilaku yang dapat menurunkan / mengurangi takut
  2. Tetap bersama pasien selama dalam situasi baru
  3. Gendong / ayun-ayun anak
  4. Sering berikan penguatan verbal / non verbal yang dapat membantu menurunkan ketakutan pasien

NIC 2  : Peningkatan koping

  1. Gunakan pendekatan yang tenang, meyakinkan
  2. Bantu pasien dalam membangun penilaian yang objektif terhadap suatu peristiwa
  3. Tidak membuat keputusan pada saat pasien berada dalam stress berat
  4. Dukung untuk menyatukan perasaan, persepsi dan ketakutan secara verbal
  5. Kurangi stimulasi dalam lingkungan yang dapat disalah interprestasikan sebagai ancaman
  6. Dx 6  : Resiko keterlambatan perkembangan berhubungan dengan perilaku

kekerasan

Tujuan : Tidak terjadi keterlambatan perkembangan

NOC   : Abusive behavior self-control

Kriteria hasil

  1. Hindari perilaku kekerasan fisik
  2. Hindari perilaku kekerasan emosi
  3. Hindari perilaku kekerasan seksual
  4. Gunakan alternative mekanisme koping untuk mengurangi stress
  5. Identifikasi factor yang dapat menyebabkan perilaku kekerasan

Keterangan skala:

1 = tidak pernah menunjukkan

2 = jarang menunjukkan

3 = kadang menunjukkan

4 = sering menunjukkan

5 = selalu menunjukkan

NIC     : Family terapi

  1. Tentukan terapi dengan keluarga
  2. Rencanakanstrategi terminasi dan evaluasi
  3. Tentukan ketidakmampuan spesifik dalam harapan peran
  4. Gunakan komunikasi dalam berhubungan dengan keluarga
  5. Berikan penghargaan yang positif pada anggota keluarga
  6. D.    EVALUASI
    1. Dx 1    : Resiko trauma berhubungan dengan karakteristik anak, pemberian

asuhan dan lingkungan.

  1. Keselamatan tempat tinggal
  2. Rencana dalam menghindari kekerasan/ perlakuan yang salah
  3. Rencanakan tindakan untuk menghindari perlakuan yang salah
  4. Keselamatan diri sendiri
  5. Keselamatan anak
    1. Dx 2    : Cemas berhubungan dengan perlakuan salah yang berulang-ulang,

ketidakberdayaan dan potensial kehilangan orang tua.

  1. Monitor intensitas kecemasan
  2. Menyingkirkan tanda kecemasan
  3. Menurunkan stimulasi lingkuangan ketika cemas
  4. Mencari informasi untuk menurunkan cemas
  5. Menggunakan strategi koping efektif
    1. Dx 3  : Resiko terhadap kerusakan kedekatan orang tua/ anak/ bayi

behubungan dengan perlakuan kekerasan

  1. Menyediakan kebutuhan fisik anak
  2. Merangsang perkembangan kognitif
  3. Merangsang perkembangan emosi
  4. Merangsang perkembangan spiritual
  5. Menggunakan masyarakat dan sumber lain yang tepat
  6. Gunakan interaksi yang tepat untuk perkembangan emosi anak
  7. Dx 4    : Risiko cidera berhubungan dengan kekerasan fisik (kekerasan orang

tua)

  1. Pantau factor resiko perilaku pribadi dan lingkungan
  2. Mengembangkan dan mengikuti strategi pengendalian resiko
  3. Mengubah gaya hidup untuk mengurangi resiko
  4. Menghindari cidera fisik
  5. Orang tua akan mengenali resiko dan membantu kekerasan.

 

  1. Dx 5    : Ketakutan berhubungan dengan kondisi fisik / social
    1. Mencari informasi untuk menurunkan ketakutan
    2. Menghindari sumber ketakutan bila mungkin
    3. Mengendalikan respon ketakutan
    4. Mempertahan penampilan peran dan hubungan social
    5. Dx 6    : Resiko keterlamnbatan perkembangan berhubungan dengan perilaku

kekerasan

  1. Hindari perilaku kekerasan fisik
  2. Hindari perilaku kekerasan emosi
  3. Hindari perilaku kekerasan seksual
  4. Gunakan alternative mekanisme koping untuk mengurangi stress
  5. Identifikasi factor yang dapat menyebabkan perilaku kekerasan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Betz, Cicilia. 2002. Keperawatan Pediatric, Jakarta : EGC

Budi Keliat, Anna. 1998. Penganiayaan Dan Kekerasan Pada Anak. Jakarta: FKUI

Gordon et all. 2002. Nanda Nursing Diagnoses. Definition and classification 2001-

2002. Phildelpia : NANDA

Johnson, marion, dkk. 2000. IOWA Intervention Project Nursing Outcomes

Classifition (NOC), Second Edition. USA : Mosby

Mccloskey, joane C.dkk. 1996. IOWA Intervention Project Nursing Intervention

Classifition (NOC), Second Edition. USA : Mosby

Nelson, Soetjiningsih. 1995. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC

Whaley’s and Wong. 1996. Clinic Manual of Pediatric Nursing,4th Edition. USA

: Mosby Company

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s