askep hiperaktif

Posted: Juni 2, 2011 in Keperawatan Anak

 

 

KONSEP DASAR

HIPERAKTIF

A. PENGERTIAN

  • Hiperaktif adalah suatu pola perilaku yang menetap pada seorang anak yang ditandai dengan sikap tidak mau diam, tidak bisa berkonsentrasi dan bertindak sekehendak hatinya atau impulsif.
  • Hiperaktif adalah suatu pola perilaku pada seseorang yang menunjukan sikap tidak mau diam, tidak terkendali, tidak menaruh perhatian dan impulsif (bertindak sekendak hatinya)
  • Gangguan hiperaktivitas atau kurang konsentrasi adalah perilaku yang ditandai dengan kurang konsentrasi, sifat impulsif dan hiperaktivitas.
  • Gangguan hiperaktivitas diistilahkan sebagai gangguan kakurangan perhatian yang menandakan gangguan-gangguan sentral yang terdapat pada anak-anak yang sampai saat ini dicap sebagai menderita hiperkinesis, kerusakan otak minimal atau disfungsi serebral minimal.

 

B. ETIOLOGI

Pandangan-pandangan serta pendapat-pendapat mengenai realitas daripada gangguan ini masih berbeda-beda serta saling dipertentangkan satu sama lainnya, beberapa pandangan mengenai penyebab hiperaktif adalah sebagai berikut :

  • Adanya kerusakan kecil di dalam neurokimia atau neurologi susunan sistem saraf pusat dan otak sehingga rentang konsentrasi menjadi sangat pendek dan sulit dikendalikan
  • Adanya temperamen bawaan, pengaruh lingkungan, malfungsi otak, epilepsi. Dapat juga gangguan dikepala seperti gegar otak, trauma kepala karena persalinan sulit atau kepala pernah terbentur, infeksi, keracunan, gizi buruk, dan alergi makanan.
  • Sindrom tersebut di duga disebabkan  oleh faktor genetic, pembuahan ataupun racun, bahaya-bahaya yang diakibatkan terjadinya prematuritas ataupun immaturitas, maupun ruda paksa, anoksia atau penyulit kelahiran lainnya.
  • Anak hiperaktif biasanya disebabkan dari sikap orang tua yang membesarkan mereka, jika orang tua memakai teknik pengurusan yang tidak efektif, tidak konsisten atau dirumah kurang ada disiplin yang semestinya, seringkali anak berperilaku berlebihan.

 

C. MANIFESTASI KLINIS

Manifestasi klinik yang dapat dilihat pada anak hiperaktif adalah sebagai berikut :

  • Identifikasi awal anak hiperaktif umumnya terjadi pada anak usia taman kanak-kanak atau sekolah dasar. Para guru mereka akan melaporkan bahwa anak tersebut tidak dapat dikendalikan, tidak dapat duduk diam, memasuki ruangan-ruangan serta mengganggu kegiatan anak-anak yang lain, suka ribut dan tidak mempunyai perhatian, tidak bersedia mengikuti petunjuk atau perintah yang diberikan, seolah-olah tidak mendengar, tidak mau belajar dari kesalahan-kesalahan yang diperbuat dimasa lalu serta tidak memberikan tanggapan terhadap peraturan yang ada.
  • Ukuran obyektif tidak memperlihatkan bahwa anak yang terkena gangguan ini memperlihatkan aktivitas fisik yang lebih banyak, jika dibandingkan dengan anak-anak control yang normal, tetapi gerakan-gerakan yang mereka lakukan kelihatan lebih kurang bertujuan serta mereka selalu resah dan gelisah.
  • Mereka mempunyai rentang perhatian yang pendek, mudah dialihkan serta bersifat impulsif dan mereka cenderung untuk bertindak tanpa mempertimbangkan atau merenungkan akibat tindakan mereka tersebut.
  • Mereka mempunyai toleransi yang rendah terhadap perasaan frustasi dan secara emosional suasana hatinya sangat labil, beberapa menit terlihat gembira, mendadak marah-marah dan ngambek serta  mudah terangsang, perhatiannya gampang teralihkan, tidak tahan fustasi, dan kurang dapat mengontrol diri
  • Suasana perasaan hati mereka cenderung untuk bersifat netral atau bertentangan, mereka kerap kali berkelompok, tetapi secara sosial mereka bersikap kaku, bersifat permusuhan dan negatif..
  • Mempunyai gambaran mengenai diri mereka sendiri yang buruk serta mempunyai rasa harga diri yang rendah dan kerap kali mengalami depresi.
  • Mengalami kegagalan dalam akademik dan kadang perkembangan motorik dan bahasanya juga terlambat.seperti : ketidakmampuan belajar membaca, matematika, mengeja serta tulis tangan. Prestasi akademik mereka dapat tertinggal 1-2 tahun dan lebih sedikit daripada yang sesungguhnya diharapkan dari kecerdasan mereka yang diukur.
  • Apa yang dilakukan tidak satu pun diselesaikan, anak cepat sekali beralih dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya.
  • Gejala lainnya, adalah tidak mampu mengontrol gerakan, tidak bisa duduk tenang, bergoyang-goyang, atau merosot hingga terjatuh dari tempat duduk dan sepertinya tidak kenal lelah, seakan energinya digerakan oleh  mesin, kalau anak lain diam karena capek sehabis berlarian, ia paling cuma minum lalu bergerak lagi.

 

Sedangkan menurut Betz, Cecily, 1996 dalam buku Ilmu Keperawatan Anak, terdapat dua macam gejala hiperaktif, yakni gejala kurang konsentrasi dan gejala hiperaktivitas impulsif, adalah sebagai berikut :

  1. Gejala kurang konsentrasi meliputi :
  • Gagal memberi perhatian secara penuh pada hal-hal yang mendetail atau membuat kesalahan sembrono dalam tugas-tugas sekolah, pekerjaan atau aktivitas lainnya.
  • Sering mengalami kesulitan dalam memfokuskan perhatian pada tugas atau aktivitas bermain.
  • Sering tampak tidak mendengarkan bila di ajak bicara langsung.
  • Sering tidak mentaati instruksi dan tidak dapat menyelesaikan pekerjaan rumah,tugas atau pekerkaan ditempat kerja (bukan karena sikap menentang atau karena tidak mengerti intruksi)
  • Sering mengalami kesulitan dalam mengatur tugas-tugas aktivitas
  • Sering menghindar, tidak menyukai atau enggan terlibat dalam tugas-tugas yang memerlukan usaha mental terus-menerus (seperti pekerjaan sekolah atau pekerjaan rumah).
  • Sering kehilangan barang-barang yang diperlukan untuk mengerjakan tugas atau aktivitas (misal : mainan, tugas sekolah, pensil,  buku, atau alat-alat sekolah )
  • Sering mudah terdistraksi oleh stimulus luar.
  • Pelupa dalam aktivitas sehari-hari.
  1. Gejala Hiperaktivitas impulsive, meliputi :
  • Tangan dan kaki sering tidak bisa diam karena gelisah atau menggeliat di tempat duduk.
  • Sering meninggalkan tempat duduk di kelas atau dalam situasi lain atau dalam situasi lain yang seharusnya tidak diperkenankan.
  •  Sering berlarian atau memanjat berlebihan pada situasi yang tidak semestinya.
  • Sering mengalami kesulitan dalam bermain atau terlibat dalam aktivitas dalam waktu senggang dengan tenang.
  • Seing tampak repot atau sering seperti diburu-buru.
  • Bicara sering berlebihan.
  • Sering menjawab pertanyaan tanpa pikir sebelum pertanyaan belum selesai,
  • Sering tidak sabar menunggu giliran.
  • Sering menginterupsi atau mengganggu orang lain (memotong percakapan atau permainan orang lain)

 

D. PATOFISIOLOGI

Tidak ada bukti yang meyakinkan tentang suatu mekanisme patofisiologi ataupun ganguan biokimiawi. Anak pria yang hiperaktif, yang berusia antara 6-9 tahun serta yang mempunyai IQ yang sedang, yang telah memberikan tanggapan yang baik terhadap pengobatan-pengobatan stimulan, memperlihatkan derajat perangsangan yang rendah di dalam susunan saraf pusat mereka, sebelum pengobatan tersebut dilaksanakan, sebagaimana yang berhasil diukur dengan mempergunakan elektroensefalografi, potensial-potensial yang dibangkitkan secara auditorik serta sifat penghantaran kulit. Anak pria ini mempunyai skor tinggi untuk kegelisahan, mudahnya perhatian mereka dialihkan, lingkup perhatian mereka yang buruk serta impulsivitas. Dengan 3 minggu pengobatan serta perawatan, maka angka-angka laoratorik menjadi lebih mendekati normal serta penilaian yang diberikan oleh para guru mereka memperlihatkan tingkah laku yang lebih baik.

 

D. INSIDEN

  1. Penelitian menunjukan insiden gangguan yang lebih tinggi pada anak dengan hubungan biologis derajat pertama dengan orang yang didiagnosis menderita gangguan.
  2. Angka insiden diantara anak usia sekolah adalah 3 % – 5 %.
  3. Insiden lebih tinggi pada individu laki-laki dari pada perempuan,dengan rasio 9:1.

 

E. KOMPLIKASI

  1. Diagnosis sekunder sampai gangguan konduksi, depresi dan penyakit ansietas.
  2. Pencapaian akademik kurang, gagal disekolah, sulit membaca dan mengejakan aritmatika (sering kali akibat abnormalitas konsentrasi)
  3. Hubungan dengan teman sebaya buruk (sering kali akibat perilaku agresif dan kata-kata yang diungkapkan)

 

 

F. PENATALAKSANAAN

  1. 1.      Keperawatan

ü  Pengobatan serta perawatan yang harus dilaksanakan pada anak yang mengalami gangguan hiperaktif ditujukan kepada keadaan sosial lingkungan rumah dan ruangan kelas penderita serta kepada kebutuhan-kebutuhan akademik dan psikososial anak yang bersangkutan, suatu penjelasan yang terang mengenai keadaan anak tersebut haruslah diberikan kepada kedua orang tuanya dan kepada anak itu sendiri.

ü  Anak tersebut hendaklah mempunyai aturan yang berjalan secara teratur menurut jadwal yang sudah ditetapkan dan mengikuti kegiatan rutinnya itu, dan sebaiknya selalu diberikan kata-kata pujian.

ü  Perangsangan yang berlebihan serta keletihan yang sangat hebat haruslah dihindarakan, anak tersebut akan mempunyai saat-saat santai setelah bermain  terutama sekali setelah ia melakukan kegiatan fisik yang kuat dan keras

ü  Periode sebelum pergi tidur haruslah merupakan masa tenang, dengan cara menghindarkan acara-acara televisi yang merangsang, permainan-permainan yang keras dan jungkir balik.

ü  Lingkungan di sekitar tempat tidur sebaiknya diatur sedemikian rupa, barang-barang yang membahayakan dan mudah pecah dihindarkan.

ü  Tehnik-tehnik perbaikan aktif yang lebih formal akan dapat membantu, dengan memberikan hadiah kepada anak tersebut berupa bintang atau tanda sehingga mereka dapat mencapai kemajuan dalam tingkah laku mereka.

  1. 2.      Medis

Terapi farmakologi :

Farmakoterapi kerap kali diberikan kepada anak-anak yang mengalami gangguan hiperaktif. Farmakologi yang sering digunakan adalah dekstroamfetamin, metilfenidat, magnesium pemolin serta fenotiazin. obat tersebut mempunyai pengaruh-pengaruh sampingan yang lebih sedikit. Cara bekerja obat tersebut mungkin sekali adalah dengan mengadakan modifikasi di dalam gangguan-gangguan fundamental pada rentang perhatian, konsentrasi serta impulsivitas. Oleh karena respon yang akan mereka berikan terhadap pengobatan tidak dapat diramalkan sebelumnya, maka biasanya diperlukan suatu masa percobaan klinik, mungkin akan dibutuhkan waktu 2-3 minggu dengan pemberian pengobatan setiap hari untuk menentukan apakah akan terdapat pengaruh obat itu atau tidak.

Dosis:

Obat tersebut diberikan setelah makan pagi dan makan siang, agar hanya memberikan pengaruh yang minimal kepada nafsu makan dan tidur penderita.

  • Metilfenidat : dosis yang diberikan berbeda-beda sesuai dengan usia masing-masing anak akan tetapi berat badan tidak berpengaruh terhadap dosis.pada awalnya mereka diberikan 5 mg pada saat makan pagi serta pada waktu makan siang. Jika tidak ada respon yang diberikan maka dosis di naikan dengan 2,5 mg dengan selang waktu 3-5 hari. Bagi anak-anak yang berusia 8-9 tahun dosis yang efektif adalah 15-20 mg/24 jam. Sementara itu anak yang berusia lebuh lanjut akan memerlukan dosis sampai 40 mg/jam. Pengaruh obat ini akan berlangsung selama 2-4 hari. Biasanya anak akan bersifat rewel dan menangis. Jika pemakaian obat ini sudah berlangsung lama dan dosis yang diberikan lebih dari 20 mg/jam rata-rata mereka akan mengalami pengurangan 5 cm dari tinggi yang diharapkan.
  • Dekstroamfetamin : dapat diberikan dalam bentuk yang dilepaskan (show released) secara sedikit demi sedikit. Dosis awalnya adalah 10 mg dengan masa kerja selama 8-18 jam sehingga penderita hanya membutuhkan satu dosis saja setiap hari, pada waktu sarapan pagi. Dosisnya dalah kira sebesar setengah dosis metilfenidat, berkisar antara 10-20 mg/jam
  • Magnesium pemolin : dianjurkan untuk memberikan dosis awal sebesar 18,75 mg, untuk selanjutnya dinaikan dengan setengah tablet/minggu. Akan dibutuhkan waktu selama 3-4 minggu untuk menetapkan keefektifan obat tersebut. Efek samping dari obat tersebut adalah berpengaruh terhadap fungsi hati, kegugupan serta kejutan otot yang meningkat.
  • Fenotiazin : dapat menurunkan tingkah laku motorik anak yang bersangkutan, efek samping : perasaan mengantuk, iritabilitas serta distonia.

Secara umum efek samping dari pemakaian obat-obatan tersebut diatas adalah anoreksia dan penurunan berat badan,  nyeri perut bagian atas serta sukar tidur, anak akan mudah menangis serta peka terhadap celaan ataupun hukuman, detak jantung yang meningkat serta penekanan pertumbuhan. Jika terjadi hal demikian maka pengurangan dosis atau penghentian pengguanaan obat-obatan perlu dihentikan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ASUHAN KEPERAWATAN

PADA ANAK DENGAN HIPERAKTIF

A. PENGKAJIAN

  1. Kaji riwayat keluarga melalui wawancara atau genogram
  • Tanyakan kepada orang tua mengenai riwayat kesehatan anak terdahulu, apakah anak pernah mengalami trauma ( cedera atau jatuh), bagaimana dengan proses kelahirannya, tanyakan tentang asupan nutrisi yang di berikan kepada anak.
  • Tanyakan kepada orang tua/keluarga apakah ada anggota keluarga lain yang menderita gangguan pusat perhatian atau gangguan mental yang lain.
  1. Kaji riwayat perilaku anak
  • Tanyakan kepada orang tua anak mengenai aktivitas anaknya ; apakah gesit, aktif, banyak menuntut, mempunyai tanggapan-tanggapan yang mendalam dan kuat, apakah mengalami kesulitan dalam hal makan dan tidur.
  • Tanyakan kepada orang tua apakah pertumbuhan dan perkembangan anaknya normal seperti : berdiri, berjalan, berbicara dan kemampuan kognitif lainnya  sesuai dengan tingkat usianya.
  • Kaji riwayat perkembangan anak serta laporan guru mereka tentang permasalahan-permasalahan akademis serta tingkah laku  didalam kelas.

 

B. PEMERIKSAAN FISIK

Pemeriksaan fisik yang biasanya ditemukan pada anak dengan gangguan hiperaktif mencakup :

  • Rambut yang halus
  • Telinga yang salah bentuk
  • Lipatan-lipatan epikantus
  • Langit-langit yang melengkung tinggi serta
  • Kerutan-kerutan telapak tangan yang hanya tunggal saja
  • Terdapat gangguan keseimbangan, astereognosis, disdiadokhokinesis serta permasalahan-permasalahan di dalam koordinasi motorik yang halus.

 

C. PEMERIKSAAN PENUNJANG

v  Tidak ada pemeriksaan laboratorium yang akan dapat menegakan diagnosis gangguan hiperaktif. Anak yang mengalami hiperaktivitas dilaporkan memperlihatkan jumlah gelombang lambat yang bertambah banyak pada elektroensefalogram (EEG). Suatu EEG yang dianalisis oleh komputer akan dapat membantu di dalam melakukan penilaian tentang ketidakmampuan belajar pada anak.

v  Alat-alat berikut ini dapat untuk mengidentifikasi anak-anak dengan gangguan ini.

  • Bebas dari distraksibilitas (aritmatika, rentang anka, dan pengkodean)
  • daftar periksa gangguan (ex: Copeland symptom checklist for attention. Defisit Disorders, attention Deficit Disorders Evaluation Scale)

v  Wechsler Intelligence Scale for Children, edisi 3 (WISC_III) juga sering digunakan, sering terlihat kesulitan meniru rancangan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

D. PATHWAY KEPERAWATAN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

E. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1.   Kerusakan interaksi sosial berhubungan dengan disabilitas perkembangan (hiperaktivitas).

2.   Perubahan proses pikir berhubungan dengan gangguan kepribadian.

3.   Resiko perubahan peran menjadi orang tua berhubungan dengan anak dengan gangguan pemusatan perhatian hiperaktivitas.

4.   Resiko cedera berhubungan dengan psikologis (orientasi tidak efektif)

5.   Resiko keterlambatan perkembangan berhubungan dengan. penyakit mental (hiperaktivitas), kurang konsentrasi.

F. INTERVENSI KEPERAWATAN

DX 1

NOC : Ketrampilan interaksi sosial

Tujuan : Pasien mampu menunjukan interaksi social yang baik.

Kriteria Hasil :

  1. Menunjukan perilaku yang dapat meningkatkan atau memperbaiki interaksi social
  2. Mendapatakan atau meningkatkan ketrampilan interaksi social (misalnya: kedekatan, kerja sama, sensitivitas dan sebagainya).
  3. Mengungkapkan keinginan untuk berhubungan dengan orang lain.

Indicator skala : 1. Tidak ada                               4. Banyak

2. Terbatas                                  5. Luas

3. Sedang

NIC : Peningkatan sosialisasi, aktivitas Keperawatan :

  1. Kaji pola interaksi antara pasien dan orang lain
  2. Anjurkan pasien untuk bersikap jujur dalam berinteraksi dengan orang lain dan menghargai hak orang lain.
  3. Identifikasi perubahan perilaku yang spesifik.
  4. Bantu pasien meningkatkan kesadaran akan kekuatan dan keterbatasan dalam berkomunikasi dengan orang lain.
  5. Berikan umpan balik yang positif jika pasien dapat berinteraksi dengan orang lain.

DX II

NOC : Konsentrasi

Tujuan : Pasien dapat berkonsentrasi secara penuh terhadap obyek atau benda- benda disekitarnya

Kriteria Hasil :

  1. Menunjukan proses pikir yang logis, terorganisasi.
  2. Tidak mudah terganggu / focus terhadap sesuatu
  3. Berespon dengan baik terhadap stimulus.

Indikator skala : 1. Tidak pernah                          4. Sering

2. Jarang                                     5. Konsisten

3. Kadang-kadang

NIC : Pengelolaan Konsentrasi, aktivitas keperawatan :

  1. Berikan pada anak yang membutuhkan ketrampilan dan perhatian
  2. Kurangi stimulus yang berlebihan terhadap orang-orang dan lingkungan dan orang/bebda-benda disekitarnya.
  3. Berikan umpan balik yang positif dan perilaku yang sesuai.
  4. Bantu anak untuk mengidentifikasikan benda-benda disekitarnya seperti, memberikan permainan-permainan yang dapat merangsang pusat konsentrasi.
  5. Kolaborasi medis dalam pemberian terapi obat stimulan untuk anak dengan gangguan pusat konsentrasi.

DX III

NOC : Menjadi orang tua

Tujuan : Orang tua mampu menghadapi kemungkinan resiko yang terjadi  terhadap anak dengan hiperaktivitas.

Kriteria Hasil :

  1. Mempunyai harapan peran orang tua yang realistis
  2. Mengidentifikasi factor-faktor resiko dirinya yang dapat mengarah menjadi orang tua yang tidak efektif.
  3. Mengungkapkan dengan kata-kata sifat positif dari anak.

Indikator skala : 1. Tidak sama sekali                   4. Kuat

2. sedikit                                    5. Adekuat total

3. Sedang

NIC : Peningkatan Perkembangan, aktivitas keperawatan :

  1. Berikan informasi kepada orang tua tentang bagaimana cara mengatasi perilaku anak yang hiperaktif.
  2. Ajarkan pada orang tua tentang tahapan penting perkembangan normal dan perilaku anak.
  3. Bantu orang tua dalam mengimplementasikan program perilaku anak yang positif.
  4. Bantu keluarga dalam membuat perubahan dalam lingkungan rumah yang dapat menurunkan perilaku negative anak.

DX IV

NOC : Pengendalian Resiko

Tujuan : Klien dapat terhindar dari resiko cedera

Kriteria Hasil :

  1. Mengubah gaya hidup untuk mengurangii resiko.
  2. Pasien / keluarga akan mengidentifikasikan resiko yang dapat meningkatkan kerentanan terhadap cedera.
  3. Orang tua akan memilih permainan, memberi perawatan dan kontak social lingkungannya dengan baik.

Indikator skala : 1. Tidak pernah                          4. Sering

2. Jarang                                     5. Konsisten

3. Kadang-kadang

NIC : Mencegah Jatuh, aktivitas keperawatan :

  1. Identifikasikan factor yang mempengaruhi kebutuhan keamanan, misalnya: perubahan status mental, keletihan setelah beraktivitas, dll.
  2. Berikan materi pendidikan yang berhubungan dengan strategi dan tindakan untuk mencegah cedera.
  3. Berikan informasi mengenai bahaya lingkungan dan karakteristiknya (misalnya : naik tangga, kolam renang jalan raya, dll )
  4. Hindarkan benda-benda disekitar pasien yang dapat membahayakan dan menyebabkan cidera.
  5. Ajarkan kepada pasien untuk berhati-hati dengan alat permainannya dan intruksikan kepada keluarga untuk memilih permainan yang sesuai dan tidak menimbulkan cedera.

 

 

DX V

NOC: Child Development

Tujuan: Pasien tidak mengalami keterlambatan perkembangan

Kriteria Hasil:

Anak akan mencapai tahapan dalam perkembangan yaitu tidak mengalami keterlambatan 25 % atau lebih area sosial/perilaku pengaturan diri atau kognitif , bahasa, keterampilan motorik halus dan motorik kasar.

Indikator skala : 1. Tidak pernah menunjukkan    4. Sering

2. Jarang                                     5. Konsisten

3. Kadang-kadang

NIC: Meningkatan Perkembangan

  1. Lakukan pengkajian kesehatan yang seksama (misalnya, riwayat anak, temperamen, budaya, lingkungan keluarga, skrining perkembangan) untuk menentukan tingkat fungsional.
  2. Berikan aktivitas bermain yang sesuai, dukung beraktivitas dengan anak lain.
  3. Kaji adanya faktor resiko pada saat prenatal dan pasca natal.
  4. Berkomunikasi dengan pasien sesuai dengan tingkat kognitif pada perkembangannya.
  5. Berikan penguatan yang positif/umpan balik terhadap usaha-usaha mengekspresikan diri.
  6. Ajarkan kepada orang tua tentang hal-hal penting dalam perkembangan anak.

 

G. EVALUASI

  • Kemampuan interaksi sosial
  • Proses pikir
  • Fokus terhadap sesuatu
  • Respon terhadap stimulus
  • Harapan peran orang tua
  • Mengungkapkan dengan kata sifat positif
  • Gaya hidup untuk mengurangi resiko

PENUTUP

 

 

  1. A.    KESIMPULAN
  • Hiperaktif adalah suatu pola perilaku pada seseorang yang menunjukan sikap tidak mau diam, tidak terkendali, tidak menaruh perhatian dan impulsif (bertindak sekendak hatinya)
  • Hiperaktif dapat disebabkan karena adanya kerusakan kecil di dalam neurokimia atau neurology SSP, factor bawaan, cedera kepala, sikap orang tua yang tidak tepat.
  • Tanda dan gejala anak hiperaktif antara lain anak tidak mau diam, pelupa, sulit mengatur tugas-tugasnya, bicara sering berlebihan, tidak sabar, gelisah, terburu-buru, mengganggu orang lain,dll.

 

  1. B.     SARAN
  • Pengobatan serta perawatan yang harus dilaksanakan pada anak yang mengalami gangguan hiperaktif ditujukan kepada keadaan sosial lingkungan rumah dan ruangan kelas penderita serta kepada kebutuhan-kebutuhan akademik dan psikososial anak yang bersangkutan, suatu penjelasan yang terang mengenai keadaan anak tersebut haruslah diberikan kepada kedua orang tuanya dan kepada anak itu sendiri.
  • Anak tersebut hendaklah mempunyai aturan yang berjalan secara teratur menurut jadwal yang sudah ditetapkan dan mengikuti kegiatan rutinnya itu, dan sebaiknya selalu diberikan kata-kata pujian.
  • Berikan obat yang tepat dengan dosis yang tepat pula sesuai anjuran dokter.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Behrman, Richard E. 1992. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : EGC

Betz, Cecily L. Buku saku Keperawatan Pediatri. Jakarta : EGC

Hidayat, Aziz Alimul. 2005. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak 1. Jakarta: Salemba Medika.

Jhonson, Marion, dkk. 2000. NOC. Jakarta: Morsby.

McCloskey, Cjoane, dkk. 1995.NIC. Jakarta: Morsby.

NANDA. 2006. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda 2005-2006: Definisi dan Klasifikasi. Jakarta: EGC.

Wilkinson, Judith M. 2006. Buku Saku Diagnosa Keperawatan dengan Intervensi NIC dan Kriteria Hasil NOC. Jakarta : EGC.

www. Google. Com. (Hiperaktivitas pada anak).

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s