askep campak

Posted: Juni 2, 2011 in Keperawatan Anak

CAMPAK

 

  1. PENGERTIAN

Campak suatu penyakit akut menular, ditandai oleh tiga stadium : (1) stadium inkubasi sekitar 10-12 hari dengan sedikit jika ada tanda-tanda atau gejala-gejala; (2) stadium prodromal dengan enantem (bercak koplik) pada mukosa bukal dan faring, demam ringan sampai sedang, kongjungtivitis ringan koryza, dan batuk yang semakin berat; dan (3) stadium akhir dengan ruam makuler yang muncul berturut-turut pada leher dan muka, tubuh dan kaki dan disertai oleh demam tinggi.

 

  1. ETIOLOGI

Campak adalah virus RNA dari genus Morbillivirus. Hanya satu tipe antingen yang diketahui. Selama masa prodromal dan selama waktu singkat sesudah ruam tampak, virus ditemukan dalam sekresi nasafaring darah dan urin. Virus dapat tetap aktif selama sekurang-kurangnya 34 jam dalam suhu kamar.

Virus campak dapat diisolasi dalam biakan embrio manusia atau jaringan ginjal kera rhesus. Perubahan sitopatik, tampak dalam 5-10 hari, terdiri dari sel raksasa multinukleus dengan inklusi intranukleur. Antibodi dalam sirkulasi dapat dideteksi bila ruam muncul.

 

  1. INFEKTIVITAS

Penyebab virus maksimal adalah dengan tetes-tetes semprotan selama masa prodromal (stadium kataral). Penularan terhadap kontak rentan sering terjadi sebelum diagnosis kasus aslinya. Orang yang terinfeksi menjadi menular pada hari ke 9-10 sesudah pemajanan (mulai fase prodromal), pada beberapa keadaan seawal hati ke-7. Tindakan pencegahan isolasi terutama di rumah sakit atau institusi lain, harus dipertahankan dari hari ke-7 sesudah pemajanan sampai hari ke-5 sesudah ruam muncul.

 

 

  1. PATOLOGI

Lesi esensial campak terdapat di kulit, membrane mukosa nasofaring, bronkus dan saluran cerna; dan pada kunjungtiva. Eksudat serosa dan proliferasi sel momonuklear dan beberapa sel  polimorfonuklear terjadi sekitar kapiler. Biasanya beberapa sel polimorfonuklear terjadi sekitar kapiler. Biasanya ada hyperplasia jaringan limfoid, terutama pada apendiks, dimana sel raksasa multinukleus berdiameter sampai 100 um (sel raksasa retikuloendotelial Warthin-Fainkeldey) dapat ditemukan. Di kulit, reaksi terutama menonjol sekitar kelenjar sebasca dan folikel rambut. Bercak koplik terdiri dari eksudat serosa dan poliferasi sel endotel serupa dengan bercak pada lesi kulit. Reaksi radang menyeluruh pada mukosa bukal dan faring neluas ke dalam jaringan limfoid dan membrane mukosa mengambil bentuk pneumonia sel raksasa Hecht. Bronkopneumonia dapat disebabkan oleh infeksi bakteri sekunder.

Pada kasus ensefalomielitis yang mematikan, terjadi demielinasi perivaskuler pada daerah otak dan mendulla spinalis. Pada panencephlitis sklerotikans subakut Daqwson (subacute scelerosing panencephilitis [SSPEI]), dapat ada degenerasi kortekw dan substansi putih )alba) dengan benda-benda inklusi iontranuklear dan intrasitoplasmik.

 

  1. MANIFESTASI KLINIS

. Masa inkubasi sekitar 10-12 hari jika gejala-gejala pradromal pertama dipilih sebagai waktu mulai atau sekitar 14 hari jika munculnya ruam yang dipilih; jarang masa inkubasi dapat sependek 6-10 hari. Kenaikan ringan pada suhu dapat terjadi 9-10 hari dari hari infeksi dan kemudian menurun selama 24 jam atau disekitarnya.

Fase pradromal, yang menyertai, biasanya berakhuir 3-5 hari dan ditandai oleh demam ringan sampai sedang, batuk kering, koryza dan konjungtivaitis. Bercak koplik yang hampir selalu mendahului ini, tanda patognomonis campak, pada 2-3 hari. Enantem atau bintik-bintik merah biasanya ada pada palatum durum dan molle. Bercak koplik merupakan bintik putih keabu-abuan, biasanya sebesar butir pasir dengan areola sedikit kemerahan kadang-kadang mereka hemorragik. Mereka cenderung terjadi berhadapan dengan molar bawah tetapi dapat menyebar secara tidak teratur pada mukosa bukal yang lain. Jarang bercak ini ditemukan pada pertengahan bibir bawah, platinum, dan pada caruncula (caruncle) lakrimal. Bercak ini muncul dan menghilang dengan cepat, biasanya dalam 12-18 jam. Ketika mereka menghilang, bintik-bintik perubahan warna merah  mukosa mungkin tetap. Radang kongjungtiva dan fotofobia dapat mengesankan campak sebelum muncul bercak koplik. Terutama, garis melintang radang kongjungtiva, batas tegas sepanjang tepi kelopak mata, mungkin membantu diagnotik pada stadium pradromal. Ketika seluruh kongjungtiva terlibat, garis ini menghilang.

Kadang-kadang, fase pradromal dapat berat, ditunjukkan oleh demam tinggi mendadak, kadang-kadang dengan kejang-kejang semakin bertambah berat sampai waktu ruam telah merata diseluruh tubuh.

Suhu naik mendadak ketika ruam muncul dan sering mencapai 40-40.5 0C (104-1050F). Pada kasus tidak terkomplikasi, ketika ruam muncul pada tungkai dan kaki, pada sekitar 2 hari gejala-gejala menghilang dengan cepat; proses pengurangan biasanya termasuk penurunan suhu mendadak. Penderita sampai saat ini mungkin tampak sangat sakit, tetapi dalam 24 jam sesudah suhu turun mereka pada dsarnya tampak baik.

Ruam biasanya mulai sebagai macula tidak jelas pada sebagian atau lateral leher, dibelakang telinga, sepanjang garis pertumbuhan rambut dan pada bagian posterior pipi. Lesi sendiri-sendiri menjadi semakin makulopapulaer sebagai ruam yang menyebar dengan cepat pada seluruh muka, leher, lengan atas dan bagian atas dada pada sekitar 24 jam pertama. Selama 24 jam berikutnya ruam menyebar keseluruh punggung, abdomen, seluruh lengan, dan paha. Ketika ruam akhirnya mencapai kaki pada hari ke-2, ke-3, ruam ini mulai menghilang dari muka. Hilangnya ruam menuju ke bawah pada urutan yang sama dengan ketika ruam muncul. Keparahan penyakit secara langsung dihubungkan dengan luas dan menyatunya ruam. Pada campak ringan ruam cenderung tidak menyatu, dan pada kasus yang sangat sempurna, termasuk telapak tangan dan kaki, dan muka membengkak dan menjadi jelek.

Ruam sedikit hemorragik; pada kasus berat dengan ruam menyatu, mungkin ada petekie yang luas. Gatal biasanya ringan. Ketika ruam menghilang, deskuamasi seperti kulit padi dan perubahan warna kecoklatan terjadi dan kemudian menghilang dalam 7-10 hari.

Ruam dapat sangat bervariasi. Jarang ruam urtikaria ringan, makuler tidak jelas atau skarlatiniformis dapat tampak selama stadium prodromal awal dan menghilang sebelum ruam khas. Tidak ada ruam sama sekali jarang kecuali pada beberapa penderita yang telah mendapat antibody manusia selama masa inkubasi, pada beberapa penderita dengan infeksi sindrom imunodefisiensi manusia (HIV), dan mungkin pada bayi umur sebelum 8 bulan yang mempunyai kadar antibody ibu cukup besar. Pada campak tipe hemorragik (campak hitam), pendarahan dapat terjadi dari mulut, hidung, atau usus besar. Pada kasus ringan ruam mungkin kurang makuler, dan lebih mendekati ujung jarum (pinpoint), agak menyerupai ruam demam skarlet atau rubella.

Limfonodi pada sudut rahang dan paha daerah servikal posterior biasanya membesar, dan splenomegali ringan dapat dicatat. Limfadenopati mesenterika dapat menyebabkan nyeri perut. Perubahan-perubahan tipe ini cenderung menghilang dengan menghilangnya bercak koplik. Otitis media, bronkopneumonia, dan gejala-gejala saluran cerna, seperti diare dan muntah, lebih pada bayi dan anak kecil (terutama anak malnutrisi) daripada anak yang lebih tua.

Diagnosis campak sering tertunda pada orang dewas karena dokter umum yang memberikan perawatan kesehatan pada orang dewasa biasanya tidak menemukan penyakit dan jarang memasukannya dalam diagnosis banding. Gambaran klinis serupa dengan gambaran klinis yang ditemuan pada anak. Keterlibatan hati, dengan nyeri perut, kenaikan kadar aspartat aminotransferase (AST), dan kadang-kadang ikterus, adalah biasa pada orang dewasa. Di Negara yang sedang berkembang dan pada wabah baru-baru ini di Amerika serikat, campak seringkali terjadi pada bayi yang lebih muda dari 1 tahun; mungkin terjadi malnutrisi ada bersamanya, penyakit sangat berat dan mempunyai mortalitas yang tinggi.

 

  1. KOMPLIKASI.

Komplikasi utama campak adalah otitis media, pneumonia dan ensefalitis. Noma pipi dapat terjadi pada keadaan jarang. Gangren muncul di mana-mana tampak merupakan akibat purpura fulminan atau koagulasi intravaskuler tersebar.

Pneumonia dapat disebabkan oleh virus campak sendiri; lesi adalah interstisial. Pneumonia campak pada penderita dengan infeksi HIV sering mematikan dan tidak selalu disertai dengan ruam. Namun bronkopneumonia lebih sering; bronkopneumonia karena invasi bakteri sekunder, terutama pneumokokus, streptokokus, stafilokokus, dan Haemophilus influenzae. Lringitis, trakeitis, dan bronkitis lazim ada dan mungkin karena virus saja.

Salah satu dari kemungkinan bahaya campak adalah eksarsebasi proses tuberkulosis yang ada sebelumnya. Mungkin juga ada kehilangan hipersensitivitas sementara terhadap tuberkulin.

Miokarditis adalah komplikasi serius yang jarang; perubahan elektrokardigrafi sementara dikatakan relatif sering.

Komplikasi neurologis lebih sering pada campak daripada pada eksantem lain apapun. Insiden ensefalomielitis diperkirakan 1-2/1.000 kasus campak yang dilaporkan. Tidak ada korelasi antara keparahan campak dan keparahan keterlibatan neurologis atau antara keparahan proses ensefalitis inisial  dan prognosis. Jarang, ensefalitis dilaporkan bersama campak yang dimodifikasi oleh gamma globulin, keterlibatan ensefalitis nampak sebelum masa eruptif, tetapi lebih sering mulai terjadi 2-5 hari sesudah munculnya ruam. Penyebab ensefalitis campak tetap kontroversial. Ia dikesankan bahwa bila ensefalitis terjadi pada awal perjalanan penyakit, invasi virus memainkan peran besar, walaupun virus campak jarang diisolasi dari jaringan otak; ensefalitis yang terjadi kemudian terutama demielinasi dan dapat menggambarkan reaksi imunologis. Pada tipe demielinasi ini gejal-gejala dan perjalanannya tidak berbeda dari gejala-gejala dan perjalanan ensefalitis parainfeksi lain. Ensefalitis yang mematikan terjadi pad anak yang sedang mendapat pengobatan imunosupresif untuk keganasan. Komplikasi sistem saraf sentral lain, seperti sindrom Guillin-Barre, hemiplegia, tromboflebitis serebral, dan neuritis retrobulber, jarang ada.Panensefalitis sklerotikans subakut disebabkan oleh virus vampak.

 

  1. PENATALAKSANAAN

Sedatif, antipiretik untuk demam tinggi, tirah baring dan masukan cairan yang cukup dapat terindikasi. Perlemahan ruangan mungkin perlu pada laryngitis atau batuk yang mengiritasi secara berlebihan dan paling baik mempertahankan ruangan hangat daripada dingin. Penderita harus dilindungi dari terpajan pada cahaya yang kuat selama masa fotofobia. Komplikasi otitis media dan pnemonis memerlukan terapi antimikroba yang tepat.

Pada komplikasi seperti ensedalitis, panensefalitis, aklerotikans subakut, pneumonia sel raksasa, dan kongulasi intravaskuler tersebar, setiap kasus harus dinilai secara individual. Perawatan pendukung yang baik sangat penting. Gamma globulin, gamma globulin hiperimun, dan steroid bernilai terbatas. Senyawa antivirus yang tersedia sekarang tidak efektif. Pengobatan dengan vitamin A oral (400.000 IU) mengurangi morbiditas dan mortalitas anak dengan campak berat di Negara yang sedang berkembang.

 

  1. EPIDERMIOLOGI

Campak adalah endemic pada sebagian besar dunia. Dahulu epidemic cenderung terjadi secara regular, tampak pada musim semi di kota-kota besar dengan interval 2 sampai 4 tahun ketika kelompok anak yang rentan terpajan. Campak sangat menular, sekitar 90 % jontak keluarga yang rentan mendapat penyakit. Cmpak jarang subklines. Sebelum penggunaan vaksin campak, puncak insiden pada umur 5-10 tahun, kebanyakan orang dewasa imun. Sekarang di amerika serikat, campak terjadi paling sering pada anak umur sekolah yang belum diimunisasi. Epidermi telah terjadi di sekolah menengah atas dan universitas dimana tingkat imunisasi tinggi. Epidermi ini diduga terutama karena kegagalan vaksin. Walaupun ada kebangkitan kembali campak di Amerika serikat dari tahun 1989-1991, jumlah kasus campak yang dilaporkan turun menjadi rendah pada tahun 1996 mungkin akibat vaksinasi yang luas. Mereka yang lebih dari 30 tahun sebenarnya semua imun. Karena campak masih merupakan penyakit lazim di banyak negara, orang-orang yang infektif masuk Negara ini mungkin menginfeksi masyarakat Amerika Serikat dan wisatawan Amerika yang ke luar negeri berisiko tepajan disana.Banyak kesamaan antara tanda-tanda biologis campak dan cacar member kesan kemungkinan bahwa campak dapat diberantas.

Tanda-tanda ini adalah :

  1. Ruam khas
  2. Tidak ada reservoir binatang
  3. Tidak ada vector
  4. Kejadian musiman dengan masa bebas penyakit
  5. Virus laten tidak dapat ditularkan
  6. Satu serotip
  7. Vaksin efektif

Prevalensi imunisasi bayi lebih dari 90 % terbukti menghasilkan zone bebas penyakit. Pada tahun 1980, tiga perempat dari semua kabupaten di Amerika serikat tidak melaporkan satu kasus campak tetapi pada tahun 1988 jumlah kasus campak semakin bertambah dan penyakit lebih menyebar.

Bayi mendapat imunisasi transplasenta dari ibu yang telah menderita campak atau imunisasi campak. Imunitas ini biasanya sempurna selama umur 4-6 bulan pertama dan menghilang pada frekuensi yang bervariasi. Walaupun kadar antibody ibu secara umum tidak sdapat dideteksi pada bayi dengan uji yang biasa dilakukan sesudah umur 9 bulan, beberapa proteksi menetap, yang menganggu pemberian imunisasi sebelum umur 15 bulan. Kebanyakan wanita usia subur di amerika serikat sekarang mempunyai imunitas campak dengan cara imunisasi bukannya karena sakit. Beberapa penelitian sekarang member kesan bahwa bayi dari ibu dengan imunitas karena vaksin campak kehilangan antibody pasifnya pada umur yang lebih muda daripada bayi dari ibu yang telah menderita infeksi campak. Bayi dari ibu yang rentan terhadap campak tidak mempunyai imunitas campak dan dapat ketularan penyakit ini bersama ibu sebelum atau sesudah melahirkan.

 

  1. DIAGNOSIS.

Ini biasanya dibuat dari gambaran klinis khas; konfirmasi laboratorium jarang diperlukan. Selama stadium prodromal sel raksasa multinuklear dapat diperagakan pada pulasan mukosa hidung. Virus dapat diisolasi pada biakan jaringan, dan diagnostik naik pada titer antibodi dapat dideteksi antara serum akut dan konvalesen. Angka sel darah putih cenderung rendah dengan limfositosis relatif. Pungsi lumbal pada penderita dengan ensefalitis campak biasanya menunjukan kenaikan protein dan sedikit kenaikan limfosit. Kadar glukosa normal.

 

  1.  DIAGNOSIS BANDING

Ruam rubeola (campak) harus dibedakan dari eksantema subitum, rubella, infeksi karena ekovirus, virus koksaki, dan adenovirus, mononukleosis infeksiosa, toksoplasmosis, demam skarlet, penyakit rickettsia, penyakit serum, penyakit Kawasaki dan ruam karena obat.

Bercak koplik adalah patognomosis untuk rubeola, dan diagnosis dari campak yang tidak termodifikasi harus tidak dibuat bila tidak ada batuk.

Roseola infantum (eksantema subitum) dibedakan dari campak di mana ruam dari Roseola infantum tampak ketika demam menghilang. Ruam rubella dan infeksi enterovina cenderung untuk kurang mencolok daripada ruam campak, sebagaimana tingkat demam dan keparahan penyakit. Walaupun batuk ada pada banyak infeksi ricketsia, ruam biasanya tidak melibatkan muka, yang pada campak khas terlibat. Tidak adanya batuk atau riwayat injeksi serum atau pemberian obat biasanya membantu mengenali penyakitr serum atau ruam karena obat. Meningokoksemia dapat disertai dengan ruam yang agak serupa dengan ruam campak, tetapi batuk dan konjungtivitas biasanya tidak ada. Pada meningokoksemia akut ruam khas purpura petekie. Ruam papuler halus difus pada demam skarlet dengan sususan “daging angsa” diatas dasar eritematosa relatif mudah dibedakan.

Ruam yang lebih ringan dan gambaran klinis campak termodifikasi oleh gamma globulin atau oleh imunitas parsial karena vaksin campak, atau pada bayi dengan antibodi ibu, mungkim sukar untuk dibedakan.

 

  1. PROGNOSIS.

Angka kematian kasus di Amerika Serikat telah menurun pada tahun-tahun ini sampai tingkat rendah pada semua kelompok umur, terutama karena keadaan sosioekonomi membaik tetapi juga karena terapi antibakterial efektif untuk pengobatan infeksi sekunder.

Bila campak dimasukkan pada populasi yang sangat rentan, akibatnya mungkin bencana. Kejadian demikian di pulau Faroe pada tahun 1846 mengakibatkan kematian sekitar seperempat, hampir 2000 dari populasi total tanpa memandang umur. Di Ungava Bay, Kanada, dimana 99% dari 900 orang menderita campak angka moralitasnya adalah 7%.

 

  1. IMUNISASI

Imunisai Aktif

Imunisasi campak awal dapat diberikan pada usia 12-15 bulan tetapi mungkin diberikan lebih awal pada daerah dimana penyakit terjadi. Karena angka serokonversi pasca imunisasi tidak 100% dan mungkin ada beberapa makin lama imunitasnya berkurang, imunisasi kedua terhadap campak biasanya diberikan sebagai campak-parotitis-rubella (measles-mumpsrubella [MMR]), terindikasi. Dosis ini dapat diberikan ketika anak masuk sekolah atau nanti pada saat masuk sekolah menengah. Remaja yang memasuki perguruan tinggi harus juga mendapat imunisasi campak yang kedua.

Respon terhadap vaksin campak hidup tidak dapat diramalkan jika telah diberi imunoglobulin dalam 3 bulan sebelum imunisasi. Anergi terhadap tuberkulin dapat berkembang dan menetap selama 1 bulan atau lebih lama sesudah pemberian vaksin campak hidup yang dilemahkan. Anak dengan infeksi tuberkulosis aktif harus mendapat pengobatan antituberkulosis bila vaksin campak hidup diberikan. Uji tuberkulin sebelum aatau bersama  dengan imunisasi aktif terhadap campak lebih disukai.

Penggunaan vaksin campak hidup tidak dianjurkan untuk wanita hamil atau untuk anak dengan tuberkulosis yang tidak diobati. Vaksin hidup merupakan kontraindikasi pada anak dengan leukemia dan pada mereka yang sedang mendapat obat-obat imunosupresif karena risiko infeksi progresif menetap seperti pneumonia sel raksasa. Sesudah pemajanan dari anak yang rentan terhadap campak ini, imunoglobulin campak (manusia) harus diberikan secara intramuskuler dalam dosis 0,25 mL/kg sesegera mungkin. Dosis yang lebih besar dapat dianjurkan pada anak dengan leukeia akut, walaupun pada mereka yang dalam remisi. Anak dengan infeksi HIV harus mendapat vaksin campak karena mortalitas campak tinggi pada kelompok ini dan mereka mentoleransi vaksin dengan baik. Walaupun ada riwayat telah mendapat imunisasi campak, anak ini harus mendapat gamma globulin sesudah pemajanan dengan campak dengan dosis 0,5 mL/kg (maksimum 15 mL). Dosis ini adalah dua kali yang biasa dianjurkan. Vaksin campak dapat diberikan pasca pemaparan terhadap penyakit. Reaksi tidak bertambah, dan campak dapat tercegah.

Penggunaan vaksin virus tidak aktif (mati) tidak dianjurkan.

Imunisasi Pasif. Imunisasi pasif dengan kumpulan serum orang dewasa, kumpulan serum konvalesen, globulin plasenta, atau gamma globulin kumpulan plasma adalah efektif untuk pencegahan dan pelemahan campak. Campak dapat dicegah dengan menggunakan imunoglobulin serum (gamma globulin) dengan dosis 0,25 mL/kg diberikan secara intramuskuler dalam 5 hari sesudah pemajanan tetapi lebih baik sesegera mungkin. Proteksi sempurna terindikasi untuk bayi, untuk anak dengan sakit kronis, dan untuk kontak di bangsal rumah sakit dan lembaga-lembaga anak. Pelemahan mugkin disempurnakan dengan penggunaan gamma globulin dengan dosis 0,05 mL/kg diberikan secara intramuskuler dalam 5 hari sesudah pemajanan tetapi lebih baik, sesegera mungkin. Proteksi sempurna terindikasi untuk bayi, untuk anak dengan sakit dan lembaga-lembaga anak; Pelemahan mungkin disempurnakan dengan penggunaan gamma globulin adalah sekitar 25 kali lebih kuat dalam liter antibody dari pada kumpulan serum dewasa, dan ia mencegah risiko hepatitis. Perlemahan bervariasi dari mereka yang dengan sedikit atau tidak ada gejala sampai mereka yang dengan sedikit sampai hari ke-9, 10, atau 11, sedikit demam mungkin telah mulai dan hanya dapat diharapkan sedikit modifikasi dari penyakit.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN CAMPAK

  1. A.   Pengkajian
    1. Tanyakan pada keluarga atau orang tua tentang riwayat penyakit pada ibu selama masa kehamilan.
    2. Tanyakan pada keluarga tentang imunisasi apa saja yang sudah didapatkan
    3. Tanyakan kepada keluarga tantang lingkungan di sekitar rumahnya
    4. Tanyakan kepada keluarga tentang asupan nutrisi yang diberikan kepada anak.

Pada pengkajian anak dengan campak dapat ditemukan adanya :

–          demam

–          nyeri tenggorok

–          nafsu makan menurun

–          adanya bercak putih kelabu

–          kelemahan pada ekstremitas

–          adanya serumen atau cairan yang keluar dari telinga terjadi apabila ada komplikasi pada telinga

–          apabila pada bronkhus yang dapat menyebabkan bronkhopneumoni dapat dilihat dengan adanya batuki yang meningkat.

  1. Diagnosa Keperawatan
  1. Bersihan jalan nafas tidak efektif  b.d penumpukan secret
  2. Nyeri akut b.d agen injury (nyeri tenggook)
  3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake yang tidak adekuat.
  4. Hipertermi b.d proses penyakit
  5. Kerusakan integritas kulit b.d penurunan imunitas
  6. Resiko penyebaran infeksi b.d organisme purulen

  1. Intervensi

Dx I

Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d penumpukan sekret

 

NOC : Respiratory ststus : Airway patency

Kriteria hasil :

  1. Mendemonstrasikan suara jalan nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan dispneu
  2. Menunjukan jalan nafas yang paten ( irama nafas, frekuensi pernafasan dalam rentang normal, tidak ada suara nafas abnormal)
  3. Mampu mencegah faktor yang menghambat jalan nafas.

 

NIC : Airway management

  1. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
  2. Lakukan fisioterapi dada jika perlu
  3. Keluarkan secret dengan batuk atau suction
  4. Auskultasi suara nafas, catat adanya suara nafas tambahan
  5. Monitor respirasi dan status O2

 

Dx II

Nyeri akut b.d agen injuri (nyeri tenggorok)

 

NOC : Pain level

Kriteria hasil :

  1. Mengenali faktor penyebab
  2. Menggunakan metode pencegahan
  3. Menggunakan metode pencegahan non analgetik untuk mengurangi nyeri.
  4. Menggunakan analgetik sesuai kebutuhan
  5. Menganali gejala – gejala nyeri

NIC 1 : Pain management

  1. Kaji secara komprehensif tentang nyeri meliputi : lokasi , karakteristik dan onset, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas atau beratnya nyeri dan faktor – faktor presipitasi
  2. Observasi isyarat – isyarat non verbal dari ketidaknyamana, khususnya dalam ketidakmampuan untuk komunikasi secara efektif
  3. Gunakan komunikasi terapeutik agar pasien dapat mengekspresikan nyeri
  4. Kontrol faktor – faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon pasien terhadap ketidaknyamanan (ex : temperatur ruangan , penyinaran)
  5. Ajarkan penggunaan teknik nonfarmakologi (misalnya : relaksasi, guided imagery, distraksi, terapi bermain, terapi aktivitas)

NIC 2 : Analgetik administration

  1. Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas, dan derajat nyeri sebelum pemberian obat.
  2. Cek instruksi dokter tentang jenis obat, dosis dan frekuensi
  3. Pilih analgetik yang diperlukan / kombinasi dari analgetik ketika pemberian lebih dari satu.
  4. Tentukan pilihan analgetik tergantung tipe dan beratnya nyeri.

Dx III

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake makanan tak adekuat.

NOC : Status nutrisi

Kriteria hasil :

  1. Stamina
  2. Tenaga
  3. Kekuatan menggenggam
  4. Penyembuhan jaringan
  5. Daya tahan tubuh
  6. Pertumbuhan

NIC 1 : Manajemen nutrisi

  1. Timbang Berat badan
  2. Anjurkan pada keluarga pasien untuk memberikan ASI
  3. Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan vit C
  4. Kolaborasikan dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien.

NIC 2 : Monitoring nutrisi

  1. Monitor turgor kulit
  2. Monitor mual dan muntah
  3. Monitor intake nutrisi
  4. Monitor pertumbuhan dan perkembangan

Dx IV

Hipertermia b.d reaksi inflamasi

NOC : Thermoregulation

Kriteria hasil :

  1. Suhu kulit dalam rentang yang diharapkan
  2. Suhu tubuh dalam batas normal
  3. Nadi dan pernapasan dalam rentang yang diharapkan
  4. Perubahan warna kulit tidak ada

 

NIC : Regulasi suhu

  1. Pantau suhu minimal setiap dua jam, sesuai dengan kebutuhan
  2. Pantau warna kulit dan suhu
  3. Ajarkan keluarga dalam mengukur suhu untuk mencegah dan mengenali secara dini hipertermia
  4. Lepaskan pakaian yang berlebihan dan tutupi pasien dengan hanya selembar pakaian
  5. Anjurkan asupan cairan oral

 

Dx V

Resiko kerusakan integritas kulit b.d ketidakadekuatan sirkulasi perifer, sensori, adanya edema, tekanan, perubahan status metabolik.

 

NOC : Tissue integrity

Kriteria hasil :

  1. Integritas kulit yang baik bisa dipertahankan (sensasi, elastisitas, temperatur, hidrasi, pigmentasi)
  2. Tidak ada luka atau lesi pada kulit
  3. Perfusi jaringan baik
  4. Mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembaban kulit dan perawatan alami.

 

NIC : Pressure management

  1. Anjurkan pasien untuk mengenakan pakaian yang longgar
  2. Hindari kerutan pada tempat tidur
  3. Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering
  4. Mobilisasi pasien secara teratur
  5. Monitor kulit akan adanya kemerahan
  6. Oleskan lotion pada daerah yang tertekan

 

Dx VI

Resiko penyebaran infeksi b.d organisme purulen

NOC :Imune status

Kriteria hasil :

  1. Pasien bebas dari tanda dan gejala infeksi
  2. Menjelaskan proses penularan penyakit
  3. Menjelaskan faktor yang mempengaruhi penularan serta penatalaksanaannya
  4. Menunjukan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi
  5. Menunjukan perilaku hidup sehat

NIC : Infection protection

  1. Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal
  2. Monitor kerentanan terhadap infeksi
  3. Batasi pengunjung
  4. Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap kemerahan, panas dan drainase
  5. Inspeksi kondisi luka / insisi bedah
  6. Dorong masukan nutrisi yang cukup
  7. Dorong masukan cairan
  8. Dorong istirahat

  1. Evaluasi

Dx

Kriteria hasil

Skala

Keterangan skala

I

 

 

 

 

 

 

 

II

 

 

 

 

 

 

 

 

 

III

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

IV

 

 

 

 

 

 

V

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

VI

  1. Frekuensi pernafasan dalam batas normal
  2. Irama nafas sesuai yang diharapkan
  3. Ekspansi dada simetris
  4. Bernafas mudah
  5. Keadaan inspirasi

 

  1. Mengenali faktor penyebab
  2. Menggunakan metode pencegahan
  3. Menggunakan metode pencegahan non analgetik untuk mengurangi nyeri.
  4. Menggunakan analgetik sesuai kebutuhan
  5. Menganali gejala – gejala nyeri

 

  1. Stamina
  2. Tenaga
  3. Kekuatan menggenggam
  4. Penyembuhan jaringan
  5. Daya tahan tubuh
  6. Pertumbuhan

 

 

 

 

 

  1. Suhu kulit dalam rentang yang diharapkan
  2. Suhu tubuh dalam batas normal
  3. Nadi dan pernapasan dalam rentang yang diharapkan
  4. Perubahan warna kulit tidak ada

 

  1. Integritas kulit yang baik bisa dipertahankan (sensasi, elastisitas, temperatur, hidrasi, pigmentasi)
  2. Tidak ada luka atau lesi pada kulit
  3. Perfusi jaringan baik
  4. Mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembaban kulit dan perawatan alami.

 

  1. Pasien bebas dari tanda dan gejala infeksi
  2. Menjelaskan proses penularan penyakit
  3. Menjelaskan faktor yang mempengaruhi penularan serta penatalaksanaannya
  4. Menunjukan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi
  5. Menunjukan perilaku hidup sehat

 

4

 

4

 

5

5

4

 

4

4

 

4

 

 

4

 

5

 

4

5

4

5

5

5

 

 

 

 

 

5

 

5

5

 

5

 

5

 

 

 

5

 

5

5

 

 

 

5

 

5

 

5

 

 

5

 

5

1 : Tidak pernah menunjukan

2 : Jarang menunjukan

3 : Kadang menunjukan

4 : Sering menunjukan

5 : Selalu menunjukan

 

 

 

1 : Tidak pernah dilakukan

2 : Jarang dilakukan

3 : Kadang dilakukan

4 : Sering dilakukan

5 : Selalu dilakukan

 

 

 

 

 

1 : Tidak pernah menunjukan

2 : Jarang menunjukan

3 : Kadang menunjukan

4 : Sering menunjukan

5 : Selalu menunjukan

 

 

 

 

 

 

1 : Tidak pernah menunjukan

2 : Jarang menunjukan

3 : Kadang menunjukan

4 : Sering menunjukan

5 : Selalu menunjukan

 

 

1 : Tidak pernah menunjukan

2 : Jarang menunjukan

3 : Kadang menunjukan

4 : Sering menunjukan

5 : Selalu menunjukan

 

 

 

 

 

 

1 : Tidak pernah dilakukan

2 : Jarang dilakukan

3 : Kadang dilakukan

4 : Sering dilakukan

5 : Selalu dilakukan

 

DAFTAR PUSTAKA

 

A.H. Markum.1991. Buku Ajar Kesehatan Anak. jilid I. Penerbit FKUI

Ngastiyah. 997. Perawatan Anak Sakit.Jakarta: EGC.

Price & Wilson .1995. Patofisologi-Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.Buku 1, Ed.4. Jakarta :EGC.

Soetjiningsih. 1998. Tumbuh Kembang Anak.Jakarta :EGC.

Suriadi,Yuliani,R.2001.Asuhan Keperawatan Pada Anak.Jakarta:PT Fajar Interpratama.

Wong,D.L.2004.Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik, edisi 4. Jakarta:EGC.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s